Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
54. Kembali ke posisi seharusnya


__ADS_3

"Bob!" Tegur Indri membuka pintu melihat Bobi yang mengernyitkan keningnya menatap panggilan terputus dari Lukas.


"Ya," sahut Bobi mengantongi kembali ponselnya sambil menoleh pada Indri.


"Di panggil Ibu Wulan ke dalam." Ucap Indri. "Ada yang mau di bicarakan." Sambungnya. "Terkait dengan Ibu Salwa." Berbalik badan di ikuti oleh Bobi yang menyusulnya dari belakang.


Di waktu bersamaan Salwa menoleh ke belakang dan mendapati para pemilik mobil berteriak ke pada mereka sambil menyelinap pergi dari jalur lain.


"Apa yang terjadi?" Tanya Salwa menoleh kembali pada Lukas. "Kenapa kamu tiba-tiba berhenti dan membuat kegaduhan ditengah jalan begini?"


"Kenakan pakaianmu." Sahut Lukas. "Malam ini kita tidur di apartemen Luhan gimana?" Tawar Lukas melihat ke Salwa.


"Bagiamana dengan Bobi?" Balas Salwa. "Bukannya kamu suruh dia ting---"


"---Enggak," potong Lukas. "Bobi tinggal di depan rumah yang ditempati Tante Wulan dan Indri." Menyalakan kembali mobilnya setelah melihat mobil-mobil dibelakangnya pergi. "Kamu gak keberatan kan kalau kita tidur di apartemen suamimu?" Membelok mobilnya ke arah apartemen Luhan dengan melirik kecil pada Salwa yang tampak menolak permintaan Lukas. "Hanya untuk semalam." Tegur Lukas fokus melihat ke depan.


Bukan untuk selamanya. Batin Lukas membawa Salwa ke Apartemen Luhan. Sementara itu ditempat lain Salma duduk di kursi dalam keadaan terikat.


Syuur! Seorang menyiramkan air ke wajah Salma hingga membuatnya terjaga dalam tidurnya. Ia membuka matanya dan melihat Raden berdiri dengan pengawal di belakangnya.


"Katakan padaku dimana Salwa menyembunyikan bunda?" Tanya Raden pada Salma yang sama sekali tidak tahu kemana adiknya itu membawa Wulan pergi.


"Aku tidak tahu Yah." Jawab Salma dengan lemas, wajahnya begitu pucat diterpa oleh cahaya lampu yang menyorot dirinya dalam ruangan tertutup tanpa satu ventilasi pun.


"Bagus sekali." Ucap Raden dengan tepuk tangan. "Kamu mulai berpihak pada adikmu itu." Sambungnya dengan mencengkram kedua pipi Salma membuat wajahnya menengadah ke atas.


"Itu karna Ayah telah mencampakkanku lebih awal." Protesnya. "Harusnya dari awal aku tak mendengarkan perintahmu!" Sambungnya dengan mata penuh amarah. "Aku tak perlu menarik ulur perasaanku pada Luhan yang membuatnya meninggalkanku." Jelasnya membuat Raden melepas cengkraman dari wajah dan menggantikannya dengan sebuah tamparan.


Brakk! Suara kursi tempat Salma terduduk dengan pakaian rumah sakit tersungkur jatuh ke lantai.


"Jangan berikan apapun sampai dia memberitahu keberadaan Wulan." Perintah Raden pada Jily.


"Baik Bos." Sahut Jily berbalik badan pergi menghantar Raden dan pengawal lainnya ke luar meninggalkan Salma dengan kedua mata yang perlahan tertutup.

__ADS_1


Ceklek! Suara Salwa membuka pintu sesaat keduanya tiba di apartemen Luhan. Ia melangkah sangat hati-hati dengan kaki sedikit mengangkang. Lukas yang mengikutinya dari belakang tersenyum melihatnya.


Bagi Salwa berhubungan badan yang ia lakukan dengan Lukas adalah yang pertama dalam hidupnya. Sementara bagi Lukas meniduri perawan adalah hal baru yang pernah ia lakukan.


"Salwa," panggil Lukas.


"Ya?"


"Biarkan Aku menggendongmu ke kamar." Ucap Lukas menggendong Salwa. Ia tak tega melihat Salwa yang masih menahan sakit karna kebuasan dirinya.


"Se-sebenarnya aku bisa sen---"


"---Aku tahu itu sangat sakit." Potong Lukas membuka pintu. "Besok kamu gak perlu ikut ke kantor." Sambungnya membaringkan Salwa diranjang. "Kalau kamu perlu sesuatu telpon aku." Meletakkan ponsel Salwa di samping ranjang.


"Kamu mau kemana?" Tanya Salwa meraih lengan Lukas yang hendak pergi.


"Aku akan istirahat di ruang tamu." Jawabnya duduk kembali di tepi ranjang.


"Aku pikir kamu akan keberatan jika a----"


"---Tubuhku masih sangat sakit." Potong Salwa. "Tapi kamu malah mau meninggalkanku." Protesnya. "Benar-benar tidak bertanggung ja---" keluhnya terputus oleh bibir Lukas yang membungkamnya dengan kecupan lembut.


Cup!


"Salwa," desis Lukas dengan tangan yang mengelus pipinya. "Setelah ini aku tak bisa lagi mengontrol perasaanku padamu." Menatap dua bola mata Salwa. "Apa tak masalah bagimu?" Tanya Lukas.


"Apa kamu menyukaiku,Lukas?" Balas Salwa menangkup wajah Lukas dengan kedua tanganya.


"Aku mencintaimu." Jawab Lukas berterus terang dengan apa yang ia rasakan. "Aku mencintaimu, Salwa." Ucapnya lagi membuat mata Salwa melebar. "Aku tahu ini tidak seharusnya terjadi." Sambungnya menarik tangan Salwa dari wajahnya. "Ini di luar kendaliku." Menarik wajahnya menjauh dari pandangan Salwa. "Aku juga tak seharusnya meno---" Ucapnya terjeda oleh tangan Salwa yang meraih kembali wajah itu dan meraup bibir di depannya. Pergumulan birahi kembali terjadi hingga malam berganti oleh pagi.


Cit Cit Cit! Kicau burung di pinggir kendala yang terbuka menyambut sinar matahari pagi. Lukas menatap keluar jendela sambil mengancing satu persatu lengan kemeja yang ia kenakan. Sesekali matanya melirik pada Salwa yang masih meringkuk di bawah selimut tanpa mengenakan apapun. Ia tertidur pules melepas lelah setelah menghabiskan malam panjang penuh gairah dengan Lukas.


Cup! Suara Lukas mengecup kening Salwa yang membuatnya terjaga.

__ADS_1


"Aku telah membuatkan sarapan untukmu." Ucap Lukas mengelus kepala Salwa dengan lembut. "Jangan lupa untuk menghabiskannya, sayang." Sambungnya membuat Salwa menarik selimutnya keatas menutupi pipinya yang merona. "Istirahat yang banyak ya?" Pinta Lukas beranjak dari tepi ranjang. "Aku pergi dulu." Pamit Lukas melangkah meninggalkan kamar sambil menarik pintu.


Bam! Salwa bangkit terduduk selimut yang menutupi tubuh telanjangnya. Ia melihat senyuman dan pipi meronadalam pantulan cermin di depannya.


Ada apa denganku? Jantungku berdebar begitu kencang dan ada perasaan menyenangkan yang meluap-luap dari dalam hati ini. Batin Salwa yang kembali membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan selimut.


Di waktu bersamaan Lukas menemukan sebuah amplop cokelat di bawah meja ruang tamu. Ia menarik amplop tersebut dan membawa bersamanya pergi meninggalkan apartemen.


Srekk! Suara dokumen yang di keluarkan Lukas dari dalam amplop setibanya dalam mobil. Ia membuka dokumen yang kini berada di tangannya dengan kening mengerut.


Srak srak srak! Suara Lukas membalikan halaman per halaman dokumen yang berisi tentang informasi Valen Grey.


Kringggg! Dering ponsel memecah fokus Lukas dari latar belakang Valen sesungguhnya yang berhasil membuatnya kaget.


"Halo." Ucap Lukas menerima panggilan Bobi.


"Bos dimana?" Tanya Bobi yang sedang dalam perjalanan ke kantor dengan mobilnya.


"Di jalan," jawab Lukas meletakkan amplop beserta dokumen di samping kursinya. "Ada apa?" Tanya Lukas menyalakan mobilnya dengan alis mengernyit.


"Ini Bos mengenai hubungan Valen dan keluarga Kar---"


"---Bobi, Apa kamu bisa dipercaya?" Potong Lukas.


"Bisa Bos." Sambut Bobi dengan semangat 45.


"Untuk beberapa hari kedepan ini saya minta kamu mengambil alih semua tanggung jawab segala urusan yang berkaitan dengan perusahaan." Perintah Lukas memutar roda kemudinya keluar dari basemant.


"Bagaimana dengan Ra---" Ucap Bobi terjeda melirik Wulan dan Indri yang duduk dikursi belakang dari kaca spion.


"---Aku yang akan mengurusnya sendiri." Jawab Lukas. "Kamu hanya perlu memastikan perusahaan stabil sampai aku kem---" Ucapnya terjeda melihat pantulan wajahnya di kaca spion.


---Sampai semua kembali ke posisinya seharusnya. Sambung Lukas dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2