
🍁🍁🍁
"Sayang Aku gak ada maksud un---"
"---Its Okay!" Potong Lukas meletakkan gelasnya. "Gak pa-pa." Sambungnya yang kemudian melanjutkan menyantap potongan steak yang masih tersisa di piring sambil menawarkan Raden dan juga Salma.
"Kamu benaran gak marah?" Tanya Salma setelah ketiganya berpindah tempat. Raden membawa Lukas dan Salma ke kasino miliknya yang berada di bawah gedung tempat mereka makan sebelumnya.
Wow! Batin Lukas melihat orang-orang kelas atas dengan pakaian branded duduk di depan meja bundar dengan kartu,chip,uang kes dan harta lainnya. Lukas mengedipkan matanya pada bunny-bunny yang berpapasan dengannya di setiap melewati meja.
"Kalau ditanya marah atau tidak pasti jawabannya marah dong sayang." Merangkul Salma dengan mode kepura-puraan yang telah diaktifkan. "Tapi mengingat itu semua kamu lakukan karna perasaanmu yang dalam untuk Luhan." Melepas rangkulan meraih stick billiar yang dilemparkan seorang padanya. "Aku tak akan mempermasalahkannya." Memberi tembakan pada bola yang telah tersusun di meja biliar.
Tak! Suara tembakan membuat semua bola bergelinding jatuh dengan teratur masuk ke dalam pocket tanpa tersisa.
"Wow!" Seru orang-orang melontarkan pujian bersamaan dengan tepukan riuh akan tembakan sempurna yang di lakukan Lukas.
"Thanks." Balas Lukas melempar balik stick dari tangannya kembali sesaat dirinya melihat dua pengawal datang menghampiri Raden. Salah satu dari pengawal tersebut berbisik melaporkan sesuatu yang membuat Raden mengerutkan keningnya.
"Sejak kapan kamu bermain sehebat itu?" Tegur Salma pada Lukas yang melihat Raden kini pergi mengikuti pengawalnya ke arah lain.
"Sejak Aku membawa Dewi Fortuna sepertimu kesini." Jawabnya merangkul Salma yang setengah jiwanya kini melayang mendengar pujian Lukas.
"Gombal." Balas Salma yang kemudian ditarik Lukas untuk mendampinginya bermain blackjack.
Srak srak! Suara dealer membagi dua kartu pada setiap pemain termasuk Lukas. Selama permainan berlangsung mata Lukas melirik kecil pada orang-orang keluar dan masuk ke area kasino. Ia mencari sosok Bams dan Ronal di antara orang-orang yang ada disekitarnya. Namun Lukas tak menemukan keberadaan salah satu dari mereka selain mengumpulkan banyak chip dari putaran yang terus di menangkan olehnya. Pemandangan yang membuat Lukas mendapat perhatian dan kedipan mata dari Dewi Fortuna para pemain lain yang ada di meja sama dengannya. Lukas membalas godaan wanita-wanita itu dengan senyum tipis yang membuat kaum hawa itu menggigit bibirnya. Salma yang menyadari percikan godaan itu langsung menempatkan kedua tangannya di dada bidang Lukas yang tertutup setelan jas.
__ADS_1
"Blackjack!" Ucap Lukas membalikkan kartu As dan Jack di depan dealer dan pemain lainnya yang menjadi akhir dari permainan. Lukas kemudian menukar chipnya dengan uang lalu mengajak 6 pemain bersama dealernya untuk bergabung dengannya di ruang VIP.
"Cheers!" Suara 8 Pria termasuk Lukas mengangkat mug bir keatas untuk bersulang satu sama lain di temani oleh wanita yang bergelayut di sampingnya masing-masing termasuk Salma. Ia bahkan duduk di pangkuan Lukas dengan tangan yang merangkul lehernya.
"Aku tebak kamu baru pertama kali datang kesini bukan?" Tanya seorang Pria meletakkan kartu namanya di depan Lukas yang berhenti meneguk birnya. Ia menarik mugnya dan melihat pada pria itu.
"Ya." Meletakkan gelasnya. "Tebakanmu benar." Meraih kartu nama pria itu dari atas meja. "Wow!" Puji Lukas melihat tulisan Trailer Grup. Sebuah salah perusahaan truk ekspedisi terbesar di Indonesia. "Wilsen Aditama?" Melihat ke Wilsen yang tersenyum padanya.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Wilsen yang melirik kecil pada Salma yang tak kepincut sama sekali dengannya meski ia telah menunjukkan kartu namanya. Pemandangan yang membuat Lukas menyeringai tipis menangkap tujuan utama Wilsen mendekatinya. "Kamu terlihat familiar dengan tempat seperti ini." Sambungnya yang kini tak bisa melepaskan pandangannya dari Salma.
"Aku hanya orang biasa yang jenius dalam bermain kartu." Jawab Lukas yang melirik wanita di samping Wilsen.
"Oh Okey!" Balas Wilsen dengan senyum tipis menerima kode dari Lukas yang akan melakukan pertukaran Dewi Fortuna.
"Untuk saat ini semua berjalan dengan baik. Hanya ada beberapa yang perlu diperhatikan mengenai jumlah pekerja di lapangan per skup pekerjaan." Ucap Bobi yang mendapat tanggapan dan solusi dari vendor yang sekali menjadi penutup pertemuan mereka.
"Bu Salwa." Panggil Bobi selang beberapa menit petemuan berakhir.
"Ya?" Sahut Salwa terjaga dari lamunannya dan melihat tak ada siapapun lagi di sana selain dirinya dan Bobi. "Yang lain kemana?" Tanya Salwa.
"Saya rasa udah sampai di mobilnya masing-masing Bu." Jawab Bobi membereskan berkas yang ia terima dari vendor. "Ibu Salwa masih mau disini?" Tanya Bobi melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 17.00 WIB. "Menunggu Bos mungkin?" Sambungnya mengecek hasil pertemuan yang telah ia rangkum.
"Enggak." Jawabnya beranjak dari kursi dan melangkah mendahului Bobi keluar dari ruang meeting. "Oh iya." Menoleh sesaat pada Bobi. "Jangan lupa mengirim hasil pertemuan hari ini pada Luhan." Sambungnya yang kemudian berbalik meninggalkan Bobi yang segera mengklik mouse ditangannya mengirim hasil pertemuan pada Lukas yang telah berpindah tempat dari kasino ke bar yang ada di lantai lain gedung sebelumnya.
Tring! Sebuah notifikasi pesan berbunyi dari ponsel Lukas yang berada dibalik saku jasnya. Suara pesan tertutup oleh lagu yang keluar dari piringan hitam di depannya. Ia menikmati obrolan santainya dengan Wilsen ditemani oleh minuman rendah alkohol di depan mereka.
__ADS_1
"Apa dia kekasihmu?" Tanya Wilsen pada Lukas sambil melirik sebentar pada Salma yang menenggelamkan dirinya dengan minuman tinggi alkohol di meja lain.
"Kalau Aku bilang yaaa---" Ucapnya terjeda sebentar. "---Apa kamu masih mau mencobanya?" Sambungnya.
"Jika Kamu tak keberatan mengapa tidak." Sahutnya yang kemudian meneguk minumannya.
"Okey." Balas Lukas mengangkat gelasnya menyetujui jawaban Wilsen.
"Really?"
"Ya." Jawab Lukas.
"Kenapa kamu melakukannya?" Tanya Wilsen. "Kamu tak takut kalau-kalau hubungan kami melewati batas." Melihat ke Salma yang telah mabuk dengan pipi bawah memerah dan kelopak mata yang enggan terbuka.
"Apa kamu yakin dia mau melakukan yang lebih denganmu?" Balas Lukas yang kini juga ikut menoleh pada Salma.
"Hei lihat!" Jawab Wilsen. "Kesadarannya sudah hilang." Menyeringai. "Aku Hanya tinggal membuka kamar." Mengeluarkan kartu akses kamar hotel yang berada di lantai teratas gedung ini.
"Dasar!" Umpat Lukas menyeringai pada Wilsen yang meneguk tetesan terakhir di gelasnya sebelum mengeksekusi Salma yang tergolek menunggu dekapannya.
"Dia sudah menunggumu." Ucap Wilsen meletakkan kartu akses kamar lain pada Lukas. "Aku belum pernah menyentuhnya." Sambungnya turun dari kursi menyusul Salma yang terkulai di sofa.
"Okey." Sahut Lukas turun dari kursi dan berbalik badan meninggalkan Wilsen yang akan menggantikan dirinya.
🍁🍁🍁
__ADS_1