Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P 65


__ADS_3

Vio bejalan masuk ke dalam rumah nya sendiri tanpa Juan suami nya di sisi nya.


Memberi ruang, bagi suami nya untuk beberapa waktu.


Berjalan hampir sepuluh menit, lima jemari Vio bergerak memutar knop pintu kamar nya.


Menaruh pakaian kotor nya di dalam ranjang, sebelum melesat masuk ke dalam kamar mandi.


Selama beberapa hari tinggal di kantor polisi, hidup Vio benar -benar tertekan. Bahkan mandi saja, dia hanya satu kali sehari demi tidak ikut antri dengan penghuni lama di sana.


Belum juga soal makanan, dia benar-benar tak berselera banget dengan makanan di dalam penjara.


Di beri kesempatan keluar dari dalam penjara meskipun dengan sebuah syarat. Tanpa pikir kedua kali lagi, dia langsung menerima sebuah syarat tersebut.


Selesai mandi, Vio segera menuju letak pakaian harian nya berada. Selesai berganti baju, dia tak lupa memberi warna pada bibir nya biar tak terlihat pucat.


''Sudah selesai. '' Ucap Vio.


Menarik tubuh nya, berdiri tegak dengan melihat tampilan nya di depan cermin.


''Cantik.'' Puji Vio, memperhatikan penampilan nya sendiri. Pandangan mata Vio jatuh pada perut nya yang sudah sedikit terlihat membuncit, hanya sedikit.


''Aku sudah berusaha melupakan kalian berdua, sepupu ku dan juga mantan kekasih ku. Namun, melihat kalian berdua sangat bahagia kenapa aku gak rela.?''

__ADS_1


Memejamkan kedua mata nya beberapa waktu, ingatan nya kembali saat-saat bersama kekasih nya, Arsen.


''Lupakan. aku harus bisa melupakan Arsen dari dalam hati mu Vio.'' Lirih Vio.


''Kamu ada rasa dengan adik ku. ?''


Vio balik badan, ke arah belakang. ''Iya, dia kekasih ku sebelum affair ini terjadi.'' Ungkap Vio jujur.


''Jadi, saat kamu bilang di putusin sama pacar kamu malam hari nya. Dan pagi hari nya acara pernikahan ku bersama Eva, laki-laki itu Arsen, adik ku.'' Juan sedikit tak percaya.


''Iya, kamu benar.'' Ucap nya berlalu keluar dari kamar nya.


''Tunggu Vio, aku belum selesai.'' Bergerak menyusul Vio yang turun ke bawah.


''Gak ada yang harus di bahas lagi dengan masa lalu. Toh, keadaannya semua sudah berubah dan tidak bisa di putar balik lagi.'' Lanjut Vio membuka lemari pendingin nya.


''Sial, gak ada yang bisa di masak lagi.'' Gumam Vio, melihat isi lemari pendingin nya.


Mengambil telur satu, dan sebungkus mie rebus rasa soto. ''Ini bisa mengganjal perut ku yang sudah kelaparan sejak tadi.'' Mengusap pelan perut nya yang sudah keroncongan minta di isi.


''Siapa juga yang mau membahas masa lalu. ? Aku hanya ingin kamu mendatangani kertas ini.'' Tunjuk Juan pada kertas berada di tangan nya.


Menyodorkan map yang mendominasi warna coklat itu ke pada Vio.

__ADS_1


''Ini syarat yang adik ku minta ke pada mu, dan kamu harus segera mendatangani nya.''


Vio menghela nafas panjang nya untuk beberapa waktu. ''Bisa tidak, mendatangani kertas itu nanti saja setelah aku selesai membuat mie telur ku. Aku sudah laper sejak tadi, makanan di dalam penjara rasa nya tak enak sekali.'' Jelas Vio, mendengus kesal.


''Gak bisa, tanda tangani dulu kertas ini. Biar aku saja yang membuat mie telur untuk mu.'' Perintah Juan tegas, tidak boleh di bantah sama sekali.


''Ok, bawa sini kertas nya sekalian bolpoin nya.''


Juan mengangguk, menyodorkan map dan bolpoin nya di tangan Vio.


''Ingat, jangan mengulang lagi seperti kemarin. ? Jika kamu tak ingin masuk ke dalam penjara lagi.''


''Tidur kedinginan, makan tak enak belum juga dengan hal lain nya.'' Bergerak cepat membuat mie rebus.


''Apa ada satu lagi mie telur nya.?''


''Masih ada mie nya, telur nya hanya tinggal satu itu saja. '' Jawab Vio, yang masih menatap intens isi kertas tersebut sebelum membubuhi tanda tangan nya di sana.


''Kenapa hidup Eva terjamin dari segi keselamatan nya. Belum juga memiliki suami yang sangat sayang ke pada nya, pengertian ke pada nya. Lalu, ada apa dengan kehidupan ku yang sejak dulu selalu menderita seperti ini.'' Ucap Vio menangis frustasi.


''Aku juga ingin seperti dia, memiliki keluarga yang masih utuh. Memiliki suami yang peduli dengan nya dan juga calon anak nya. Kenapa aku selalu gak bisa seperti Eva,? Kenapa.?'' Keluh Vio di sela-sela dia menangis. Dengan kedua telapak tangan nya menutup wajah nya yang basah karena air mata nya.


''Jalan hidup kita di takdirkan berbeda-beda Vio. bahwa jodoh, rezeki, ajal (kematian) dan perceraian adalah takdir dari Allah Ta’ala.'' Jelas Juan sok bijak akhir-akhir ini.

__ADS_1


__ADS_2