Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
27. Curiga


__ADS_3

🍁🍁🍁


Fyuhh! Suara Jily menghela nafas keluar dari ruangan. Ia tak menyangka bahwa wanita yang menggantikan posisinya adalah istri Bosnya sendiri. Dan kabar baiknya Salwa tak memperhitungkan sikap lancangnya. Sebaliknya Salwa memintanya untuk mendampingi segala tanggung jawab yang nanti akan diserahkan pada Bobi.


"Apa Bos yakin?" Tanya Bobi yang masih belum percaya dengan permintaan Lukas padanya untuk mengorganisir dokumen keseluruhan kerja sama dengan partner bisnis Emperal grup, mengatur segala jadwa pertemuan Lukas dengan klien dan sebagainya, dan mulai detik ini ia akan sebagai perantara komunikasi antara partner kerja dan sebagainya pada Lukas.


"Kenapa?" Tanya Lukas. "Apa kamu tak sanggup melakukannya sebagian personal assistant?" Sambil membalik-balikkan halaman dalam map file hitam yang ada ditangannya.


"Saya sanggup Bos hanya saja---" ucapnya terjeda melihat lirikan tajam Lukas yang tiba-tiba mengarah padanya.


"---Ada apa?" Tanya Lukas.


"Selama ini Bos selalu mengerjakannya sendiri." Jawab Bobi.


"Itu karna kamu tak berguna makannya Luhan mengerjakannya sendiri selama ini." Sela Salwa yang kerap melihat Luhan tetap bekerja didepan laptop saat mereka kencan.


"Bukan seperti itu Ibu Bos." Sangkal Bobi. "Sejak awal saya memang hanya dipekerjakan sebagai Asisten pajangan oleh Bos. Bos selalu mengerjakan segala sesuatu sendiri." Jelas Bobi membuat Lukas membuka profil Bobi yang ada di dalam map file. Ia melihat pendidikan terakhirnya berasal dari universitas ternama di negara ini. Bobi bahkan memiliki pengalaman kerja dengan prestasi gemilang di berbagai perusahaan.


Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Luhan dari orang-orang disekitarnya. Batin Lukas menutup map file.


"Saya melakukan itu karena masih lajang." Melempar map file ke meja. "Tapi sekarang ada hal lain yang menjadi prioritas saya." Menunjuk Salwa yang berdiri disampingnya. "Jadi Saya minta kamu bisa melakukan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai asisten." Pinta Lukas pada Bobi yang mengangguk kegirangan.


"Siap Bos!" Memberi hormat.


"Jika kamu butuh bantuan tenaga untuk menyiapkan segala yang diperlukan kamu bisa meminta Jily membantu." Ucapnya. "Dan berkas yang telah masuk ke kamu nantinya sebelum sampai ke saya harus di berikan pada Salwa." Tambahnya.


"Siap Bos." Sahut Bobi.


Kringggg kringgg! Suara ponsel Salwa berdering membuat wanita itu terjaga dan meminta izin meninggalkan ruangan sebentar.


"Bobi." Panggil Lukas sesaat Salwa melangkah keluar dengan menutup pintu.


"Iya Bos." Sahut Bobi.


"Apa kamu bisa dipercaya?" Tanya Lukas.


"Bisa Bos." Jawabnya. "Apa ada misi rahasia yang Bos ingin saya kerjakan?" Tanya Bobi.

__ADS_1


"Tidak ada." Sahut Lukas melipat kedua tangannya didada sambil menyandar di kursi. "Saya hanya ingin kamu mencari data mengenai seorang." Ucapnya.


"Data siapa Bos?"


"Raden Prakas." Jawabnya. "Saya ingin data dan semua yang ia kerjakan sejak dua tahun lalu hingga sekarang." Sambungnya.


"Emang kemana informasi yang telah saya kasih sebelumnya Bos?" Tanya Bobi membuat Lukas mengeryit.


Eh?! Jadi Dia sudah pernah mencari informasi mengenai Raden untuk Luhan Kardinata. Batin Lukas.


"Bos?" Tegur Bobi membangunkan Lukas dari lamunannya.


"Mengenai informasi sebelumnya saya sudah lihat tapi saat ini kamu bawakan lagi bersama dengan informasi terbaru mengenai orang itu." Pinta Lukas. "Dan Salwa jangan sampai tahu mengenai ini." Sambungnya menarik pulpen didepan dan menuliskan sesuatu di post it. "Kalau bisa hari ini saya dapat semua informasinya." Memberikan alamat email yang ada di post it pada Bobi.


"Ferozkan?" Tanya Bobi membaca nama email yang ada di post it.


"Ya." Jawab Lukas beranjak dari kursi sambil melihat jam dipergelangan tangannya. "Seorang telah meretas emailku sebelumnya." Melihat Bobi.


"Baik Bos." Melipat post it dan memasukkan ke dalam saku jasnya. "Oh iya Bos?" Tegur Bobi saat Lukas akan pergi meninggalkan ruangan.


"Bagaimana dengan Nona Salma?" Tanya Bobi. "Apa masih perlu menyelidikinya?" Mengeluarkan flashdisk dari sakunya. "Saya hanya masih mendapatkan beberapa informasi mengenai dua tahun lalu saat di pesta." Memberikan flashdisk pada Lukas yang menyeringai tipis.


Luhan menyelidiki Salma. Lalu bagaimana dengan Salwa? Apa dia juga mencurigai wanita yang dinikahinya itu? Heh! Batin Lukas.


"Di dalam ada beberapa foto Salma saat pesta baru dimulai hingga ia mengikuti Bos sampai ke halaman belakang." Ucap Bobi.


"Oke." Sahut Lukas menerima. "Hari ini kamu fokus mengenai Raden." Memasukkan flashdisk ke sakunya. "Mengenai Salma besok aja. Kamu cek keberadaan Salma saat saya dan Salwa melakukannya perjalanan bulan madu." Pintanya yang kemudian berbalik kembali meneruskan langkah menyusul Salwa yang keluar dari toilet dengan tergesa-gesa.


"Apa yang terjadi?" Tanya Lukas menangkup kegelisahan di wajah wanita itu. "Kemari!" Merangkul Salwa dan membawanya masuk ke dalam lift yang terbuka dengan mengabaikan keberadaan Jily yang seperti mengawasi keduanya. "Apa barusan telpon dari orangmu yang mengawasi keberadaan Lu---" Ucap Lukas terputus oleh tangan Salwa yang membungkam bibirnya.


"---Jangan disini!" Sambung Salwa melirik kamera cctv yang kini merekam gerak-gerik mereka yang mencurigakan di hadapan Salma. Ia menyamar masuk ke ruang pengawasan yang ada di dalam perusahaan Emperal grup. "Cepat lakukan sesuatu." Desis Salwa yang perlahan menurunkan tangannya dari bibir Lukas.


"Kamu yakin?" Tanya Lukas yang hasrat ingin membungkam bibir wanita itu tertahan sebelumnya.


"Seseorang sedang mengawasi kita." Jawab Salwa.


"Bagaimana kamu tahu seorang telah mengawasi kita?" Tanya Lukas menangkup wajah Salwa.

__ADS_1


"Jily." Jawab Salwa menjulurkan tangannya merangkul leher Lukas. "Luhan tidak begitu menyukainya." Jelasnya.


"Bukankah sekertaris itu orang yang ditempatkan David dan Rose?" Tanya Lukas mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya.


"Salma yang menempatkannya disana melalui Tante Rose." Jawab Salwa.


"Salma?" Tanya Lukas mendorong Salwa pelan menempel ke dinding dan membuat tubuhnya membelakangi kamera cctv.


Sial! Umpat Salma dalam hati sambil membanting meja membuat petugas yang ada disana menoleh padanya.


"Sejak kapan Luhan tertarik pada tubuh anak pungut itu!" Desis Salma dengan menggertakkan giginya beranjak dari kursi.


"Ada apa dengannya?" Bisik petugas lain pada rekannya.


"Entahlah!" Balasnya berbalik menoleh pada Salma yang berbalik badan ke arahnya. "Dia tidak seperti biasanya." Sambungnya melihat foto pada nama tag yang di kalungkan Salma. Ia menurunkan sedikit topinya saat melangkah keluar menutupi wajahnya.


Di waktu bersamaan Salwa masih terperangkap dalam tubuh Lukas yang membatu. Informasi mengenai Salma hari ini berhasil menyita pikirannya.


Ting! Suara pintu lift terbuka membuat Lukas terjaga. Ia menarik dirinya kemudian berbalik dan melangkah keluar begitu saja mengabaikan Salwa.


"Siang Pak!" Sapa para karyawati yang berpapasan di lobby dengan Lukas. Ia hanya mengangguk pelan membalas semua sapaan dengan meneruskan langkahnya keluar.


"Salwa." Panggilnya sambil menoleh ke belakang.


"Ya?"


"Bukankah Luhan sangat menyukai Salma?" Tanya Lukas dibalas anggukan kepala oleh Salwa. "Lalu kenapa dia tidak menyukai orang yang ditempatkan Salma untuknya?" Tanya Lukas lagi.


Dan kenapa Luhan menyelidiki wanita itu diam-diam. Batin Lukas.


"Mungkin karna Kak Salma menolak lamarannya." Jawab Salwa masuk ke mobil yang dibuka petugas valet di ikuti oleh Lukas dari pintu lainnya.


Brakk! Suara keduanya menutup pintu mobil setiba didalam.


Menolak Lamaran,Heh!Aku rasa tidak sesimpel itu. Batin Lukas menatap Salwa yang menyetir disampingnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2