
🍁🍁🍁
"Ayah!" Panggil Salma yang berdiri di luar pagar. Sebelumnya ia meminta Raden menghentikan mobilnya ketika berpapasan dengan mobil yang keluar dari kediaman Kardinata.
"Ada apa?" Tanya Raden yang baru saja keluar dari dalam mobil menyusul Salma yang bertengger di depan gerbang.
"Mobilnya berhenti." Tunjuknya pada mobil Lukas yang berseberangan dengan Mobil Ronal dengan arah berlawanan. "Apa ayah mengenalnya?" Tanya Salma yang kemudian melihat Ronal keluar dari dalam mobil menghampiri Lukas yang juga keluar bersama Salma.
"Ronal!" Ucap Raden dengan kaget.
"Ronal?" Tanya Salam melihat ke Raden. "Apa ayah mengenalnya?" Tanya Salma yang kemudian melihat kembali pada Lukas dan Ronal bergantian. "Kenapa Aku belum pernah melihatnya disekitar Ayah?" Melangkah menyusul yang lainnya meninggalkan Raden mengepal tangannya.
"Lu---" Ucap Ronal terjeda sesaat melihat wajah yang begitu mirip dengan Pria yang sedang terbaring koma.
"---Luhan!" Sambung Salma menyelamatkan keadaan. "Ada urusan apa anda dengan pasangan suami istri ini?" Menengadah telapak tangannya keatas menunjuk Lukas dan Salwa bergantian.
"Suami Istri?" Tanya Ronal mengernyitkan salah satu alisnya melihat Lukas dan Salwa bergantian.
"Ya." Jawab Salma. "Wanita di sebelahnya adalah adik saya." Menujuk dirinya dan Salwa bergantian. "Kami berdua adalah a----"
"---Ehem!" Potong Raden menyusul semuanya membuat Lukas dan Ronal kompak menyeringai tipis menyambut kedatangan Raden.
Hal lain apalagi yang disembunyikan Lukas dariku. Kali ini pasti ada kaitannya dengan polisi ini. Batin Salwa melihat Lukas yang sedang meremehkan Raden bersama dengan Ronal.
"Selamat siang Detektif Ronal." Sapa Raden dengan memberikan senyum terpaksa.
"Oh, Dia detektif yah?" Tanya Salma terkejut.
"Ya." Sahut Ronal mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti drama yang akan dimainkan Raden untuk memanipulasi kedua putrinya.
__ADS_1
"Wah!" Puji Lukas mengulurkan tangannya pada Ronal. "Mertuaku benar-benar seorang pebisnis hebat sampai memiliki kenalan seorang detektif." Lanjutnya yang mendapat balasan jabatan tangan dari Ronal.
"Mertua?" Tanya Ronal melihat Raden dan Lukas bergantian.
"Ya." Sahut Lukas dengan senyum merekah melepas jabatan tangan. "Salma." Menunjuk Salma. "Salwa." Menunjuk Salwa. "Mereka berdua putri kesayangan Om Raden." Merangkul Salwa. "Benarkan Om?" Menoleh ke Raden dengan tatapan dingin dan senyum yang merekah.
"Wow!" Sahut Ronal. "Kenapa tidak memberitahuku kalau kamu punya putri-putri secantik ini." Sambungnya melihat Raden yang tak bisa berkutik sama sekali di depan putri dan menantunya yang sangat mirip dengan seorang yang hampir terbunuh oleh rencananya.
"Kalau boleh tahu Om detektif kejahatan apa?" Tanya Salwa.
"Nar---"
"---Gimana kalau kita lanjutin obrolannya di dalam?" Potong Salma membuat Raden menggertakkan giginya. "Om Ronal gak keberatankan?" Tanya Salma yang menggunakan Ronal sebagai alasan untuk membatalkan Lukas dan Salwa yang hendak pergi. Ia tak mengerti kenapa mereka terlihat akur setelah apa yang terjadi tadi malam.
"Oke." Sahut Ronal menyambut undangan Salma yang menghantar dirinya pada kediaman keluarga Kardinata.
"Terimakasih atas sanjungannya Nyonya Kardinata." Balas Ronal meletakkan gelasnya dengan kedua mata melihat ke sekeliling ruangan. "Mungkin ini agak lancang." Ucap Ronal yang telah mendapatkan ingatannya akan Kardinata. "Tapi saya hanya sedikit penasaran pada sesuatu hal." Melihat foto dua anak kembar yang pernah menggemparkan publik pada masanya.
"Mengenai apa Detektif Ronal?" Tanya David yang menangkap Ronal menatap pada foto kedua putranya.
"Waktu itu bagaimana keluarga kardinata bisa menemukan,Luhan?" Tanya Ronal membuat semua yang ada disana melihat dengan mata lebar padanya,kecuali Raden. "Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Ronal. "Apa kalian---" ucapnya terjeda sesaat. "---Ah iya-iya saya mengerti. Kalian berdua mungkin baru merangkak saat itu." Menunjuk Salma dan Salwa. "Jadi dulu Luhan pernah di culik dan beritanya sangat menggemparkan publik." Ucap Ronal membuat David dan Rose saling melihat satu sama lain akan kejadian 20 tahun lalu.
"Yohan!" Panggil Rose saat keluarga mereka bertamasya di salah satu pantai. "Luhan!" Panggil lagi pada putranya yang lain di keramaian para pengunjung lain. "Pada lari kemana sih?" Keluh Rose yang terus mencari keberadaan putra kembarnya. Selang setengah jam Rose bolak-balik namun ia tak kunjung mendapat sahutan akan panggilannya.
Hari pun mulai gelap, satu persatu pengunjung mulai pergi meninggalkan tempat hingga yang tersisa hanya Rose,David dan pengawal yang telah digerakkan mencari keberadaan Yohan dan Luhan.
"Pah gimana?" Tanya Rose sambil menangis. "Udah ketemu?" Menangkup lengan suaminya yang baru saja datang dari pencarian.
"Belum sayang." Jawab David yang kemudian di kejutkan oleh suara teriakan putranya.
__ADS_1
"Mah!" Teriak suara itu berlari sambil melambaikan tangan membuat Rose segera berlari kearah suara itu disusul oleh David dan lainnya dari belakang. "Hah-hah-hah!" Nafas terengah-engah menggapai Rose yang berlari kearahnya.
"Sayang dari mana aja kamu?" Tanya Rose menangkup wajah putranya. "Yohan." Ucapnya memeluk putranya. "Luhan mana?" Mendorong dari pelukan menatap Yohan. "Adik kamu dimana sayang?" Menangkup wajah Yohan. "Kenapa kamu hanya sendiri?"
"Lu---" Ucapnya terjeda melihat David dan Rose bergantian. "---Luhan dibawa mah sama ornagt jahat mah." Sambung Yohan membuat David segera memberitakan ke publik kabar menghilangnya putra mereka,Luhan. Pihak kepolisian bergerak mencari keberadaan Luhan hari itu juga. Pencarian pun dilakukan terus-menerus oleh pihak keluarga Kardinata.
Satu bulan kemudian David Kardinata mengumumkan ke publik bahwa putranya telah di temukan. Namun tak ada yang tahu sampai sekarang siapa penculik Luhan Kardinata saat itu.
"Kalau gak salah usiamu pada saat itu 10 tahun,benar?" Tanya Ronal pada Lukas yang berusaha mengangguk di tengah sebuah rahasia yang disimpan rapat oleh Rose dan David yang tertangkap oleh kedua mata Lukas.
"Hari itu adalah saat-saat mengerikan yang membuat kami semua mengubur ingatan itu sedalam-dalamnya." Ucap Lukas melihat Rose dan David. "Dan sekarang Om malah mengungkitnya kembali." Tegurnya pada Ronal melihat ke Raden yang terlihat jauh lebih santai dari sebelumnya. "Membuatku merasakan kembali momen menyedihkan bersama penculiknya." Menangkap senyuman sinis dari balik gelas yang sedang diseduh Raden.
"Maaf Nyonya saya tidak bermaksud begitu." Ucap Ronal meminta maaf pada Rose yang melihat tatapan dingin dan aura pembunuh disekitar Lukas. "Saya hanya penasaran bagaimana kalian menemukannya." Sambungnya melihat Rose yang menatap dalam kearah Lukas.
"Aku tak menyangka Luhan pernah mengalami hal seperti itu." Ucap Salma melihat Ronal,Rose dan David bergantian. Sementara Salwa terdiam melihat Lukas dan Raden bergantian.
"Luhan." Panggil Salwa membuat Lukas terjaga dari pikiran aneh yang baru saja mendominasi dirinya.
"Ya." Melihatnya ke Salwa.
"Kamu tak apa-apa?" Bisiknya meraih tangan Lukas.
"Aku gak pa-pa." Sahut Lukas.
"Hm." Balas Salwa mengangguk pelan sambil membuat jari mereka saling bertaut. "Semua sudah berlalu." Menatap dalam mata Lukas. "Sekarang kamu sudah disini bersama Papa David." Melihat ke David. "Mama Rose." Beralih melihat Rose. "Dan Aku!" Menoleh kembali pada Lukas. "Wanitamu." Memberikan senyum di kedua sudut bibirnya membuat perasaan Lukas kembali membaik.
"Makasih Sayang." Mengeratkan jari mereka yang saling bertaut.
🍁🍁🍁
__ADS_1