
Setiba nya di dalam kamar, Vio bergegas mengambil Sweater milik nya yang bergantung di dalam lemari. Bergerak sedikit terburu-buru, Vio memakai Sweater itu sebelum keluar dari rumah kompensasi perceraian nya itu.
Mengingat sekarang ini musim hujan, bahkan, barusan saja hujan nya baru mereda setelah satu jam di guyur hujan yang sangat deras.
Ekor mata Vio bergulir ke arah jam dinding di dalam kamar nya tersebut. Jam dinding sudah menunjukan pukul delapan malam.
''Pasti sangat dingin.'' Gumam Vio.
Selesai memakai Sweater tebal nan besar yang dia punya, Vio lebih memastikan lagi kesehatan tubuh nya dan juga anak nya kalau di luar rumah nanti.
Di tak ingin, jika nanti calon anak nya kedinginan sampai menusuk tulang.
Ini sudah waktu nya mengakui kesalahan nya. Dan sudah cukup, tiga bulan dia merenungi kesalahan nya yang dia perbuat selama ini.
Dan malam ini dia memutuskan untuk meminta maaf, dengan kedua orang tua Eva. Yang selama ini, sudah menggantikan posisi kedua orang tua nya yang telah tiada.
''Maaf, '' Lirih Vio, mengingat kebaikan keluarga Eva dengan diri nya.
Dret
Satu notif masuk ke dalam ponsel milik Vio tiba-tiba, dengan jemari lincah, Vio membuka pesan itu lalu membaca nya. Dan ternyata pesan tersebut dari mobil taksi yang baru saja dia pesan, dan kini telah tiba di depan rumah nya itu.
Mengambil tas kecil yang berwarna hitam di dalam laci, berlalu keluar dari kamar nya sendiri.
__ADS_1
Ceklek
Sebelum melangkah kan kaki nya turun ke lantai bawah, Vio menatap pintu ruang kerja Juan beberapa waktu dengan kedua mata berkaca-kaca.
''Sangat sulit mempertahankan kamu di sisi ku Mas.'' Batin Vio dengan hati begitu sedih.
''Meskipun ada calon anak kita di dalam kandungan aku, kamu tetap melanjutkan perceraian kita. Meskipun aku sudah mengambil perhatian mu selama tiga bulan belakangan ini, kamu tetap dengan keputusan mu itu.'' Lanjut Vio lagi.
Dengan perlahan pasti, Vio melangkahkan kaki nya turun dan segera menghampiri mobil taksi yang sudah menunggu di depan rumah nya itu.
''Jalan Pak, ke alamat XXX.'' Perintah Vio, seusai duduk di jok belakang.
Penyesalan selalu datang belakangan, begitu kata pepatah bijak.
Penyesalan bisa menyiksa. Mendera batin. Namun, tak banyak orang yang pandai dalam mengungkapkan rasa penyesalan. Padahal, memendam penyesalan sendiri justru akan makin memberatkan mu.
Hal ini yang di rasakan oleh Vio selama tiga bulan mengurung diri di dalam kamar nya.
''Neng gak apa-apa. ?'' Tegur Sang supir taksi.
Vio baru menyadari, kalau lagi di perhatikan oleh sang supir taksi, Vio memalingkan wajah ke arah lain. lalu, bergegas mengusap air mata nya dengan sedikit kasar.
''Hanya kelilipan Pak.'' Bohong Vio menampilkan senyuman terbaik nya. Dan tentu saja hal itu, sang supir taksi tak mudah percaya begitu saja.
__ADS_1
''Kalau neng mau menangis atau curhat, boleh kok bercerita sama bapak. Karena bapak juga memilki putri seusia neng.'' Tersenyum hangat menatap Vio, hal itu bisa di lihat melalui pantulan kaca.
''Terima kasih, tawaran nya Pak. '' Balas Vio dengan tersenyum juga.
Sang supir taksi mengangguk cepat, tak lupa memberikan senyuman hangat sosok seorang ayah ke arah Vio. .
''Terkadang hidup memang begitu neng, apa yang kita inginkan belum tentu menjadi kenyataan.? Dan juga sebalik nya, apa yang kita tak menginginkan nya. ? Hal itu justru berada di lingkaran kita.''
''Iya, itu memang benar Pak.''
''Lurus atau belok ini neng.?'' Melirik ke arah jok belakang.
''Lurus, dan sedikit lagi udah sampai Pak.!'
''Ok, neng.''
''Benar ini neng rumah nya. ?''
''Iya Pak, dan ini uang nya, makasih sudah antarkan aku dengan selamat.'' Menarik tubuh nya keluar dari dalam mobil.
''Hati-hati di jalan Pak. !'' ucap Vio.
Sang supir mengangguk, lalu melajukan mobil nya pergi menjauh.
__ADS_1
Kemudian, Vio menatap bangunan rumah yang dulu dia tempati selama tujuh tahun dengan perasaan rasa bersalah nya.