Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
55. Luhan sebenarnya


__ADS_3

Lukas mengakhiri panggilannya dengan Bobi dan menaikkan kecepatannya menuju kediaman Kardinata.


Brooom! Dua jam berlalu gerbang megah terbuka. Lukas disambut oleh pengawal yang bertugas mengawasi keberadaan Madam Vero (Valen Grey).


"Bagaimana keadaan keadaan wanita tua itu sekarang?" Tanya Lukas berjalan di dampingi dua pengawal menuju ruang bawah tanah.


"Dia menolak untuk makan dan berusaha kabur tadi malam dari penjagaan,Tuan." Jawab salah satu pengawal membukakan pintu besi yang mengarah ke tempat keberadaan Madam Vero disekap.


Tap tap tap! Suara langkah kaki Lukas menuruni anak tangga besi menghampiri Madam Vero yang memberontak di kursinya. Sementara pengawal berdiri berjaga di balik pintu.


"Valen Grey," panggil Lukas sambil melemparkan kertas yang dia bawa dari dokumen sebelumnya ke wajah Madam Vero. "Haruskah Aku memanggilmu Oma?" Cibir Lukas mencengkram wajah Valen membuatnya menengadah ke atas.


Srakkk! Suara Lukas menarik ikatan kain yang membungkam mulu Valen Grey.


"Berhenti berakting didepanku." Ucap Valen. "Aku tahu kamu bukan Luhan." Cibirnya. "Luhan sudah mati menyusul Pria yang telah membuatku seperti ini." Jelasnya yang terus berusaha melepaskan tangannya dari ikatan yang menguncinya di kursi.


"Apa dia Gerald?" Tanya Lukas membungkukkan tubuhnya menatap Valen yang terkejut mendengarkan nama yang Lukas temukan pada dokumen dalam amplop. "Apa kamu sedang menyalahkan opaku terhadap semua yang terjadi padamu?" Cibirnya.


"Ya." Jawab Valen. "Dia mencampakkanku begitu saja setelah---"


"---Setelah Gerald Kardinata menemukan istrinya yang telah kamu sekap,bukan?" Potong Lukas yang telah mendapatkan seluruh informasi dari dokumen yang disembunyikan Luhan seorang diri selama ini. "Kamu menggoda Gerald dengan sengaja membuat Omaku!" Mencengkram wajah Valen keatas. "Salah paham dan ketika Oma melarikan diri kamu malah menangkapnya dan menyembunyikan dari Gerald Kardinata." Sambungnya. "Kemudian kamu memanfaatkan kesedihan Gerald dengan menghasutnya untuk menghentikan pencarian pada istrinya." Jelasnya menepis wajah Valen. "Kamu bahkan melakukan segala cara mensabotase tes DNA Dafa agar Gerald memberikan seluruh Emperal grup pada anak yang tak memiliki hubungan darah sekali pun." Tekannya. "Dan setelah Gerald berhasil menemukan niat jahatmu ia mendepakmu dan Dafa keluar dari Indonesia." Lanjutnya. "Tapi siapa sangka wanita sepertimu berhasil memanipulasi James Prakas dan Putranya Raden Prakas." Bicara sinis. "Dengan menggunakan wajah dan status Raden Prakas, kamu dan Putramu kembali merangkak ke kediaman Kardinata." Ucapnya menyatukan potongan puzzle informasi yang ia temukan selama menjadi Luhan,suami pengganti untuk Salwa.

__ADS_1


Prokk prokk prokk! Suara Lukas bertepuk tangan untuk Valen yang kemudian mengangkat wajahnya dengan menyeringai tipis.


"Wow!" Puji Valen. "Aku tak menyangka Yohan yang telah membantuku menyingkirkan saudara kembarnya semakin pintar." Ucap Valen membuat Lukas tercengang sesaat. "Apa kamu pikir bisa menjadi seperti Luhan?" Cibirnya. "Heh! Luhan adalah yang terbaik! Akan selamanya seperti itu! Ayahmu dan Ibumu yang cantik itu hanya memanfaatkanmu untuk melepas kerinduannya pada Luhan, putra mereka yang jenius." Terang Valen yang berusaha memancing kecemburuan untuk Yohan terhadap Luhan. "Lihat, pada akhirnya tidak ada yang tahu seperti apa Yohan." Ejeknya membuat Lukas tak tahan dan melayangkan tamparan ke wajah wanita tua itu. Dan meminta pengawal untuk mengawasinya kembali tanpa memberikan setetes air pun.


Bam! Suara Lukas menutup pintu kamarnya. Ia memikirkan perkataan Valen yang mengenali dirinya sebagai Yohan bukan Luhan.


"Apakah selama ini Yohan hidup menjadi Luhan?" Tanya Lukas menatap kembali softlens yang ia temukan dan foto Yohan yang menggunakan kacamata didepan piano. "Jika selama ini Yohan menjalani hidup menjadi Luhan, lalu dimana Luhan yang sebenarnya?" Melihat pantulan dirinya dalam cermin. "Mungkinkah a---"


----Kringgg! Potong suara dering ponsel membuat Lukas terjaga dari pikirannya. Ia melihat sebuah panggilan masuk dari Ronal.


"Halo." Sambut Lukas.


"Apa yang ingin aku lakukan untukmu?" Tanya Lukas melihat sekitar kamarnya berharap ia menemukan sesuatu untuk memastikan keberadaan Yohan dan Luhan sebenarnya.


"Tes DNA." Jawab Ronal. "Aku telah menyimpan beberapa helai rambut pria yang memiliki wajah sama denganmu." Sambungnya melangkah dengan melihat ke sekitar. "Aku harap kamu mau melakukannya demi keselamatan pria ini." Pintanya.


Ada apa dengannya? Bukankah dia rekan dari Dafa Grey selama ini. Batin Lukas terdiam.


"Luhan," panggil Ronal dari ujung telpon. "Apa kamu masih mendengarku?" Tegur Ronal melihat sekelompok berbaju hitam keluar dari mobil.


"Ya." Sahut Lukas.

__ADS_1


"Kita tidak punya banyak waktu lagi." Ucap Ronal bersembunyi dari kelompok pria berotot yang memasukkan Luhan dalam bak mobil. "Aku telah mengirimkan helai rambut kekediaman Kardinata." Sambungnya. "Pastikan kamu menerimanya." Perintahnya.


"Okey, ada yang lain?" Tanya Lukas.


"Temukan keberadaan sebuah kalung milik Luhan." Jawab Ronal. "Aku akan mengirimkannya setelah mendapat foto terakhir Luhan saat menghilang 20 tahun lalu." Sambungnya. "Seseorang akan mengirimkannya padaku ha---"


"---Ronal!" Potong Bams meneriakinya terdengar dari ujung telpon Lukas.


"Luhan, Aku harus segera pergi sekarang." Desis Ronal. "Pastikan kamu melakukan apa yang aku katakan sebelumnya." Ucapnya yang kemudian mengakhiri panggilan sebelum Bams menyadarinya.


"Kalung?" Tanya Lukas yang kemudian membuka kembali satu persatu laci di kamarnya. Selang beberapa menit ia berbalik badan keluar kamar dan melangkah menuju ruang tengah tempat semua foto kecil Luhan dan Yohan terpajang.


"Ada yang bisa saya bantu,Tuan?" Tegur pelayan menghampiri Lukas yang memeriksa setiap balik bingkai foto.


"Sedikit berdebu," jawab Lukas memberikan bingkai foto ditangannya pada pelayan. "Tolong kamu bersihkan." Pintanya mengalihkan perhatian pelayan akan gelagat dirinya kembali memperhatikan satu persatu foto lainnya. Namun Lukas sama sekali tidak menemukan apapun hingga pelayan selesai membersihkan debu dari semua foto di depannya.


"Apa masih ada lagi,Tuan?" Tanya pelayan menoleh pada Lukas yang menggelengkan kepalanya sambil berbalik badan membelakangi pelayan. Ia melangkah kearah teras yang menghadap pada lapangan golf dan seketika pikirannya teringat akan kalung miliknya. Kalung yang berada dalam genggaman Alex saat menghembuskan nafas terakhirnya.


Tring! Sebuah pesan baru masuk membuyarkan pikiran Lukas. Ia membuka pesan yang berasal dari Ronal. Sebuah pesan menampilkan gambar seorang anak dengan wajah yang mirip dengan Luhan dan Yohan. Lukas memperhatikan dengan detail dan menemukan sebuah kalung menggantung di lehernya. Kalung itu memiliki liontin sama dengan yang di miliki Lukas.


"Bagiamana mungkin?" Tanya Lukas yang melangkah menuju kamarnya. Ia mengambil kalung miliknya dari dalam persembunyian dan menyocokkannya dengan yang ada di dalam foto. "Aku adalah Luhan yang sebenarnya!" Tercengang melihat liontin inisial L ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2