Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P, 91


__ADS_3

Dengan lembut, ibu jari Juan menghapus buliran bening calon istri nya yang sejak dari tadi tak henti-henti nya untuk menangis.


''Sudah, jangan terlalu kamu pikir kan soal itu. ! Kamu pasti nya sudah tau bukan, cerita Aku dahulu bersama Vio. Aku sama dia melakukan hal itu bukan karena cinta melainkan karena nafsu. Bukan salah aku juga, jika dia mengartikan hal itu semua mengarah ke arah cinta.'' Ungkap Juan jujur, memang kenyataan nya seperti itu. Dia lelaki normal, di hadapkan oleh tubuh yang menggoda membuat dia mudah tergoda.


Tetapi dengan urusan cinta, dia lebih memilih mencintai Eva Saputri, ketimbang Vio. Meskipun Eva yang tak pernah memakai pakaian super-super seksi seperti Vio. Namun, daya tarik untuk memikat kaum laki-laki sangat lah kuat. Eva juga sosok wanita yang sangat lembut, baik, cantik dan juga keibuan membuat Juan sangat sulit untuk move on dari nya.


''Tetap aja Mas, aku tak tega melihat dia seperti tadi. Apa Mas yakin, tidak ingin memberikan mbak Vio kesempatan sekali lagi. ?'' Ucap Nadin, dengan nada kalimat yang terakhir begitu berat untuk di ucapkan.


Posisi nya mereka berdua saat ini berada di pinggir jalan yang cukup sepi, karena tidak ada kendaraan mobil yang banyak melintas.


Seusai keluar dari dalam kantor polisi, Juan menepikan mobil nya di pinggir jalan yang cukup sepi. Dia tidak bisa fokus menyetir, ketika melihat calon istri nya diam-diam menangis seraya menatap luar jendela.


''Untuk apa, Aku menceraikan nya, Nadin sayang. ?Jika Aku masih ingin hidup bersama dia.'' Juan mendengus kesal, kenapa aku harus memberi kesempatan kedua untuk mantan istri nya itu. Dan itu rasa nya tidak mungkin, mengingat pernikahan bersama Vio dulu membuat nya sering emosi.


''Aku hanya ingin membuka lembaran baru bersama kamu, Nadin, tidak dengan yang lain nya.'' Tegas nan dingin.


''Ta________''


''Stop, Aku tidak ingin berdebat dengan kamu hari ini Nadin.'' Sentak Juan, mulai menghidupkan kembali mesin mobil nya setelah berhenti hampir satu jam.


Seusai pertengkaran kecil yang barusan terjadi, Juan dan Nadin masih enggan untuk kembali mengeluarkan suara nya masing-masing.


Ekor mata Juan melirik sekilas ke arah Nadin. ''Kita mampir ke baby shop dulu, setelah itu kita baru datang ke rumah adik aku, karena Aku belum sempat membelikan hadiah untuk ponakan tampan Aku yang baru lahir.''


Hmm

__ADS_1


Juan melirik lagi ke arah Nadin untuk beberapa waktu, ketika mendengar balasan singkat dari calon istri nya itu.


''Marah.''


Dengan cepat, Nadin menggeleng kuat.


''Terus, kenapa diam. ?''


''Aku capek.''


Terdengar hembusan nafas pajang dari indra pernafasan dari Juan.


''Jangan sampai pernikahan kita batal gara-gara Vio, Nadin.! Karena Aku tidak mau hal itu terjadi. ''


''Apa kamu tidak mendengar apa yang Aku ucapkan, Nadin.?'' Sentak Juan, sedikit tersulut emosi.


Nadin sedikit terkejut, langsung membuka kembali kedua kelopak mata nya yang belum sempat tertutup rapat dengan sempurna.


''Iya, Aku mendengar nya Mas Juan. '' Jawab Nadin, dengan nada rendah. Ke jadian hari ini dia sudah pusing kepala nya. Dan dia tidak ingin menambah pertengkaran lagi dengan calon suami nya itu.


...****************...


Kantor polisi.


Lisa hanya bisa memandang punggung bergetar sahabat nya itu. Dengan Wajah yang di tenggelamkan diantara ke dua lutut nya.

__ADS_1


Bukan nya dia tak ingin menenangkan sahabat nya itu, namun dia hanya memberi ruang sendiri bagi Sahabat baik nya itu.


Dua puluh menit berlalu.


Lisa bergerak pelan duduk di samping Vio menangis. Dengan lembut, tangan Lisa mengusap punggung Vio yang mulai sedikit tenang.


''Cerita lah dengan ku, jangan kamu simpan sendiri.! Kita berdua kan sahabat, karena sahabat kamu boleh berbagi masalah mu dengan ku.' Bujuk Lisa dengan nada lembut.


Vio mendongakkan kepala nya, lalu menoleh ke arah Lisa yang sedang tersenyum manis menatap ke arah nya.


Kemudian tangan Lisa bergerak lembut menghapus sisa air mata Vio dengan ibu jari nya.


''Jangan menangis terus Vi. ! Coba kamu lihat, wajah kamu semakin jelek.'' Kelakar Lisa.


Vio memperlihatkan undangan pernikahan mantan suami nya dengan Nadin. ''Mas Juan sudah mendapatkan wanita lain Lis, dia tidak memberi aku kesempatan untuk masuk ke dalam hati nya lagi.''


Lisa membaca undangan pernikahan itu sejenak. ''Oh, tamu yang mengunjungi mu tadi itu mantan suami kamu dengan calon istri nya.'' Membuat Vio mengangguk cepat.


''Mereka berdua sangat serasi, yang satu tampan, yang satu sangat cantik.'' Puji Lisa, membuat Vio mencabik bibir nya kesal.


Lisa terkekeh geli, ''Tenang aja, setelah keluar dari sini kita masih bisa mencari laki-laki yang tampan dari mantan suami ini.'' Seloroh Lisa lagi, membuat Vio menghela nafas panjang nya.


''Aku sudah tak berniat mencari laki-laki lagi, apa lagi untuk menikah.? Lebih baik Aku hidup sendiri, tanpa ada yang menganggu nya.''


''Ide mu tidak terlalu buruk, baiklah, setelah kita keluar dari sini. Kita bisa menjadi partner mencari kebahagiaan nanti.''

__ADS_1


__ADS_2