Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
34. Cheers


__ADS_3

🍁🍁🍁


Ting! Suara pintu lift terbuka. Salwa melangkah keluar menuju ruangan Luhan sambil membuka pesan yang dikirim Indri tentang perkembangan kondisi Luhan. Ia kemudian meraih gagang pintu setibanya di depan ruangan.


"Eh?!" Mendorong pintu dari luar. "Apa pintunya di kunci?" Melepas tangannya dari gagang pintu. "Bobi!" Panggil Salwa menoleh ke ruangan Bobi yang berada di sebelah meja resepsionis.


Klekkk! Suara Salwa membuka pintu.


"Apa dia masih dibawah?" Melihat tak ada siapapun di dalam. "Eh?!" Melihat secarik foto tergeletak di meja Bobi. "Itu apa ya?" Tanya Salwa masuk ke dalam menggapai foto yang menarik perhatiannya.


"Bu Salwa!" Panggil Bobi dari pintu membuat Salwa terjaga dan segera menoleh ke belakang. "Apa yang ibu lakukan di ruanganku?" Tanya Bobi masuk dengan melirik kecil pada foto Valen Grey yang berada di atas meja.


"Kunci." Jawab Salwa. "Ruangan Luhan di kunci." Sambungnya. "Saya mau minta kamu membukanya tapi---" ucapnya terjeda dengan menoleh kembali ke atas meja. "---Kamu gak ada di ruangan." Sambungnya dengan meneruskan langkah mendekat ke sisi meja tempat foto berada. "Tadinya saya mau cari sendiri." Meraih foto yang menarik perhatiannya.


Gawat! Batin Bobi melihat foto itu kini di tangan Salwa.


"Ehmm." Mengangkat foto dari atas meja. "Dia siapa?" Membalikkan foto kearah Bobi.


"Gebetan saya Bu." Jawab Bobi yang kemudian merampas foto itu dari tangan Salwa.


"Oh." Sahut Salwa memutar tubuhnya membelakangi Bobi yang tampak buru-buru memasukkan foto dalam map yang ia bawa dari luar. Reaksi itu terlihat sangat jelas dari pantulan kaca di depan Salwa yang menyeringai tipis. "Jily bilang siang ini ada meeting dengan vendor,benarkah?" Berbalik badan kembali melihat ke Bobi.


"Benar Bu." Jawab Bobi meletakkan laptop dan map filenya di meja.


"Lalu kenapa kamu masih santai disini?" Tanya Salwa.


"Meetingnya satu setengah jam lagi baru mulai." Jawab Bobi menyalakan PC-nya mengabaikan Salwa.


"Tapi Jily bilang tadi sele----"


---Brakkk! Potong suara pintu di dobrak membuat Salwa dan Bobi saling melihat satu sama lain.

__ADS_1


"---Apa itu Luhan?" Sambung Salwa melangkah keluar namun dengan sigap Bobi menangkup tangan Salwa.


"Itu bukan Bos." Desis Bobi menahan Salwa untuk keluar dari ruangannya. "Sekelompok orang baru saja menggeledah ruangan Bos." Sambungnya sambil mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat satu-dua orang mengenakan setelan jas rapi layaknya karyawan keluar dari ruangan Luhan. Salah satu dari mereka mengaktifkan earphone di telinganya.


"Bos tak ada apapun ditemukan dalam brankas selain sebuah foto seorang wanita." Ucap Pria itu melihat foto yang kini ada di tangannya.


"Wanita?" Balas Raden dari ujung telpon dengan kedua matanya yang menatap tajam pada Lukas yang menikmati setiap gigitan steaknya.


"Ya Bos." Jawab Pria itu sambil meminta yang lain segera keluar dari dalam ruangan.


"Bawa foto itu dari sana." Perintah Raden mengalihkan panggilan pada Salma yang begitu menikmati kencannya dengan Lukas.


Drrttt! Ponsel Salma bergetar di atas meja membuat Salma terjaga dari pikirannya yang di penuhi oleh pesona Lukas. Panggilan masuk dari Daddy membuat Lukas meraih gelasnya dan meminta Salma untuk mengangkat panggilan dari Raden.


"Halo Yah!" Sambut Salma pada Raden yang menurunkan kaca mobilnya bersamaan dengan lirikan kecil mata Lukas padanya.


"Tidak ada satupun berkas di dalam brankas." Ucap Raden.


"Laporan yang baru saja ayah terima disana hanya ada secarik foto wanita." Jawab Raden. "Kamu harus bisa menahannya hingga malam ini." Perintah Raden yang kemudian mengalihkan panggilan pada nomor anak buahnya yang masih berada di gedung perusahaan Emperal grup. "Keluar dari sana segera." Perintah Raden. "Biarkan Jily yang melakukan sisanya." Sambungnya mengakhiri panggilan dan turun dari mobil menyusul keberadaan Lukas dan Salma. Di waktu bersamaan Jily masuk ke ruangan Luhan di susul oleh Bobi dan Salwa menyalakan monitor kamera cctv yang merekam keadaan ruangan Luhan.


"Tahan Bu." Ucap Bobi pada Salwa selang beberapa detik mereka melihat Jily membereskan kekacauan yang dilakukan sekelompok penyusup sebelumnya. Jily mengembalikan keadaan ruangan ke semula tanpa meninggalkan jejak. "Kita tak boleh menangkap Jily untuk sementara ini." Membuka file rekaman cctv yang ada di meja resepsionis tempat Jily selalu melakukan tugasnya. "Dia memiliki seorang yang besar dibelakangnya." Menunjukkan Jily yang menghubungi seorang diam-diam setiap saat bekerja. Bobi kemudian menunjukan rekaman Jily saat mencoba membobol brankas yang ada di kamar pribadi Luhan yang ada didalam ruangan. "Bos masih membutuhkan Jily untuk menangkap orang yang ada dibelakangnya." Memberikan map file pada Salwa.


"Untukku?" Tanya Salwa menerima map.


"Itu informasi mengenai Salma yang saya kirim ke Bos Luhan sebelumnya." Jawab Bobi yang mengikuti perintah dari Lukas untuk tidak membocorkan pada Salwa bahwa orang besar di balik Jily tidak lain adalah Raden,Ayah yang mengadopsinya.


"Apa Luhan yang memintamu memberikan ini padaku?" Tanya Salwa membuka halaman per halaman lampiran kertas dalam map.


"Ya." Jawab Bobi memperhatikan Jily yang sekarang melakukan panggilan.


Siapa sebenarnya yang selalu ia telpon beberapa hari ini? Bahkan wajahnya sekarang jauh lebih panik dari biasanya. Batin Bobi yang kemudian mematikan monitor dan beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Tanya Salwa terjaga oleh pergerakan Bobi meninggalkan dirinya yang sedang fokus membaca informasi Salma.


"Bertemu Vendor." Jawab Bobi meraih laptopnya dari atas meja.


"Bagaimana dengan Luhan?" Tanya Salwa menutup map file. "Apa kamu tak ingin memberitahu dimana Pria itu sekarang?" Mengangkat wajahnya melihat pada Bobi.


"Kenapa bertanya padaku?" Balas Bobi. "Bukankah Ibu Salwa istrinya?" Tanya Bobi yang kemudian berbalik badan meninggalkan Salwa yang merongoh ponsel dari sakunya.


Kringggg kringgg! Suara ponsel di saku Lukas berdering tepat saat Raden menghampiri meja tempat mereka menikmati lunch.


"Apa tidak masalah jika Salwa melihat kamu masih berhubungan dengan Salma?" Tanya Raden menarik kursi untuk duduk di diantara Lukas dan Salma.


"Selama Om tidak memberitahunya itu tidak akan menjadi masalah bagi Salwa." Jawab Lukas merongoh sakunya. "Benarkan?" Melihat panggilan masuk dari Salwa di layar ponselnya.


"Apa itu telpon dari Salwa?" Tanya Salma yang dibalas anggukan kepala dari Lukas. "Mungkinkah dia mengikuti sampai ke sini." Melihat ke sekitar memasang tampang pura-pura panik di depan Lukas yang meletakkan ponsel yang masih berbunyi.


"Kamu tak ingin menjawabnya?" Tanya Raden pada Lukas yang kemudian menolak panggilan dari Salwa didepan keduanya.


"Buang-buang waktu." Jawabnya dengan memberikan senyum palsu pada Salma dan Raden secara bergantian. "Wanita yang Aku suka ada didepan mata." Sambungnya. "Lantas, untuk apa aku mengangkat panggilan wanita lain." Menjentikkan jarinya memanggil pelayan yang langsung datang dengan botol sparkling wine dan gelas baru di atas nampannya.


Syurrr! Suara sparkling wine yang di tuangkan pelayan satu persatu di depan mereka.


"Thanks." Ucap Lukas pada pelayan yang kembali kebelakang meninggalkan mereka.


"Bukannya kamu lebih suka Red wine?" Tanya Salma yang telah sia-sia menaburkan obat bius dalam gelas Lukas sebelumnya.


"Ya." Jawab Lukas. "Tapi Aku akan lebih suka jika kamu tak memberikan obat bius didalamnya sayang." Jelas Lukas mengangkat gelasnya mengajak keduanya untuk bersulang.


Cheers! Untuk kegagalan hari ini. Batin Lukas yang kemudian menenguk winenya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2