
Malam yang sunyi dan hening juga bisa jadi waktu perenungan.
Perenungan sangat dibutuhkan untuk pengendalian diri dan melepaskan segala beban pikiran. Melepaskan beban pikiran di malam hari membuat kita bersiap menyambut pagi hari.
''Belajarlah untuk hening, saat semua orang berteriak dengan ego masing-masing." Lirih Vio.
Definisi ego adalah diri pribadi atau konsepsi individu tentang dirinya sendiri. Definisi egois adalah orang yang selalu mementingkan diri sendiri.
Sedangkan Cinta Fokus Pada Pasangan, Ego Fokus Pada Diri Sendiri.
''Apa kamu yakin akan tidur di sofa panjang itu. ? Sedangkan ranjang kamar ku ini masih tersisa luas walaupun di isi dengan tubuh kecil mu itu.''Ungkap Galen, usai meminum obat yang di tebus oleh sang istri Ciara, dan pasti nya bubur yang di buatkan oleh Bibi juga sudah tak tersisa di dalam mangkuk.
''Hmmm, sofa ini tidak terlalu buruk untuk ku.'' Jawab nya lalu merebahkan tubuh nya di atas sofa tersebut.
Diam-diam Galen menghela nafas panjang, meraih perhatian dari istri kedua nya itu memang sulit, dan Galen akui itu.
Jam dinding terus berputar, mulai dari detik, menit, hingga satu jam dua jam telah berlalu dan malam semakin berlarut.
Bunga tidur yang menghiasi mimpi Vio membuat dia tertidur sangat pulas. Namun, hal itu hanya beberapa waktu saja. Karena suara rintihan di ruang hening tersebut menarik Vio dari alam mimpi nya.
''Dingin.'' Suara Galen mengigau, dengan Gerakan tubuh gelisah.
__ADS_1
Dengan berat hati dan juga berat mata, Vio mencoba bergerak bangun, menguap lalu menghampiri laki-laki yang berstatus suami nya itu yang berada di atas ranjang.
Melihat kondisi tidur sang suami nya itu, dengan posisi tubuh meringkuk dan bergetar tanpa selimut. Membuat Vio melirik benda pendingin ruangan tersebut
Tanpa izin, Vio mengecilkan suhu AC di kamar itu, kemudian menarik selimut hingga atas dada suami nya.
Insting, Vio menggunakan insting yang dulu pernah dia rasakan di saat posisi yang sama.
''Shhht Dingin.'' Gumam Galen lagi.
Sedikit tidak tega, dan masih memiliki hati yang nurani. Vio berinisiatif untuk membuatkan sesuatu yang hangat untuk laki-laki yang berstatus suami nya.
...****************...
Sesampai di dalam kamar yang berada di lantai tiga, Vio meletakkan nampan yang berisi teh hangat dan sebotol air hangat di atas nakas tepat di sisi ranjang.
Menarik nafas sejenak, sebelum membangunkan tuan Galen yang seperti nya sudah nyaman dalam tidur nya.
''Apa aku harus membangunkan nya. ? Dan seperti nya dia sudah terlihat sangat nyaman dalam tidur nya.'' Gumam Vio yang bingung sendiri antara membangunkan nya atau tidak.
Menatap isi nampan yang baru saja dia letakan di atas nakas dengan perasaan bingung dan juga bimbang.
__ADS_1
Mubazir, satu kata yang terlintas di kepala Vio sekarang ini.
Atensi Vio teralih ketika ada pergerakan dari Tuan Galen, Membiarkan sejenak sebelum dia menawarkan teh yang baru aja dia buat.
Kedua kelopak mata itu berusaha terbuka dengan sempurna, seketika bola mata mereka bertemu sesaat.
''Apa kamu ingin minum. ? Hmm, kebetulan tadi saya tak sengaja membuatkan kamu teh hangat dan membawakan kamu sebotol air hangat dari dapur.'' Ungkap nya, seraya menyentuh tengkuk nya yang tak gatal.
''Duduk lah, jangan berdiri terus.!'' Kemudian Galen menoleh ke arah samping, dan benar saja di atas nakas ada secangkir teh dan sebotol air putih.
''Kapan kamu membuat nya. ?'' Tanya nya seraya bangun dari tidur nya dan bersandar di Headboard.
''Barusan, kepalaku masih sedikit pusing, bisa kamu ambilkan. !''
Vio mengangguk, ''Ini.''
''Terima kasih.'' Ucap nya langsung meminum teh tersebut.
''Ini lebih baik. '' Lidah nya yang terasa pahit, Galen sangat bersyukur sudah di buatkan teh hangat tanpa dia minta.
''Aku habiskan ya.'' Dan di angguk i cepat oleh Vio.
__ADS_1
''Sebotol air itu untuk siapa. ?'' Tanya nya di sela-sela dia meminum. Pasal nya di dalam kamar nya sudah tersedia. Jika sewaktu-waktu dia haus di tengah malam tidak harus dia turun ke bawah.
''Oh itu, itu isi nya air hangat yang di letakan di atas perut, guna meredakan nyeri.'' Jawab nya.