
''Dan sekarang ini, sudah tidak ada calon anak kamu Juan. Mama sangat berharap kalau kamu, segera menceraikan Vio, sebelum para polisi datang ke rumah ini untuk menangkap si dia.'' Dengan kalimat terakhir, satu jari menunjuk tepat di depan wajah Vio.
Juan mengangguk ragu, ''Mama tidak perlu khawatir soal itu, Juan sudah menyimpan surat cerai dari pengadilan agama di meja kerja ku, Ma. ''
''Ambil sekarang, biar kamu cepat bercerai dengan wanita kriminal ini. !''
Juan menghela nafas panjang, seraya menoleh ke arah samping, yang di mana Vio yang masih berstatus istri nya itu berdiri.? Melihat keadaannya saat ini, sungguh sangat memprihatinkan, wajah yang pucat paska baru keluar dari rumah sakit. Di tambah sesampai nya di dalam rumah, sudah di sambut dengan sebuah ca cian, tam paran, hi naan sebagai sambutan ke pulangan nya dari rumah sakit. Menangis dalam diam, hanya itu yang bisa di lakukan oleh Vio.
''Kenapa aku menjadi tak tega seperti Ini.?'' Batin Juan bingung.
Jujur, Juan tak tega hati melihat ke adaan istri nya sekarang ini. Tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu nya.
''Aku yakin, kamu pasti bisa menghadapi ini semua,. '' Bisik Juan tepat di daun telinga Vio.
Mendengar bisikan sebuah dukungan dari laki-laki yang pernah menjadi korban ke irian nya terhadap Eva, membuat hati Vio merasa bersalah.
Vio menoleh dan menatap Juan yang saat ini masih berstatus suami itu dengan tatapan dalam-dalam.
Vio masih tak percaya, kalau Juan masih peduli dengannya. Setelah dia menghancurkan masa depan nya bersama Eva dulu.
__ADS_1
Dengan lemah Vio mengangguk. ''Terima kasih. '' Lirih Vio yang hampir tak terdengar.
''Tunggu apa lagi Juan. ?'' Bentak Mama Bunga dengan nada naik satu oktaf.
Juan menghela nafas panjang sebelum menganggukkan kepalanya lagu. Kemudian Juan berlalu pergi menjauh menuju ruang kerja milik nya selama dia tinggal bersama Vio, istri nya itu.
Lekas kepergian Juan meninggalkan ruang tamu, selang beberapa menit kemudian. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah kompensasi tersebut. Semua orang berada di dalam rumah tersebut, pasti nya juga bisa melihat dari jendela yang langsung memperlihatkan depan rumah itu.
Tok
Tok
Tok
''Sore Pak. '' Jawab Pak Burhan.
''Apa betul, ini alamat rumah Juan Nendra. ?'' Tanya Pak polisi, yang lebih dulu memastikan lagi alamat yang di sebutkan melalui telepon beberapa waktu yang lalu.
''Benar, dan sil______
__ADS_1
''Betul Pak, ini memang alamat yang tadi aku sebutkan melalu telepon sekitar satu jam yang lalu.'' Potong cepat Mama Bunga.
''Dan ini orang nya. '' Tunjuk Mama Bunga.
''Pelaku tabrak lari beberapa bulan yang lalu saat di taman kota. Yang menjadi korban nya iyalah, putra ku Juan Nendra sekaligus menantu ku, yang bernama Eva Saputri, Pak. '' Jelas Mama Bunga dengan nada menggebu.
''Baiklah kalau begitu, biar kami bawa ke kantor polisi untuk di interogasi lebih lanjut. Dan tolong berkas-berkas tanda bukti dan sebagai nya berikan kepada kami biar kami bisa langsung selidiki lebih lanjut.'' Jelas Pak polisi yang lebih tua dari pada yang satu nya lagi.
Mama Bunga berjalan menuju meja ruang tamu, mengambil map berwarna biru lalu di serahkan ke pada bapak polisi.
''Ini, berkas yang bapak perlukan nanti. Semua nya sudah kami kumpulkan menjadi satu di dalam sini. Jika masih ada yang kurang, bapak polisi langsung hubungi keluarga kami saja.'' Seraya menyodorkan map biru ke pada bapak polisi tersebut.
''Kalau begitu kami pamit undur diri, dan kami ucapkan selamat sore.'' Pamit pak polisi lalu menghampiri Vio sebagai si pelaku nya.
''Mari ibu Vio.''
Vio mengangguk pasrah, dia tak ingin memberontak mau pun membela diri nya lagi. Di tambah kesehatan nya yang belum betul pulih seutuh nya membuat dia pasrah dengan jalan takdir nya.
Di dalam hati Vio, dia hanya bisa berdoa semoga di dalam jeruji besi nanti nya, dia tidak akan lama tinggal di dalam sana.
__ADS_1
''Tunggu Pak. ''