
''Seperti nya aku sudah selesai. '' Ucap nya, beranjak dari duduk seraya membawa piring dan gelas kotor nya ke tempat pencucian piring.
''Sama, aku juga sudah selesai.'' Tiru Galen, akan membawa piring kotor nya juga ke tempat nya. Sama seperti yang di lakukan oleh Lisa.
''Biarkan aku saja yang mencuci nya.'' Meraih piring kotor milik suami nya. Sedangkan Galen hanya membiarkan saja tanpa ingin mencegah nya. Apa pun yang di lakukan oleh istri nya, menurut Galen rumah tangga nya sudah ada kemajuan. Tidak seperti sebelum nya, ingin sarapan pagi bersama saja justru di bekali dan disuruh pulang untuk sarapan di rumah.
''Bagaimana kalau kalian berdua aku antar.? Oh iya lupa, secara resmi kita belum berkenalan dengan kamu.'' Galen mengulurkan sebelah tangan nya tepat di depan Lisa. Alih-alih langsung menyambut nya, Lisa justru melirik ke arah Vio.
Kedua pasang mata mereka menatap ke arah nya membuat Vio mengangguk cepat.
''Perkenalkan nama ku Alister Galen Pratama.'' Ucap Galen.
'' Nama ku Lisa.'' Balas Lisa singkat.
''Lisa, baiklah Lisa, terus kamu mau kan aku antar sekalian bersama istriku.''
...****************...
__ADS_1
Galen bergegas membuka pintu depan untuk sang istri. ''Masuk lah. !Kamu duduk di depan bersama ku.''
Berusaha menerima, Vio segera masuk tanpa ada bantahan dan penolakan. Dan duduk dengan tenang di depan. Sedangkan Lisa duduk di jok belakang.
Sepanjang perjalanan menuju florist Ola Jaya, mereka bertiga diam membisu. Tidak ada yang ingin membuka suara untuk memecahkan keheningan di antara mereka bertiga. Walaupun tidak memakan waktu yang cukup lama, Tetap saja bagi Vio terasa begitu lama. Apa lagi satu mobil dengan suami nya itu.? Pikir Vio sesaat, namun ke menit berikut nya Vio menepis hal itu dari benak nya.
''Ingat Vi, kamu harus bisa dan berusaha menerima suami kamu.'' Batin nya.
''Terima kasih tuan Galen atas tumpangan nya.'' Ucap Lisa berterima kasih. Kemudian Lisa keluar dari dalam mobil.
''Seperti nya aku juga.'' Pamit nya, hendak membuka pintu. Namun, Gelen menarik lengan kanan nya.
Vio memalingkan wajah nya ke arah lain, di tatap intens membuat dia salah tingkah. Jujur, Vio sempat terpesona dengan wajah tampan berkarisma itu. Bahkan, bukan hanya wajah nya, tetapi juga hal menarik lainnya seperti dari tubuh ideal suami nya itu, dan menurut Vio, laki-laki di samping nya ini memiliki daya tarik tersendiri.
Dan sial nya, Vio terhanyut dalam pesona nya.
...****************...
__ADS_1
Ciara menghela nafas panjang, menatap nanar kursi yang biasa nya di tempati oleh sang suami.
''Kamu sakit, sejak tadi Mama perhatiin kamu tidak berselera makan.'' Tegur Mama Ayda, di sela-sela meminum jus jeruk nya.
''Sedikit Ma, hanya gak enak badan.'' Sahut nya, sambil tersenyum paksa.
''Ingat Ciara, kamu harus bisa menjaga kesehatan. Apa Vitamin dari Mama sudah habis. ?'' Tanya nya.
''Masih kok Ma, haciihh, mungkin Ciara akan terkena flu.'' Bohong Ciara, bibir pucat bukan nya akan terkena flu melainkan menahan nyeri di bagian perut bawah nya yang sejak semalam Ciara rasakan.
''Ya sudah, biar Kila Oma yang antar. Kamu istrirahat saja di rumah.'' Titah Mama Ayda, meraih tas milik Kila. ''Yuk Kila, kita berangkat sekarang. !'' Ajak Mama Ayda menggandeng tangan cucu nya dengan sebelah tangan nya menjinjing tas sekolah nya.
Kepergian mertua nya bersama dengan putri nya, Ciara bergegas masuk ke dalam kamarnya.
''Bawakan aku obat nyeri sekarang Tar, dari semalam perut ku sakit, mungkin akan menstruasi. '' Lirih nya, memeluk erat perut nya.
''Baik lah, tunggu satu jam lagi aku sudah sampai. '' Sahut nya dari seberang.
__ADS_1
''Aku tunggu Tar, cepat, aku sudah gak kuat lagi menahan nyeri ini dari semalam.'' Lirih nya, nyaris tak terdengar.
''Oke, oke, tahan sebentar lagi otw ke situ, tut.'' Panggilan pun berakhir.