Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 138


__ADS_3

Ciara menggenggam erat gagang pisau kecil yang tak lain bread knife. yang di gunakan memotong Omelette Sandwich, ada perasaan cemburu yang tiba-tiba muncul di dalam hati nya.


Selalu ada rasa sakit, sesak saat membahas madu nya. Kemudian Ciara menggeleng pelan, mencoba mengusir dan menepis cepat rasa itu di dalam hati nya. Dia gak boleh egois, semestinya dia bersyukur. Bisa menjadi Nyonya muda di keluarga besar Pratama, keluarga yang cukup terpandang di kota pahlawan tersebut. Apa lagi memiliki suami yang sangat perhatian meskipun belum bisa kasih keturunan untuk suami nya.?


Dan, juga memiliki Mama mertua yang tidak pernah mengungkit asal-usul nya dari keluarga mana. Memiliki Mama mertua yang selalu membela nya di saat diri nya di hina.


''Di situ seharusnya kamu sadar Ci, banyak nya kekurangan diri kamu namun keluarga besar Pratama masih menganggap kamu ada dan masih menghargai mu meskipun tidak semua anggota keluarga Pratama menyukai mu.'' Batin Ciara berperang.


Ciara menghela nafas pelan, kemudian tersenyum sebagai gambaran hati nya kalau diri nya baik-baik saja.


''Hmm, Aku sudah selesai. '' Ucap nya meletakkan garpu beserta bread knife ''Mau gak, kalau hari ini Kila di antar oleh Mama ke sekolah.?'' Tawar Ciara, mengelus rambut hitam putri angkat nya dengan gerakan begitu lembut.


''Mama serius.'' Jawab Kila begitu antusias.

__ADS_1


''Serius dong, senang gak di antar oleh Mama. '' Tanya nya lagi.


''Banget Ma, apa lagi mama nganter nya sampai kelas Kila.? Kila seneng banget Ma, biar semua teman-teman Kila tau, kalau Kila memiliki Mama yang sangat cantik, bukan buruk rupa sering mereka katakan. '' Ucap Kila polos, awal nya hati Kila baik-baik saja. Namun, jika mengingat hinaan dari teman-teman nya wajah ceria nya menghilang begitu saja, dan hanya menyisakan raut sedih di wajah nya.


Ciara mendengar jawaban jujur dari putri nya hanya bisa menundukkan kepala nya ke bawah. Meremas kuat ujung dress yang dia pakai sekarang ini.


Lagi dan lagi, dia harus merasakan sakit ke sekian kali nya.


''Jangan dengarkan mereka ya sayang. ! Yang paling terpenting, Kila memiliki Mama tidak seburuk yang mereka katakan.'' Bela Galen kepada istri nya, dengan memberi pengertian terhadap putri nya yang masih belum mengerti dengan masalah orang dewasa.


"Ya udah, sana gih siap-siap. Biar Mama yang mengantar Kila sampai ke dalam kelas.'' Sahut Mama Ayda ikut menimpali.


''Baik oma, Pa, Kila berangkat ke sekolah dulu.'' Pamit nya mengecup punggung tangan sang Oma dan Papa nya.

__ADS_1


''Aku juga pamit Mas, Ma Assalamualaikum.''


''Waalaikumsalam, hati-hati. Bilang sama supir nya jangan terlalu ngebut nyetir nya.'' Pesan Mama Ayda.


...****************...


Tanpa sadar, Ciara menggenggam jemari mungil putri nya begitu kuat. Membuat si empu nya mendesis kesakitan.


''Mbak, apa mbak gak sadar telah menyakiti putri mu. Tuh lihat, dia kesakitan.'' Ucap salah satu wali murid yang ikut masuk mengantarkan putri nya juga. Yang kebetulan berada di samping Ciara dan Kila berjalan masuk ke dalam kelas nya.


Iya, sepasang ibu dan anak sudah tiba di mana putri nya bersekolah. Hanya memakan beberapa waktu saja Ciara bersama Kila kini sudah berjalan di koridor sekolah Tk.


Berpapasan dengan orang tua yang mengantar putra-putri nya bersekolah hal itu sudah menjadi umum. Yang tidak menjadi umum iyalah, Ciara tidak pernah mengalami momen hal itu yang di anggap penting oleh putri nya.

__ADS_1


Selama ini dia hanya mengantar putri nya hanya sampai di depan gerbang nya saja. Itu pun diri nya tidak pernah turun dari mobil. Kejadian sebelumnya yang di mana dia pernah di hina secara terang-terangan membuat dia enggan mengantar putri nya hingga masuk ke dalam kelas nya. Ada trauma tersendiri yang di alami oleh Ciara, hingga dia tak berani menampakan batang hidung nya di depan umum.


__ADS_2