Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
49. Yohan atau Luhan?


__ADS_3

"Batsyeba," Panggil Lukas pada Salwa yang menoleh padanya.


"Kenapa kamu tiba-tiba memanggil nama kecilku?" Tanya Salwa membawa mangkok kaca berisi sayur yang baru ia masak ke atas meja makan.


"Apa nama itu pemberian dari orangtuamu?" Tanya Lukas menarik kursi untuk duduk.


"Maybe yes, Maybe no!" Sahut Salwa.


"Kenapa begitu?" Tanya Lukas yang mencoba mengulik informasi dari Salwa atas permintaan Wulan setelah menceritakan kisah masa lalu dirinya dengan R noaden dan Dafa.


"Mama Kak Fero menemukannya saat seorang meninggalkanku didepan rumah mereka." Jawab Salwa. "Ada kemungkinan orang yang meninggalkanku yang memberikan nama itu." Sambungnya. "Menurut cerita mama kemungkinan besar yang meninggalkanku hari itu juga bukan kedua orang tuaku." Jelasnya.


"Kenapa mereka bisa berspekulasi seperti itu?" Tanya Lukas yang sesekali melirik kecil kebelakang memastikan Wulan mendengar apa yang di katakan Salwa.


"Di sekujur tubuhku masih ada darah." Jawab Salwa. "Seorang wanita yang baru melahirkan tidak mungkin bisa datang ke tempat pelosok menghantar bayinya sengaja kesana." Sambungnya. "Seorang ayah sangat mencintai putrinya, dia takkan membuang putrinya meski dalam kondisi apapun." Melihat Lukas. "Itu yang dikatakan Mama Kak Fero padaku saat aku mengetahui bahwa mereka bukan orangtua kandungku." Jelasnya membuat Wulan tak bisa menahan diri untuk tidak keluar menghampiri Salwa setelah mendengar semuanya. "Tapi aku rasa mama mengatakan itu agar aku tidak membenci kedua orangtu----"


---Klekk! Potong suara Wulan membka pintu. Ia keluar dengan kedua mata berlinang menatap Salwa.


"Bunda," panggil Salwa menghampiri. "Apa ada yang sakit?" Tanya Salwa melihat kedua mata sembab karna menangis sesaat menceritakan masa lalunya pada Lukas sebelumnya. "Bunda kalau memang masih ada yang sakit lebih baik kita kembali ke ru---"


"---Gak," potong Wulan. "Bunda baik-baik aja," sambungnya.


"Kalau gitu bunda makan dulu ya?" Tawar Salwa yang kemudian memapah Wulan ke meja makan bergabung dengan Lukas. Selang beberapa menit kemudian Bobi datang dari luar dengan barang belanjaannya.


"Bobi ayo ikut makan." Ajak Wulan yang membuat Bobi melihat Lukas dan Salwa bergantian meminta persetujuan untuk bergabung satu meja dengan mereka.


"Boleh Bos?" Tanya Bobi pada Lukas.


"Boleh." Sahut Wulan mendahului membuat Lukas hanya bisa mengendikkan bahunya pada Bobi yang segera menghamburkan diri bergabung di meja.


Saat makan malam berlangsung Wulan dan Salwa saling bergantian menyuap satu sama lain. Sementara Lukas tak bisa mengalihkan sedikitpun pandangannya pada Salwa yang membuat dirinya semakin ingin memilikinya.


Di waktu bersamaan Raden (Dafa Grey) telah membantai seluruh pengawalnya yang telah gagal dalam menjalankan tugas. Semua tewas tertembak dan terkulai di hutan yang berada di halaman belakang.


Bam! Suara Raden membanting pintu yang mengarah ke halaman belakang. Ia meraih botol bir yang ada di lemari untuk diteguk olehnya melampiaskan kekesalan.


Prangg! Melempar botol kosong tepat saat Bams dan lainnya tiba di depan kediaman Prakas.


"Bau apa ini?" Tanya Ronal keluar dari mobil menghirup aroma amis yang datang dari jasad pengawal di depan pintu. "Ckckck!" Decak Ronal dengan menutup hidungnya disusul oleh Bams dan lainnya keluar dari mobil.

__ADS_1


"Tempat apa ini?" Tanya Bams. "Kenapa ada mayat di depan pintu?" Tanyanya lagi yang kaget melihat darah membeku di lantai.


"Apa ini pertama kali kamu kemari?" Balas Ronal melihat kesekitar kediaman Prakas.


"Ya," sahut Bams. "Emang ini rumah siapa? Dan kenapa kamu membawa kami kesini?"


"Ini Rumah Bos." Jawab Ronal mendorong pintu yang sedikit terbuka dan mendapati keadaan di dalam begitu kacau. Satu persatu dari mereka masuk ke dalam mengikuti Ronal yang berada digaris terdepan.


"Kalian sudah datang?" Tegur Raden dari atas tangga membuat Bams dan lainnya kaget kecuali Ronal. Ia menengadah wajahnya ke atas melihat Raden yang kini menuruni tangga menyusul keberadaan mereka. "Bagiamana keadaan Lukas?" Tanya Raden pada Ronal setibanya di bawah. "Apa dia belum sadar juga?" Melirik Bams yang menundukkan kepalanya.


"Belum." Jawab Ronal dengan nada dingin membuat Raden mengalihkan lirikannya pada Ronal yang kemudian menghela nafas sambil mengalihkan pandangan ke genangan darah di pintu.


"Bams!" Panggil Raden.


"Iya Bos." Sahut Bams menegakkan kepalanya.


"Perintahkan anak buahnya membereskan jasad yang ada didepan hingga halaman belakang." Ucapnya. "Aku tak ingin ada setetes darah pun tertinggal." Melihat Bams dan anak buahnya.


"Baik Bos." Sahut Bams yang kemudian menggerakkan anak buahnya membereskan seluruh jasad. Sedangkan Ronal beranjak dengannya ke ruang tengah untuk membahas rencana pemindahan Luhan ke sebuah gedung terbengkalai di pinggir pusat kota.


"Bagaimana dengan peralatan medis yang dibutuhkan?" Tanya Ronal melihat lokasi gedung yang dikirim Raden padannya.


Kita?Heh! Cibir Ronal dalam hati beranjak dari sofa meninggalkan kediaman Prakas dengan melangkah menuju mobilnya.


Brooom! Suara mobil Ronal keluar gerbang. Ia memutar roda kemudian sambil melakukan panggilan ke nomor Luhan yang berbunyi saat Salwa memapah Wulan ke kamar.


"Halo." Sambut Lukas pada Ronal yang menaikkan kecepatannya.


"Ini Aku Ronal." Sahut Ronal dari ujung earphone. "Kamu masih ingat bukan?" Tanya Ronal memastikan perkenalkan mereka sebelumnya di kediaman Kardinata.


"Ya." Jawab Lukas mengeryitkan alisnya sambil melirik keberadaan Salwa yang masih menemani Wulan di kamar. "Ada apa pak detektif menghubungi saya di jam selarut ini?" Tanya Lukas melangkah ke dapur menjauh dari pendengaran Bobi dan Salwa yang berada di kamar berbeda.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan empat mata denganmu." Jawab Ronal. "Aku akan mengirimkan alamatnya padamu." Sambungnya.


"Mengenai apa kalau aku boleh tahu?" Tanya Lukas.


"Kembaranmu." Jawab Ronal.


"Maksudmu Yohan?" Tanya Lukas menaikan salah satu alisnya.

__ADS_1


"Ya." Sahut Ronal melirik kaca spionnya dan mendapati ada sebuah sepeda motor mengikutinya dari belakang. "Apa kamu tahu dia ada dimana sekarang?" Tanya Ronal menyalip mobil yang ada di depannya dengan memberikan sepeda motor mendahului keberadaannya.


"Dia ada di Prancis bersama kakek dan nenekku." Jawab Lukas.


"Prancis?" Sahut Ronal mengernyit.


"Ya." Jawab Lukas. "Kenapa anda tiba-tiba menanyakan keberadaan Yo---"


"---Temui Aku besok sore di alamat yang akan aku kirimkan." Potong Ronal. "Tanpa istrimu." Lanjutnya yang kemudian mengakhiri telpon dan mengirimkan alamat ke nomor Luhan.


Tring! Sebuah pesan baru masuk dari Ronal membuat Lukas membukanya dan melihat alamat rumah sakit dimana Luhan berada.


"Wow!"


"Ada apa?" Tegur Salwa dari belakang mengagetkan Lukas yang dengan sigap berbalik badan menatapnya.


"Tante Wulan udah tidur?" Tanya Lukas mengalihkan pertanyaan Salwa sebelumnya.


"Udah." Jawab Salwa yang merebut ponsel Lukas saat ia lengah. "Apa yang kamu sembunyikan---" Ucapnya terjeda melihat sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan alamat rumah sakit tempat Luhan. "---Siapa?" Sambungnya bertanya pada Lukas yang merebut kembali ponselnya dari tangan Salwa.


"Detektif Ronal." Jawab Lukas mengantongi ponselnya.


"Apa dia tahu kalau---"


"---Bukan." Potong Lukas. "Dia memintaku datang menemuinya besok disana." Sambungnya. "Sepertinya dia berpikir kalau aku itu Yohan saudara kembar Luhan." Ucapnya pelan. "Padahal aku sudah mengatakan kalau Yohan ada di Pran---" Ucapnya terjeda mengingat soft lens dan pakaian Yohan yang pernah ia temukan di kamar Luhan. "---Tunggu!" Sambung Lukas.


"Ada apa?" Tanya Salwa.


"Kita harus kembali ke rumah malam ini." Jawab Lukas meraih kunci mobil dan meminta Bobi untuk tetep tinggal sampai Indri datang.


"Apa yang terjadi?" Tanya Salwa saat keduanya di dalam mobil.


"Salwa." Panggil Lukas menaikkan kecepatan.


"Ya."


"Siapa sebenarnya yang hilang?" Tanya Lukas.


"Eh?"

__ADS_1


"Luhan atau Yohan?" Melihat ke Salwa.


__ADS_2