Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
43. Tidak Aktif


__ADS_3

🍁🍁🍁


Prangg! Suara Salwa menjatuhkan semua yang ada di atas meja riasnya. Kemesraan Salwa dan Lukas selalu terbayang di kepalanya hingga ia kembali ke rumah.


"Kenapa malah jadi begini?!" Melempar ponselnya pada dirinya yang terpantul di cermin. "Aaarghh!" Teriaknya dengan mengacak-acak rambutnya di depan cermin yang telah retak seperti hatinya saat ini. Ia tak sanggup untuk tidak mencintai pria itu namun di sisi lain dirinya harus mengikuti semua perintah Raden.


Sejak awal Radenlah yang memintanya untuk menarik ulur perasaannya pada Luhan. Ia bahkan rela menolak lamaran Luhan demi tujuan Raden menguasai seluruh Emperal grup. Raden berjanji padanya setelah tujuannya tercapai ia akan memberikan Luhan padanya. Namun yang terjadi Raden malah membiarkan Luhan menjalin hubungan dengan Salwa. Hingga pada akhirnya Salma berakhir menjadi orang ketiga dalam hubungan Luhan dan Salwa.


Swas awas swas! Suara shower membasahi sekujur tubuh Salma menutupi air mata yang terus mengalir tanpa henti. Ia menangisi hidupnya yang berantakan.


Diwaktu bersamaan Lukas tak bisa berhenti melepas tatapannya dari Salwa yang duduk menatap layar komputer di depannya. Keduanya pergi ke perusahaan setelah Raden,Ronal dan Salma akhirnya pergi dari kediaman Kardinata.


"Bos!" Panggil Bobi yang sudah setengah jam berdiri menunggu Lukas terjaga dari lamunannya. "Bos!" Panggilnya untuk kesekian kalinya membuat Salwa menoleh pada Lukas.


"Luhan!" Panggil Salwa memutar kursinya menatap lurus pada Lukas yang kemudian terjaga.


"Ya." Sahutnya dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Salwa melihat pada Bobi yang menyipitkan matanya meledek Lukas yang tertangkap basah oleh Salwa. "Bukan aku sudah bilang segala yang berkaitan dengan perusahaan harus melalui Salwa kemudian ke---"


"---Sudah Bos." Potong Bobi. "Bosnya aja yang dari tadi melamun." Ledeknya memberikan berkas yang perlu approval Lukas.


"Hm." Sahut Lukas menandatangani dokumen yang diserahkan Bobi dengan sesekali melirik Salwa yang tersenyum pada monitor di depannya.


Pak! Suara Lukas menutup dokumen terakhir selang beberapa menit kemudian.


"Oh iya!" Tegus Lukas memberikan kembali seluruh dokumen pada Bobi. "Kamu masih punya satu lagi foto wanita itu kan?" Tanya Lukas pada Bobi mengenai foto yang kemarin tak sengaja terlihat oleh Salwa.


"Ma-masih Bos." Sahutnya gugup sambil melihat sebentar pada Salwa lalu kembali melihat pada Lukas sambil meraih sesuatu dari balik jasnya. "I-ini Bos." Memberikan Foto pada Lukas dengan menggesernya pelan diatas meja.

__ADS_1


Srekk! Suara Lukas menariknya dengan kilat membuat Bobi terkejut.


"Salwa!" Panggil Lukas membuat mata Bobi terbuka lebar.


"Ya?" Sahut Salwa menoleh dari balik monitornya.


"Kamu kenal wanita dalam foto ini?" Membalikkan foto memamerkannya pada Salwa membuat Bobi mendengus kesal.


"Gebetan baru Bobi bukan?" Sahut Salwa melihat ke Bobi yang memutar bola matanya keatas menahan kesal.


"Oh iya?" Cibir Lukas menahan tawa. "Kenapa aku baru tahu?" Tanyanya meledek Bobi yang berbalik badan pergi meninggalkan keduanya dengan kesal.


"Dia kenapa?" Tanya Salwa bingung. "Jelas-jelas dia yang mengatakan kemarin kalau itu foto gebetan barunya." Sambung Salwa menjelaskan diteruskan dengan menoleh kembali pada Lukas.


"Ternyata begitu ceritanya." Sahut Lukas meletakkan foto di atas meja. "Apa kamu pernah mendengar nama Valen Grey?" Tanya Lukas menarik laptop di depannya mengecek satu persatu pesan yang dikirim Bobi padanya.


"Siapa dia?" Tanya Salwa balik. "Aku belum pernah mendengar nama itu dimana pun." Sambungnya beranjak dari kursinya.


"Ah, Aku pernah mendengarnya." Sahut Salwa beberapa detik kemudian membuat Lukas terjaga. "Tapi aku tak yakin Dafa yang di maksud adalah Dafa Grey." Sambungnya.


"Dimana kamu pernah mendengarnya?" Tanya Lukas melipat kedua tangan didada dengan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.


"Bunda." Jawabnya. "Aku pernah mendengar Bunda menyebut nama itu saat dia berbicara dengan seseorang di telpon" Ucapnya membuat Lukas menegakkan tubuhnya kembali dengan kedua tangan menopang pada dagu.


Wulan? sepertinya dia tahu bahwa Raden yang bersama dengannya selama ini bukanlah Raden Asli. Batin Lukas yang kemudian melihat Salwa terburu-buru meraih ponsel dan melakukan panggilan pada Wulan yang terikat di kursi dengan wajah menengadah keatas diterpa oleh cahaya matahari dari atap kaca. Gaun lusuh dengan noda darah membalut tubuhnya yang pucat pasi.


Syurr! Siraman air datang membangunkan dirinya yang berusaha untuk tetap hidup sepanjang malam.

__ADS_1


"Lepaskan ikatan dari mulutnya!" Perintah Raden pada pengawal yang baru saja menumpahkan air satu ember pada Wulan.


Kringgg kringgg! Suara panggilan masuk dari Salwa di ponsel Wulan yang berada dalam genggaman Raden.


"Lihat!" Tunjuk Raden pada Wulan. "Salwa." Panggilan masuk dari Salwa. "Kontak batin yang sangat kuat, bukan." Cibir Raden menarik rambut Wulan. "Tapi sayang sekali dia tidak tahu semua itu." Menarik kembali dengan begitu kencang membuat Wulan menjerit kesakitan. "Apa kamu pikir selama ini aku tak tahu apa yang sedang kamu lakukan dibelakangku,heh!" Mencengkram rambut Wulan. "Kamu berpura-pura tidak peduli dengan Salwa namun dibelakangku dan Salma kamu diam-diam mendorongnya pada Luhan!" Menghempaskan tamparan ke wajah Wulan.


Plakk!


"Benar-benar pintar!" Puji Raden dengan tepuk tangan. "Setelah 22 tahun terpisah akhirnya Kamu tahu bagiamana melindungi putri Raden Prakas." Menengadah telapak tangannya keatas disambut oleh seorang pengawal datang memberikan cambuk.


Plakk! Suara Raden mengayunkan cambuknya ke lantai membuat Wulan kaget dengan tubuh gemetar.


"Hahahaha!" Tawa kencang Raden melihat Wulan yang begitu ketakutan melihat cambuk di tangannya yang sebentar lagi mendarat di tubuhnya. "Kamu takut?" Tanya Raden mendekatkan wajahnya pada Wulan. "Selama dua tahun terkahir ini aku berusaha menutup mata akan kerja kerasmu mencari keberadaannya." Menangkup pipi Wulan. "Dan berusaha melindunginya dari jauh." Menekan pipinya dengan keras. "Tapi beraninya kamu mengacau rencanaku terhadap Emperal grup." Menarik tangannya. "Dengan memberikan foto ibuku pada putra David Kardinata." Melayangkan cambuk ditangannya pada tubuh Wulan.


"Aaaaah!" Jerit Wulan menerima cambukan pertama. "Aaaaaaah!" Jeritan kembali terdengar. Kini jeritan itu saling bersahutan bersama suara cambukan dari rumah kosong yang terletak 20 meter dari halaman belakang kediaman Raden Prakas.


Prangg! gelas di tangan Salma terjatuh ke lantai dapur. Ia dikagetkan oleh samar-samar suara jeritan yang berasal dari halaman belakang.


"Bundaaa!" Panggilnya membuka pintu mengarah halaman belakang. Ia tiba-tiba teringat akan Wulan yang sering menghabiskan waktu dengan tanaman di halaman belakang. "Eh,Bunda kemana ya?" Tanya Salma yang tak mendapati Wulan disana. "Dari tadi belum ada lihat." Sambungnya yang menarik pintu untuk menutupnya kembali. "Coba telpon aja kali ya?" Tanyanya melangkah menggapai ponselnya di pantry dengan lanjut meneruskan langkah meninggalkan dapur sambil membuat panggilan pada Wulan.


"Maaf, nomor yang ada hubungi sedang sibuk! Cobalah beberapa saat lagi atau tekan satu untuk meninggalkan pesan suara." Suara operator menjawab panggilan Salma dan Salwa di waktu bersamaan.


"Gimana?" Tanya Lukas pada Salwa yang menggelengkan kepalanya.


"Nomornya sekarang malah beralih ke sibuk." Jawab Salwa. "Jelas-jelas tadi masih terhubung." Menangkup keningnya dengan raut khawatir sambil kembali membel nomor Wulan begitu juga dengan Salma.


"Nomor yang ada hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan!" Suara operator membuat Salma dan Salwa mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kenapa sekarang malah tidak aktif?" Tanya keduanya kompak menarik ponselnya dari telinga.


🍁🍁🍁


__ADS_2