Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 154


__ADS_3

Niat nya hanya ingin membasuh muka khas bantal, justru Vio mengingat kalau sholat ashar belum dia tunaikan. Jadilah, Vio berakhir mandi kemudian menunaikan sholat ashar yang sudah di wajibkan bagi umat muslim.


Usai sholat ashar, Vio bergegas keluar dari kamar menemui Eva bersama dengan ponakan tampan nya yang bernama Baby El.


Keluar membawa dua baper bag yang berisi main-mainan khas anak laki-laki sebagai oleh-oleh.


''Ma. '' Panggil Vio, menghampiri Mama Rosa yang sepertinya sedang ingin memasak.


''Eh, Vio. Baru bangun.?'' Memeluk sekilas sebagai sambutan. ''Sehat.?'' Lanjut nya, mengusap lembut lengan si anak.


Vio mengangguk, kalau diri nya baru bangun tidur. ''Alhamdulillah Vio sehat Ma. Bagaimana dengan Mama. ?'' Tanya Vio balik.


Sudut bibir Mama Rosa melengkung ke atas, seraya mengangguk. ''Sama.'' Jawab nya singkat, sambil memotong kembali terong ungu nya yang tinggal setengah.


''Butuh bantuan Vio gak Ma. ?'' Tawar nya, Seketika Mama Rosa menggeleng cepat.


''Tidak perlu, mending kamu temui Eva. Seperti nya tadi dia mencari kamu.'' Beritahu Mama.


''Oh iya Vio lupa, Eva kemana. ? Di dalam kamar tadi Vio mendengar suara nya Eva, tetapi aku tak melihat nya.''

__ADS_1


''Dia ada di halaman depan, biasa nya kalau sudah selesai mandi Eva dan Baby El bermain dengan Opa nya.'' Vio mengangguk mengerti.


''Ya udah, Vio ke depan dulu.'' Pamit nya berlalu pergi setelah mendapatkan anggukan dari sang Mama.


...****************...


Suara gelak tawa menyambut senja di sore hari. Hampir jam lima sore, Ayah dan anak beserta cucu nya itu yang berada di kereta roda tiga saling melempar candaan sekaligus godaan untuk Baby El.


''Apa suami mu belum pulang. ? Ini kan hari minggu, seharusnya hari minggu waktu nya untuk keluarga.'' Cibir Papa Shidiq, Kalau menantu nya itu sering mengabaikan keluarga kecil nya. Waktu nya itu selalu di habiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja.


Eva tersenyum kecil, sambil menggeleng kepala tak percaya. Laki-laki berumur itu selalu kesal ke pada suami nya kala sibuk dengan sendiri nya. Eva yang sebagai istri nya saja tidak sebegitu nya. ''Pa, Mas Arsen tadi baru pergi loh. Dan kata nya tadi Mas Arsen mau beli susu sama pampers untuk Baby El. Lagian seharian ini Mas Arsen berada di rumah kok. Tidak pergi kemana-mana.?'' Jelas Eva, dengan nada selembut mungkin. Memang Eva akui, kalau sang suami nya itu akhir-akhir ini sering telat pulang ke rumah. Dan itu Eva bisa maklumi, mengingat Mas Arsen setelah pulang dari kantor mampir dulu ke butik milik nya.


Atas diskusi bersama, Eva memilih menyerah dulu untuk mengurus butik, di tambah akhir-akhir ini juga banyak pesanan gaun pernikahan. Dan tenaga Eva tak sanggup lagi mengurus butik apa lagi harus pulang pergi.


Meskipun ada orang yang bisa di percaya, namun suami nya itu tetap datang ke butik hanya mengecek bahan atau sekedar cek keuangan.


''Assalamualaikum.'' Sapa Vio melangkah mendekat kepada mereka bertiga.


Eva bersama Papa Shidiq menoleh nyaris bersamaan. ''Waalaikumsalam.'' Sahut nya mereka berdua.

__ADS_1


''Hei, apa kabar. ?'' Seru Eva berdiri, sedangkan Vio lebih mendekat dan mereka berdua saling berpelukan di depan Papa Shidiq.


''Kabar Vio baik Ev, bagaimana dengan mu.?''


''Baik juga.'' Jawab Eva.


Pelukan pun terlepas, kemudian netra cokelat kehitaman milik Vio mengarah ke arah perut Eva.


''Iih, udah kelihatan ya.'' Seru nya antusias, mengusap lembut perut Eva yang sedikit membuncit.


''Ini mah masih kecil Vi, belum kelihatan banget..'' Mengelus perut nya sejenak.


''Sini duduk sama kita.'' Ajak Eva menarik pergelangan tangan Vio. Sedangkan Vio hanya menurut saja.


''Iya banget sih, udah berapa bulan. ?''


''Sekitar tiga bulan, oh iya jam berapa sampai di rumah. ?''


''Sekitar jam dua belasan, mungkin.'' Jawab Vio tak yakin. ''Hmmm, ini ada beberapa mainan untuk Baby El.'' Menyerahkan dua paper bag pada Eva.

__ADS_1


''Benarkah, terima kasih tante.'' Ucap Eva mewakili Baby El.


__ADS_2