Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 121


__ADS_3

Memetik hikmah dari suatu peristiwa bukanlah hal yang mudah. Selain hati yang tulus, juga diperlukan pikiran yang terbuka untuk mencerna setiap makna mendalam di balik suatu peristiwa.


VIOLET ANGGELINA.


''Namun, terkadang ada saja cobaan yang membuat kita menjadi emosi atau tertekan. Hal itu bisa terjadi karena kita belum menerapkan prinsip kesabaran dan keikhlasan.''


''Jangan sampai cobaan itu meruntuhkan semangat kamu yang baru mencoba lebih baik lagi Vio, apa lagi membuat kamu putus asa.?''


Nasihat dan perhatian dari sahabat baik nya itu terus teringat di benak nya.


''Semangat Vi, aku yakin, pasti ada sesuatu rahasia di balik pernikahan yang kedua, kenapa bisa terjadi.?''


''Aku sudah selesai.'' Ucap Galen tiba-tiba, laki-laki itu meraih tisu lalu menggerakkan tisu ke setiap sudut bibir nya.


''Baiklah mas, mari aku antar ke depan.!'' Ciara bergegas meraih tas kerja milik suami nya itu yang tak terlalu jauh dari meja makan.


''Humm, Terima kasih sayang.'' Bergerak berdiri dari tempat nya, tak lupa kedua tangan Galen mulai merapikan dan tak lupa mengancingkan jas yang sedang dia pakai.


Tanpa meraka berdua sadari jika Interaksi mereka berdua mampu menganggu indera pendengaran Vio terganggu.

__ADS_1


Seakan Vio merasa muak mendengar sekaligus dengan situasi seperti saat ini. Karena situasi seperti ini, dia kembali di ingat kan oleh masa lalu yang di mana perselingkuhan diri nya bersama Juan berlangsung.


''Ingat Galen, istri mu bukan Ciara saja.''


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang Mama, Galen mau pun Ciara di buat terdiam di tempat nya dengan mata saling pandang satu sama lain.


Kemudian beralih menatap ke arah wanita yang masih sibuk dengan kegiatan nya sendiri.


Vio yang merasa tau jika diri nya telah menjadi pusat perhatian di ruangan tersebut, Vio diam-diam menggerutu dengan kesal. ''Kenapa kalian menatap ku seperti itu. ?'' Heran Vio dengan nada acuh. Lebih baik diri nya pura-pura gak tau apa yang barusan terjadi.


''Antarkan aku ke depan. !'' Perintah Galen, dengan sorot mata yang sangat misterius.


Galen tak langsung menjawab mau pun protes, membiarkan wanita yang Berada di samping kiri nya itu beranjak dari kursi nya.


''Terima kasih, atas sarapan pagi nya.'' Kalimat itu lah yang Vio keluarkan sebelum pergi dari sana.


''Kalau begitu, Aku permisi dulu Assalamualaikum.'' Pamit nya berlalu pergi tanpa mencium punggung tangan si pemilik rumah.


Tanpa sepatah kata, mereka bertiga membiarkan wanita itu pergi begitu saja dari hadapan mereka.

__ADS_1


''Apa tante tidak ingin mengantar Kila ke sekolah. '' Tiba-tiba suara gadis kecil yang berusia lima tahun menggema di ruangan tersebut.


''Sayang, bukan nya saat ini masih terlalu pagi.'' Mengusap lembut bahu sang putri tercinta.


''Gak apa -apa Ma, lagian hari ini hari pertama Kila memiliki seorang tante.'' Kila mengalihkan tatapan mata nya dari sang Mama. Dan beralih ke arah wanita yang dia panggil dengan sebutan tante barusan.


Mengerti dengan keadaan, gadis kecil itu segera menggendong tas di punggung nya dan berlalu lari kecil ke arah wanita yang dia panggil Tante itu yang sempat berhenti beberapa waktu.


Usia yang baru lima tahun, tidak mungkin kan sudah mengerti dengan keadaan. Dan sangat mustahil jika memiliki pikiran sedewasa itu jika tidak ada seseorang mengajari nya.


''Pergi lah, susul mereka berdua.!'' Perintah Ciara.


''Iya, istri mu benar. Susul mereka berdua Galen, kalian bertiga membutuhkan waktu untuk bersama, mengenal lebih dalam satu sama lain, bukan seperti itu Ciara. ?'' Timpal Mama Ayda, dengan akhir kalimat meminta sebuah pendapat.


...----------------...


Berjalan mendahului dengan berbalik badan menatap wanita yang dia sebut Tante barusan. Sesekali memutar kepala melihat jalan yang akan dia lalui, tak membuat gadis kecil itu menyerah mengajak Vio mengobrol.


''Apa tante tak suka dengan anak kecil seperti aku. ? Yang imut, manis dan cantik seisi rumah ini.'' Puji Kila dengan wajah di imut kan.

__ADS_1


Vio berusaha keras. mengabaikan gadis kecil di depan nya itu dengan raut wajah datar dan juga dingin. Meskipun sangat menyiksa diri dan menekankan diri untuk tidal peduli, akhir nya Vio bisa sampai di luar rumah megah itu tanpa membalas celotehan gadis kecil itu yang tak mengenal lelah.


__ADS_2