Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P, 77


__ADS_3

Mobil hitam yang di kendarai oleh Arsen berbelok ke arah rumah nya sendiri. Mengingat jam sekarang ini sudah larut malam, lampu teras mertua nya terlihat sudah padam.


Membuat Arsen memilih untuk pulang kerumah nya, tanpa ingin menganggu kedua mertua nya yang mungkin saja sudah terlelap beristirahat.


Mobil sudah berhenti, dan Eva berniat untuk segera turun dari mobil tersebut.


Baru ingin menyentuh daun pintu mobil milik suami nya itu, kini gerakan tangan Eva terhenti tatkala tangan kekar suami nya menarik lengan nya tiba-tiba.


''Ada apa Mas. ?'' Dahi Eva mengerut, dia belum mengerti apa yang di inginkan oleh suami nya itu.?


''Terimakasih, kamu sudah mau percaya dengan kata-kata aku. Sungguh, aku tadi sudah ketakutan sekali jika kamu marah dan pergi meninggalkan aku, sayang.'' Mencium punggung tangan istri nya berulang kali.


''Aku sangat mencintai kamu lebih dari apa pun itu? Dan aku tidak ingin kehilangan kamu sekaligus calon aku di dalam sini.'' Satu tangan Arsen sebelah kanan mengusap lembut perut istri nya yang sudah terlihat membuncit, meskipun hanya sedikit.


''Masa sih, aku tadi memperhatikan kamu di rumah sakit wajah kamu biasa saja tuh, tidak terlihat frustasi.'' Sindir Eva.


''Karena sejak tadi aku berusaha setenang mungkin, sayang. Sambil menunggu suasana dingin dulu dan juga mereda.''


''Aku gak mau, kalau kamu semakin marah jika aku berbuat yang aneh-aneh di dalam rumah sakit tadi, sayang. Apa lagi di dalam sana banyak orang.? Dan aku tidak ingin menjadi pusat perhatian semua orang khusus nya di depan IGD.''


''Iyain aja lah biar cepat selesai.'' Ucap Eva.


''Kamu masih marah. ? Bukannya tadi kamu sudah memaafkan aku.? Aku janji, lain kali aku tidak akan menyembunyikan sesuatu lagi dari kamu, dan ini yang terakhir kali nya aku berbohong ke pada mu, sayang.'' Ucap Arsen sendu.


''Please maafin aku.'' Mohon Arsen mengecup terus punggung tangan istri nya itu.


Cairan bening sudah menumpuk di pelupuk mata Eva, ketika mengingat kembali atas terbongkar nya kebenaran sang pelaku tabrak lari kala itu, membuat hati Eva kembali sakit dan juga kecewa. ''Jujur, aku, aku sangat kecewa sekaligus cemburu dengan sikap mu itu, mas. Kamu tau kan, kalau aku pernah di selingkuhi. Dan, lebih parah nya lagi dengan satu wanita yang sama saat ini.?''


Tes


''Aku, aku takut Mas jika rasa sakit itu kembali terjadi di dalam hidup ku. Jika kamu masih mencintai mantan kekasih mu itu. Kenapa kamu tidak bilang sedari awal. ? Seenggak nya belum ada rasa cinta di hati ku, senggak nya belum ada janin yang sedang bertumbuh di dalam rahim ku, hiks hiks.''


Arsen memeluk erat istri nya, menghujami sebuah kecupan di seluruh wajah istri nya tanpa make up sedikit pun itu.


''Jangan, berbicara seperti itu! Aku sangat mencintai kalian berdua. ''

__ADS_1


''Ketika aku mengatakan aku mencintaimu, aku tidak mengatakan nya dengan santai. Aku mengatakan nya untuk mengingatkan mu bahwa kamu adalah segalanya bagiku, dan hal terbaik yang pernah terjadi padaku dalam hidup ku."


"Aku selalu dipenuhi dengan rasa suka cita dan kedamaian yang mendalam. Setiap kali memikirkan fakta bahwa kita akan menghabiskan sisa hidup kita dalam pelukan satu sama lain."


''Kamu harus menepati setiap ucapan mu Mas, dulu kamu pernah bilang tidak akan mendua. Dan aku berharap, kamu tidak akan lupa dengan hal itu.'' Lirih Eva di dalam pelukan sang suami.


Eva benar-benar takut, jika dia di khianati yang kedua kalinya nya dengan wanita yang sama.


''Iya, aku tidak akan menduakan kamu, cup.''


''Kenapa bibir mu pucat, sayang. ? Apa ada yang sakit, hmm ?'' Mengusap bibir istri nya terlihat pucat.


Eva menggeleng lemah, ''Hanya pusing kepala, Mas.''


''Sebentar.'' Pesan Arsen, seraya menarik tubuh nya keluar dari dalam mobil.


Ceklek.


''Eiits, mau ngapain. ?''


''Iya, tetapi aku masih bisa ber_____''


''Aku gak mau nanti kamu jatuh pingsan, dengan hal itu membuat kalian berdua dalam bahaya. ''


''Makasih. ''


''Untuk. ''


''Untuk gendongan nya.'' Membuat Arsen tersenyum.


''Sudah menjadi tugas nya seorang suami sayang.''


''Bukain pintu nya dong. !'' Membuat satu tangan Eva bergerak membuka pintu tersebut dengan tubuh nya masih di dalam gendongan sang suami.


Hal itu juga di lakukan mereka berdua ketika sampai di depan pintu kamar mereka berdua.

__ADS_1


''Uuuhg, seperti nya berat badan kamu nambah.'' Bergerak lembut naik ke atas ranjang,


Eva yang mendengarkan hal itu, membuat dia menatap sang suami nya dengan sorot mata tajam nya.


''Ohhh, sekarang aku udah gak langsing lagi ya. Atau kamu mau mencari wanita yang seksi di luaran sana.'' Tuduh Eva marah.


Arsen di buat gelagapan dengan ucapan nya sendiri. ''Hai, aku tadi tidak serius sayang, hanya bercanda.''


''Aku tidak percaya. '' Mengambil satu guling dan satu bantal. ''Tidur di sofa.''


''Ayolah, aku hanya bercanda tidak serius.'' Rengek Arsen.


''Aku gak peduli, pokok nya malam ini kamu tidur di sofa panjang situ.'' Tunjuk Eva, berlalu hilang di balik selimut.


''Dingin, sayang.''


''Ada selimut Mas. ''


''Selimut nya, tidak sehangat kamu, sayang. '' Bujuk Arsen tanpa ingin menyerah, dengan menarik selimut sang istri.


''Pakai selimut dobel Mas.''


''Sama saja, sayang.''


''Beda Mas.''


''Baiklah, malam ini aku mengalah tidur di sofa.'' Pasrah Arsen, menatap sang istri yang tidak bergerak sama sekali untuk mencegah nya di balik selimut tersebut.


''Jangan lama-lama sayang, ! Pengap, kasian dedek nya.''


''Hmm,'' Membuka selimut yang dia pakai, tak lupa menampilkan senyuman tanpa dosa nya.


''Good night, Mas. ''


''Good night, too. '' Jawab Arsen lemas.

__ADS_1


__ADS_2