Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 111


__ADS_3

''Jadi gak sabar di fase adik ku Arsen sekarang ini. Banyak yang bilang, kalau Banyak Anak Banyak Rezeki, bukan begitu ya Ma, Pa.?'' Tanya Juan terhadap kedua orang tua nya.


Arsen menggeleng pelan, antara setuju dengan tidak setuju. ''Secara umum pasangan suami istri di zaman modern ini, sudah tidak setuju lagi dengan adagium ‘Banyak Anak Banyak Rezeki’. Mereka menganggap hal itu hanyalah mitos, pepatah kuno yang sudah tidak berlaku lagi sekarang. Sehingga rata-rata pasutri zaman sekarang hanya memiliki dua, tiga atau hanya empat orang anak. Berbeda dengan orang tua, kakek nenek kita zaman dahulu yang memiliki sembilan, tiga belas bahkan ada yang memiliki delapan belas orang anak.'' Sahut Arsen dengan bijak.


''Anak adalah ladang amal bagi kedua orang tuanya. Setiap amal ibadah dan do’a anak-anak yang sholeh dan sholeha akan menjadi amal ibadah pula bagi kedua orang tuanya, yang akan terus mengalir sampai ke liang kubur. Hal tersebut juga telah tertuang dalam hadis Rasulullah SAW yang artinya:


“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jahiriyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh” (H.R Muslim)


''Dan bagi ku, di saat baby El belum dewasa. Kenapa tidak menambah satu anak lagi, ? Siapa tau, nanti aku dan istri ku di kasih kepercayaan seorang putri yang sangat cantik setelah mendapatkan putra yang sangat tampan.'' Jelas Arsen yang ingin menambah anggota baru lagi.


''Bukan begitu sayang. ?'' Tanya Arsen kepada sang istri.

__ADS_1


Eva mengangguk setuju, sebagai seorang istri Eva memilih mengiyakan apa pun yang di inginkan oleh sang suami. Selama di jalan yang benar sekaligus demi ke harmonisan rumah tangga nya.


''Papa juga setuju, cara mu berpikir. Program pemerintah saja 2 anak cukup.'' Timpal Papa Burhan ikut setuju.


''Benar juga sih Pa. Sebagai seorang kakak, aku sangat kagum dengan cara berpikir kamu. Eva sangat beruntung sekali, memilki suami yang cara berpikir nya sudah dewasa.'' Puji Juan sangat tulus.


Berbeda lagi dengan wanita yang berhijab, meremas jemari nya yang berada di bawah meja. Dengan perasaan tak menentu sejak sadari tadi mendengar isi obrolan dua keluarga tersebut.


Vio mengangguk di iringi senyuman kaku dan juga terpaksa, berusaha menyembunyikan sesuatu, entah itu apa. ?


Tanpa Lisa dan Vio ketahui, Papa Shidiq sejak tadi memperhatikan interaksi mereka berdua. Menghela nafas panjang, Papa Shidiq berkata. ''Biar lah, menantu ku menentukan kebahagian yang dia ciptakan. Selama bisa membahagiakan putri ku, dan, selaku kita orang tua selalu mendukung anak-anak nya yang mau memilki anak berapa pun itu.''

__ADS_1


''Dan selanjutnya nya, hal yang kedua. Kalau Vio ingin meminta maaf secara langsung ke pada kita semua, bukan begitu Vio.'' Membuat Vio mengangguk cepat dan di iringi seulas senyuman di sudut bibir nya.


''Sebelum itu, ku perkenalkan dulu orang yang berada di samping ku ini, nama nya Lisa. Orang membuat aku berubah seperti ini, sadar dari segala kesalahan aku yang telah kku perbuat dan berakhir di dalam penjara.'' Ucap Vio menjeda beberapa waktu sebelum melanjutkan kembali.


Vio mengungkapkan rasa bersalah nya dan meminta maaf untuk semua orang yang pernah dia sakiti. Dari mulai kedua orang tua Eva, papa Shidiq dan mama Rosa sekaligus keluarga kecil Eva dan Arsen.


Selanjut nya Vio meminta maaf ke pada ke dua orang tua Juan, Mama Bunga dan papa Burhan serta Nadin dan Juan.


Mengutarakan seluruh uneg-uneg nya yang mengganggu pikiran nya. Kini Vio bersyukur, telah mendapatkan maaf dari orang yang telah dia sakiti dahulu.


''Terima kasih, telah mau memaafkan aku dari sikap dan kesalahan aku dahulu.'' Ungkap Vio dengan bola mata berkaca-kaca.

__ADS_1


''Pa Ma, Vio sekaligus mau meminta izin. Kalau besok pagi aku ikut Lisa kerja ke luar kota. Belajar mandiri dan juga mencari suasana yang baru di sana.''


__ADS_2