
Keluarga seperti ranting di pohon. Kita tumbuh di arah yang berbeda namun akar kita tetap satu. Hidup berkeluarga tak selalu berarti bahwa hidupmu selalu terkekang karena kepentingan yang lainnya. Ibarat ranting pada pohon, setiap anggota keluarga boleh saja tumbuh dan bergerak ke arah yang berlainan.
Usai melepas rindu pelukan dari figur seorang Papa, Vio segera berpamitan membersihkan diri. Meskipun tak melakukan apa-apa sepanjang perjalanan. Namun, bau keringat pun tetap menguar dari tubuh nya meskipun bau aroma khas laki-laki yang melekat di tubuh nya.
Menghirup dalam-dalam dengan mata terpejam, seakan Vio di seret kembali di malam suami nya mengambil hak nya secara paksa.
''Bukan nya aku marah, kamu mengambil hak kamu mas. Melainkan aku sedikit kecewa atas perbuatan mu. Mengambil hak kamu seperti wanita malam di luaran sana, bahkan kamu meninggalkan aku di saat keinginan mu sudah selesai.'' Lirih nya, nyaris tak bersuara.
Di kira cukup menumpahkan segala sakit yang kini di rasakan, Vio bergerak cepat meraih handuk kemudian keluar dari kamar mandi tersebut.
Sesampai nya di luar, Vio bergegas menghampiri kotak persegi panjang dengan dua pintu. Mengambil One Set berbahan Rayon Premium yang berwarna Orange. Usai memakai Vio mengambil kerudung dengan warna senada di lemari gantung sebelah lipatan baju nya.
Vio merutuki diri nya sendiri seraya menepuk jidat nya sejenak. ''Ya ampun, aku kan belum sholat dhuhur.'' Keluh nya, membuka kerudung kemudian berlari ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
__ADS_1
Menggelar sajadah nya, lalu menunaikan kewajiban nya empat rakaat dengan begitu khusuk.
Tak lama kemudian pintu kamar Vio di ketuk dari luar, ke menit berikut nya suara terdengar dengan nama nya di sebut.
''Makan siang dulu Vi, sebelum beristirahat. Jangan kebiasaan telat makan terus nanti kamu bisa sakit.!'' Papa Shidiq bersuara dengan nada khawatir di dalam ucapan nya.
''Iya Pa, sebentar lagi.'' Sahut nya membuka mukena di lipat kemudian di simpan di dalam sajadah.
Ceklek.
''Iya gak apa-apa, Papa hanya ingatkan kalau kamu jangan sering menunda makan dan membiarkan perut kamu kelaparan. Tidak baik untuk kesehatan kamu nanti nya.'' Pesan nya berlalu pergi menuju sofa di depan televisi. Melanjutkan sesi tidur siang nya yang sempat terganggu.
...****************...
__ADS_1
Di kota yang berbeda, Lisa berdebat kecil dengan seorang lelaki asing yang ingin membawa nya pergi untuk menemui seseorang. Mengingat jam kerja nya sudah selesai dan saat nya beristirahat makan siang.
Laki-laki yang berkemeja hitam tiba-tiba masuk dan ingin membawa nya pergi menemui tuan nya.
''Eatts, jangan pegang-pegang.!'' Elak nya saat tangan kekar itu ingin menggenggam jemarinya.
Laki-kaki itu meraup wajah nya begitu kasar, mengambil nafas dalam-dalam sambil berpikir. Sudut bibir nya naik ke atas, saat ide cemerlang melintas di benak nya.
Dengan gesit Fares menarik lengan Lisa yang tertutup tanpa menyentuh kulit nya secara langsung. Sedikit memaksa, akhir nya Fares bisa membawa wanita yang di inginkan tuan nya itu keluar dari tempat nya bekerja.
''Bisa lepas gak, aku bisa jalan sendiri ok.'' Pekik nya di sela-sela melepaskan diri, jangan lupakan dengan langkah kaki nya yang terseok-seok Akibat tarikan dan langkah besar laki-laki tersebut.
''Berhenti sekarang juga, aku bisa terjatuh gara-gara tindakan mu seperti ini.'' Lagi dan lagi tidak ada respon dari lawan nya, membuat Lisa mendengus kasar. Seakan ingin mengumpat dan mencaci maki orang yang berani berbuat kasar ke pada nya.
__ADS_1
Tanpa bisa di cegah, jemari kekar itu mencengkram begitu erat lengan nya begitu tiba-tiba. Lisa yang tidak memiliki kesempatan untuk menolak nya. Sehingga membuat Lisa tidak bisa berbuat banyak lagi selain mengikuti langkah kaki tersebut.