
Amarah Nadin yang hampir meledak, kini dengan cepat mereda, lantaran mengetahui siapa yang berani menabrak tubuh nya hingga tersungkur di atas lantai.
Meskipun di lihat banyak nya perawat dan para tamu yang sedang menjenguk keluarga nya yang sedang sakit. Kini Nadin mencoba mengontrol rasa malu nya biar tidak ketara di raut wajah nya.
''Arsen.'
''Nadin,'' Balas Arsen.
''Maaf, maaf ya, sudah menabrak kamu hingga terjatuh.'' Ucap Arsen sungkan.
Nadin tersenyum hangat. ''Tidak apa-Apa Ars,. Hmm, seperti nya kamu terlihat terburu-buru hingga tak melihat ku sebesar ini.'' Gurau Nadin, sekilas memperhatikan di sekitar nya.
Karena rasa malu masih di rasakan oleh Nadin.
''Iyah benar aku terburu-buru, karena kak Juan ingin bertemu dengan ku.''
Nadin mengangguk. ''Jadi benar, apa yang kemarin aku dengar.? Kalau kemarin Pak Juan kecelakan demi menolong istri mu.''
''Iya kamu benar. '' Jawab Arsen jujur.
''Bagaiman dengan ke adaan nya.? Apa dia baik-baik saja.?''
''Iya dia baik-baik saja, hanya menjalani operasi kecil di bagian kepala nya . Dan sekarang Kak Juan baru sadar dari operasi nya.''
''Dan kamu, kesini mau ngapain? Apa kamu sedang sakit. ?''
''Sebenar nya aku tadi ke sini juga ingin menjenguk pak Juan, selaku atasan ku.''
''Ya udah, kita bareng saja menjenguk nya. !'' Ajak Arsen masuk ke dalam lift tersebut.
...****************...
__ADS_1
''Nomer berapa kamar nya.?''
''Belum di bales chat aku.'' Jawab Arsen.
Ponsel Arsen tiba-tiba berdering di dalam genggaman tangan nya. Mengetuk dua kali, pesan terbuka siap untuk di baca.
Arsen Mengerutkan kening nya beberapa waktu ketika membaca isi pesan tersebut.
''Tidak terlalu jauh dari lorong istri ku di rawat.'' Gumam Arsen.
Nadin menoleh ke arah samping, yang dimana Arsen berjalan bareng bersama nya.? ''Aku baru ingat, mendengar kamu menyebut kata istri. Bagaimana dengan kondisi istri mu, Ars.?''
Arsen mengembangkan senyuman manis nya, jika mengingat soal istri nya itu. ''Alhamdulillah, mereka berdua selamat dan juga sehat, meskipun kemarin sempat tak sadarkan diri beberapa jam.''
''Mereka berdua.'' Nadin menarik ujung alis nya ke atas.
''Iya, mereka berdua, istri ku dan juga calon anak ku.''
Rasa cinta di dalam hati nya sudah jelas-jelas bertepuk sebelah tangan. Dan sekarang di tambah dengan seorang anak.
Nadin menghela nafas panjang, dengan melihat punggung Arsen yang semakin menjauh.
''Ma. '' Sapa Arsen, saat berpapasan dengan ibu tiri nya itu.
''Mama dari mana. ?'' Sapa Arsen lagi, ketika ibu nya hanya berdiam tanpa ingin menjawab nya.
''Itu bukan urusan kamu.'' Ketus Mama Bunga berlalu masuk ke dalam ruang inap putra nya.
''Itu Mama tiri kamu.?'' Tanya Nadin yang baru mendekat.
Hmmm
__ADS_1
''Galak juga ya, ibu tiri kamu Ars uuups.'' Nadin menyengir, melihat Arsen menatap nya tanpa ekspresi.
''Dasar, mulut lemes.'' Batin Nadin, ketika sadar apa yang barusan keluar dari mulut nya.?
Ceklek
Arsen membuka pintu rawat inap kakak Nya Juan, dan di ikuti oleh Nadin di belakang nya.
''Pa,'' Sapa Arsen, sebelum menghampiri sang kakak nya Juan.
''Baru datang.''
Arsen mengangguk kan kepala cepat, dan beralih ke arah kakak nya Juan yang masih terlihat pucat.
''Bagaimana kondisi mu setelah operasi, kak. ?''
''Bagaimana kondisi Eva. ?Apa dia baik-baik saja. ?'' Lirih Juan, yang bersamaan dengan adik nya.
Arsen menghela nafas panjang sebelum menjawab nya. Menekan rasa cemburu nya terhadap kakak nya Juan yang menanyakan kabar istri nya. Meskipun hal itu masih wajar, paska kecelakan menghantam mereka berdua.
Mengingat lagi sang kakak nya Juan yang baru selesai operasi, kini Arsen memilih menyampingkan rasa cemburu nya itu.
''Mereka berdua baik-baik saja. '' Jawab Arsen, membuat Juan bingung.
''Berdua.''
''Iya, adik mu akan segera memiliki buah hati bersama Eva istri nya.'' Bukan Arden yang menjawab nya, melainkan Papa Burhan yang sangat antusias.
''Ngomong-ngomong soal buah hati, bukan nya istri mu Vio juga sedang mengandung anak kamu.?''
''Kenapa kalian berdua memutuskan untuk berpisah.?''
__ADS_1
Pertanyaan sang Papa Burhan membuat Juan diam membeku. Seraya melirik ke arah Mama nya yang sedang duduk di atas sofa, yang sama-sama saling menatap ke arah yang sama.