Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P, 78


__ADS_3

Sang mentari menyapa bumi dengan kehangatan sinarnya. Kicau-kicauan burung tak mau kalah menyambut datangnya hari baru.Terdengar suara dorongan obat sekaligus penghantar sarapan pagi yang berlomba memecah keheningan pagi buta di dalam rumah sakit. Semua orang orang menatap indah pagi hari yang penuh makna di dalam rumah sakit tersebut, dengan berharap bisa cepat pulang ke rumah nya masing-masing.


Vio sudah terjaga satu jam yang lalu, ketika Juan sang suami nya itu membuka jendela ruang inap nya untuk beberapa waktu.


Di lantai dua dari lantai tujuh meningkat, Vio masih bisa menghirup udara segar dari tumbuhan hijau di depan jendela ruang inap nya.


Meskipun di dalam ruang inap nya masih ada Ac menyala. Namun udara luar sungguh menyegarkan untuk di hirup apa lagi saat di pagi hari seperti saat ini.?


Kedua mata nya kembali terpejam, hal yang sama, kala Juan memperhatikan diri nya tadi.


Hal ini boleh di sebut, kalau Vio lari dari sebuah kenyataan. Vio memang mengakui dengan kalimat itu. Kalau dia takut dengan sebuah kenyataan jalan yang akan di tempuh selanjutnya.


Vio belum siap menerima jalan hidup nya, yang di mana. ? Dia akan kehilangan dua orang yang sangat di cintai di dalam hidup nya dalam hitungan waktu.


Mengusap lembut, atas perut nya yang sudah tidak ada calon anak nya dan hanya tersisa nyeri di dalam sana.


Tes, air mata nya menetes jika mengingat calon anak nya pergi yang kedua kali nya, membuat dia sangat terpukul.


Satu persatu orang yang sangat berarti di dalam hidup nya kian menjauh.


Sekarang Vio tersadar, kebohongan itu seperti bangkai, serapat apapun dia menutupi. Pasti nya kebohongan dia, bau busuknya pasti akan tercium juga.


''Aku menyesal.'' Gumam Vio, menghembuskan nafas berat nya dari rongga dada nya.

__ADS_1


Sesak, pasti nya sangat sesak, kini dia hanya tinggal menunggu balasan dari perbuatan nya sendiri.


Perceraian sekaligus jeruji besi sudah ada di depan mata. Bahkan rumah kompensasi perceraian sekali pun akan ikut hilang di dalam genggaman nya.


Tok


Tok


''Permisi, '' Ucap satu perawat dari berapa perawat yang masuk ke dalam ruang inap Vio.


Sontak membuat Vio menghapus pipi nya yang basah sedikit kasar.


''Iya. ''


''Kami hanya memberitahukan kalau pagi ini pergantian shif.'' Membuat Vio mengangguk mengerti.


'''Ya, baiklah.''


''Apa ada yang bisa ku bantu.?'' Tanya sang perawat, untuk shif pagi ini.


''Tidak ada.''


''Baiklah kalau begitu kami permisi dulu.'' Pamit nya, berlalu keluar dari ruang inap Vio.

__ADS_1


''Apa sarapan pagi nya sudah datang. ?'' Tanya Juan tiba-tiba, Membuat Vio menggeleng cepat.


''Mungkin, baru sampai di kamar sebelah.'' Sahut Vio seadanya nya, memang tadi dia mendengar suara Pengantar sarapan pagi nya.


''Oh, '' Beranjak dari tidur nya, dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tok


Tok


''Permisi, sarapan pagi nya.'' Ucap Nya, dengan menaruh nampan di atas meja makan khusus pasien.


''Terima kasih. ''


"Jangan lupa di makan sarapan pagi nya mbak." Pesan nya, berlalu berpamitan pergi menjauh.


''Mau aku suapi.'' Tawar Juan, yang baru keluar dari kamar mandi lalu menghampiri meja yang di atas nya ada sarapan pagi untuk Vio.


''Tidak perlu, aku bisa sendiri.'' Tolak Vio.


''Ayolah, mumpung aku ini masih berstatus suami kamu loh.!'' Bujuk Juan.


''Apa aku semalam keguguran . ?'' Tanya Vio dengan raut sedih.

__ADS_1


Meskipun dia sudah merasakan sesuatu di dalam sana, dengan cepat dia menepis hal itu. Dia gak mau menerka-nerka yang belum tentu benar, dan dia masih sangat berharap semua ini hanya sebuah mimpi dalam tidur nya.


__ADS_2