
''Ini obat nya Ci, sebentar biar aku ambilkan dulu air nya.'' Seru nya bergegas menuangkan air ke dalam gelas.
Kemudian, dengan telaten Tari membantu Ciara bangun dan bersandar di headboard.
''Minum lah. !'' Perintah nya. ''Kalau sudah dari semalam nyeri perut nya. Kenapa pagi ini tidak langsung pergi ke Dokter saja Ci. ? Pemeriksaan Dokter itu lebih jelas dan lebih tau penyebab dari nyeri perut kamu.'' Meletakan gelas di atas nakas.
''Udah, jangan berlebihan, sebentar lagi akan hilang nyeri nya.'' Sahut Ciara enteng, berbeda lagi dengan Tari, kedua mata Tari menatap sendu wajah Ciara yang menahan nyeri.
''Apa suami kamu mengetahui kalau kamu sedang gak enak badan. ?'' Tanya Tari penasaran.
''Belum, Mas Galen belum mengetahui nya.'' Jawab Ciara jujur.
''Tumben, biasa nya selalu stand by di sisi kamu, apa lagi kamu sedang sakit.?'' Heran Tari sambil menelisik dalam-dalam bola mata Ciara.
''Jangan menatap ku seperti itu. !'' Tegur nya, berbaring kembali lalu menarik selimut sampai ke atas dada.
''Keluar lah, aku ingin beristirahat.'' Usir Ciara dengan tubuh bergerak menyamping.
__ADS_1
Kalau sudah seperti ini, Tari tidak bisa berbuat banyak lagi. Selain menuruti apa yang Ciara inginkan.?
Tidak hanya satu tahun, dua tahun Tari mengenal sosok Ciara. Bahkan asal-usul masa lalu pun Tari mengetahui nya.
''Baiklah, aku keluar. Jika ada yang ingin kamu ceritakan, jangan sungkan menghubungi ku.'' Pesan Tari sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar Ciara.
****************
Malam hari nya.
Vio berdiri menatap bangunan mewah yang menjadi impian setiap orang yang melihat nya. Namun tidak dengan diri nya, dia hanya ingin mencari sosok laki-laki yang bisa setia dengan satu wanita saja. Kalau ada laki-laki yang setia dan juga bergelimang harta itu sudah menjadi bonus dari takdir nya.
Menghela nafas panjang seraya menatap punggung kokoh sang suami. Yang memiliki tubuh yang kekar berotot yang telah menjadi impian banyak kaum laki-laki.
Jangan tanyakan, kenapa Vio bisa bersama dengan sang suami.? Karena suami nya bersikeras ingin menjemput dan pulang bersama. Dan pada akhir nya Vio lebih mengalah dan mengizinkan sang suami menjemput nya untuk pulang bersama.
Dari situ Galen meminta izin untuk mampir sebentar ke rumah sebelum ikut pulang kerumah kontrakan nya. Dengan beralasan, tadi siang Mama Ayda menghubungi nya jika Ciara sang istri pertama sedang gak enak badan sejak semalam.
__ADS_1
Dengan langkah pelan nan pasti, Vio mengekori sang suami masuk ke dalam rumah.
Sesekali tersenyum kala pelayan menyapa begitu ramah.
Sepanjang Vio melangkah, dia selalu memperhatikan sang suami dari raut wajah sekaligus gerakan langkah kaki yang terburu-buru.
Dari raut wajah yang di tampilkan oleh sang suami, Vio sudah bisa menebak, sebesar itu rasa cinta suami nya untuk Ciara.
''Aku tunggu di sini saja.'' Ucap Vio, yang sudah tiba di ruang tamu.
Galen yang hendak menekan tombol angka tiga lift, niat nya diurungkan kala mendengar suara dari Vio.
Dengan cepat Galen memutar balik tubuh nya ke arah belakang. Dari kejauhan Galen bisa melihat, kalau Vio setia berdiri di samping sofa ruang tamu.
Galen menghembuskan nafas kasar nya seraya memijat pelipis nya sejenak. Kenapa bisa ia melupakan keberadaan istri kedua nya itu.?
''Jangan terlalu memikirkan keberadaan ku di sini. ! Segera lah naik ke atas, jangan sampai membuat istri kamu menunggu kamu terlalu lama. !''
__ADS_1