
Meskipun ketus, Andreas masih berusaha berkenalan dengan wanita berhijab itu. Entah, kenapa tiba-tiba diri nya tertarik dengan wanita itu, rasa nya dia ingin memilik nya. ?
Tok
Tok, Andreas mengetuk dua kali kaca mobil taksi, yang dimana mesin mobil taksi tersebut sudah menyala. Meskipun sudah menyala dan tinggal menacap gas pergi meninggalkan Club malam itu, tidak menyurutkan niat nya Andreas. Sedangkan Vio, mau tidak mau Vio harus segera membuka kaca mobil tersebut meskipun terpaksa.
Menatap malas, Vio bertanya lebih ketus dari sebelum nya. ''Apa. ?''
Melihat wajah jutek nya wanita berhijab itu justru bikin Andreas gemas swndiri. ''Lain kali kalau ada waktu senggang, kita bisa dinner bareng.'' Mengedipkan sebelah mata nya dengan senyuman yang sangat memuakan bagi Vio.
''Sorry, gak ada waktu.''
Andreas mengangguk-angguk mengerti, ''Baiklah, tapi,,, jika nanti kamu berubah pikiran, kamu bisa langsung menghubungi nomer ini .'' Menyodorkan kartu nama beserta nomer pribadi milik Andreas.
Vio menghela nafas berat nya sejenak, kemudian dia memilih meraih kasar kartu tersebut dari pada panjang urusannya nanti.
Menekan tombol, dengan otomatis kaca tersebut bergerak ke atas lalu tertutup rapat.
''Jalan Pak! !'' Perintah Vio, sambil menyandarkan punggung nya ke belakang dengan mata mulai terpejam.
Vio tersentak kaget, dengan bola mata nya membesar, saat ada kepala tiba-tiba berada di pangkuan nya dengan wajah menghadap ke arah perut nya.
''Apa yang kamu lakukan, hah?'' Pekik Vio tertahan, dengan menahan bahu laki-laki yang berstatus suami nya itu.
__ADS_1
''Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan ya.!'' Tegur Vio, tanpa di endahkan si pelaku nya.
''Sabar neng, nama nya juga orang mabuk. Kamu teriak-teriak pun dia tidak bakal mendengar nya.'' Sahut nya, yang tak sengaja melihat nya.
''Ngomong-ngomong ini neng ya, kita harus berbelok ke arah kiri atau kanan.?'' Tanya sang supir taksi, yang merasa menyetir tanpa tau arah jalan nya.
''Aku juga gak tau alamat rumah nya Pak. '' Vio mulai bingung sendiri, pasal nya dia pernah datang dan sempat tinggal di rumah laki-laki yang berada di pangkuan nya itu. Dengan membawa alamat dari tempat nya bekerja, dan sial nya dia sama sekali tak mengingat nya.
Tidak mungkin kan, kalau diri nya mengambil catatan di tempat nya bekerja. Apa lagi sudah larut malam seperti ini. ?
''Ck, kau menyusahkan. '' Gumam nya, sambil menahan geli di area perut nya. Sengaja atau tidak sengaja Laki-laki yang berstatus suami nya itu mendusel wajah nya di atas perut rata nya.
''Kalau kamu tetap bergerak-gerak, jangan salahkan Aku jika Aku dorong kamu hingga jatuh ke bawah.'' Ancam Vio berbisik tepat di telinga Galen, ancaman yang di berikan oleh Vio kini mampu membuat Galen terdiam, entah pas kebetulan atau Tidak Vio tidak peduli. Yang paling terpenting sekarang ini, harus di bawa kemana orang yang berada di pangkuan nya ini.?
''Masa harus dia bawa ke hotel, nanti di kira aku mau ngapain lagi.'' Batin nya.
''Ke alamat ini saja Pak.'' Putus Vio, setelah berpikir sangat panjang.
...****************...
''Assalamualaikum. ''
''Waalaikumsalam, Iya sebentar.'' Sahut nya, sambil meraih jilbab yang di gantung di dinding.
__ADS_1
Ceklek.
''Vi-Vio ______''
''Nanti saja ya.'' Potong Vio, menarik tubuh Lisa ke arah samping dari tengah pintu.
''Silahkan masuk , dan tolong ya pak langsung bawa ke dalam kamar ku saja. ! Biar nanti aku tidur satu kamar bersama teman ku .'' Ungkap Vio, sebelum ada yang berpikiran yang enggak-enggak tentang aku dan, ah lupakan.
Sang supir taksi sudah selesai dengan tugas nya. Vio segera memberi ongkos sekalian upah yang sudah membantu membopong laki-laki yang berstatus suami nya itu sampai di atas ranjang.
''Alhamdulillah, terima kasih ya neng,! kalau begitu saya pamit pulang dulu.'' Pamit nya berlalu pergi setelah di angguki cepat oleh Vio.
''Kok bisa, kapan pergi nya. ?'' Cecar Lisa, yang baru memasuki kamar Vio.
Vio menaikan bahu nya ke atas. ''Aku lelah, besok aja ya.'' Jawab nya, sambil merapikan selimut. Meskipun dia belum bisa menerima status baru nya itu, namun, sebisa mungkin Vio melakukan hal itu karena perikemanusiaan, gak lebih.
...****************...
Pagi hari nya.
Pagi mulai menyapa. Cahaya matahari perlahan masuk memenuhi sudut-sudut kamar. Tebalnya gorden berwarna kuning keemasan nyatanya tak bisa menghalangi cahaya itu masuk ke dalam ruangan. Perlahan kesunyian di sekeliling tempat tidur nya mulai bisa dirasakan. Kebisingan dari luar mulai terdengar begitu jelas. Nampaknya bukan hanya cahaya matahari saja yang membangunkan tidur Galen, tapi juga obrolan orang-orang yang entah datang dari mana. ? Obrolan mereka benar-benar sangat mengganggu tidur nya.
Dari balik selimut itu, Galen bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Sekilas dia bahkan tidak bisa menebak.
__ADS_1
Segera di sibak selimut nya dan segera melangkah mendekati pintu. Dengan mata yang masih terasa berat, dengan kepala yang masih pusing. Secara perlahan Galen mulai menempelkan daun telinga ke pintu kamar. Segera membuka mata lebih lebar, dan mencari sumber suara tadi. Namun, anehnya suara bising obrolan itu perlahan menghilang begitu telinga nya menempel di daun pintu.
''Tidak seperti biasa nya, tunggu, i-ini bu-bukan kamar ku.'' Pikir Galen yang baru menyadari sesuatu.