Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
33. Game Over


__ADS_3

๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Lu---" Panggil Salwa tertahan saat berbalik badan meninggalkan Bobi di ruangan dan mengabaikan Jily yang mengernyitkan alisnya. "---Luhan!" Sambungnya menyusul Lukas yang masuk ke dalam lift.


Tup! Suara pintu tertutup sesaat Salwa tiba di depan lift. Ia kemudian beralih menuju tangga darurat mengejar keberadaan Lukas yang meninggalkannya.


"Hah-hah-hah!" Nafas Salwa menuruni satu persatu anak tangga. "Uhh!" Keluh Salwa yang merasa lututnya akan lepas setiap tiba di bordes tangga.


Sementara Lukas telah sampai di basemant. Ia melangkah menuju mobil milik Luhan sambil memakai earphone dan memutar pesan yang dikirim Bobi sebelumnya.


"Heh!" Bibir Lukas menyeringai tipis saat mendengar rekaman percakapan Dafa dan Salma. "Apa kekayaan Raden tidak cukup?" Cibir Lukas masuk ke mobilnya dan meninggalkan Salwa yang baru saja tiba di basemant.


"Sial!" Umpat Salwa yang menggenggam kedua lututnya dengan nafas terengah-engah.


"Salma!" Sambut Jily dari ujung telpon. Ia bersembunyi di balik mobil mengintai keberadaan Salwa yang kini terduduk di lantai dengan mengacak rambutnya. "Luhan baru aja ninggalin Salwa." Lanjutnya yang pelan-pelan melangkah mundur dari tempat persembunyian.


"Oh iya!" Sahut Salma dengan wajah sumringah. "Kalau gitu kamu awasi terus pergerakan Salwa." Perintahnya.


"Bagaimana dengan Luhan?"


"Luhan biar jadi urusanku." Jawab Salma menginjak pedal gasnya menaikan kecepatan. "Kamu hanya perlu membuat Salwa tak punya kesempatan menyusul Luhan." Sambungnya memberi perintah.


"Gimana caranya?"


"Kamu pikirkan aja sendiri bagaimana caranya yang penting jangan sampai Salwa menemukan keberadaan Luhan denganku." Jawab Salma yang kemudian menutup telpon.


"Sialan!" Umpat Jily yang kemudian menyelinap pergi dari basemant sambil menghubungi nomor Salwa.


Kringgg kringg! Suara ponsel Salwa berdering membuat wanita itu beranjak dari lantai basemant menjawab panggilan Jily.


"Ya. Ada apa?" Sambut Salwa menjawab Jily yang sudah sampai di lobby kantor.


"Bu Salwa, Habis makan siang ada meeting dengan salah satu vendor. Tadi saya lupa ngasih tahu Pak Bos."


"Oh gitu." Balas Salwa berbalik badan ke depan lift. "Kalau gitu kamu persiapkan ruangan untuk meetingnya." Melihat jam di pergelangan tangannya. "Nanti habis makan siang saya yang menghadiri meetingnya." Menekan tombol membuka pintu lift.


"Baik Bu." Sahut Jily yang kemudian menutup panggilan lalu bersembunyi dari kedatangan Bobi dari dalam lift. "Huft." Menghela nafas sambil melirik Bobi yang menyandang laptop memberhentikan mobil. "Dia mau kemana di jam istirahat?" Tanya Jily keluar dari persembunyiannya lalu berbalik badan menuju cafetaria sambil menscrol nomor di daftar kontak ponselnya.

__ADS_1


"Kak! Nasi satu, Chicken teriyaki sama tumis brokolinya ya." Pesan Jily pada penjaga cafetaria yang berjaga di pantry. "Sup sama mangganya jangan lupa ya." Tambahnya.


"Minumannya kak?"


"Air mineral satu." Jawab Jily yang fokus melihat ke layar ponselnya sambil sesekali melirik ke karyawan-karyawan Emperal grup di sekitarnya.


"Total 80 ribu kak." Meletakkan pesanan di depan Jily yang memberikan uang kes pas. "Selamat menikmati." Ucap penjaga. "Next!" Lanjutnya bersama dengan Jily yang bergeser dari depan pantry menuju meja paling pojok. Ia kemudian meletakkan piringnya dan menekan salah satu nomor kontak berinisial B pada layar ponselnya.


"Dia lagi ngerjain apa sih sebenarnya?" Tanya Jily sambil mengaduk-aduk makanannya sambil menunggu panggilan yang ia lakukan terhubung.


"Halo." Sambut suara kemudian dari ujung telpon Jily. "Ada apa?" Tanya suara itu pada Jily yang kini menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab.


"Kamu ada dimana?" Balas Jily balik bertanya. "Kenapa dua Minggu ini Aku sama sekali gak bisa menghubungimu?" Tanyanya dengan nada panik.


"Maaf." Sahut suara itu membuat Jily mengerutkan keningnya.


"Bamsss." Desisnya. "Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Jily meletakkan sendoknya. "Apa kalian terlibat masalah disana?" Tanya Jily yang mengetahui bahwa Bams kekasihnya itu dikirim oleh Raden ke Thailand untuk melakukan sesuatu yang di rahasiakan darinya.


"Ya." Jawab Bams dengan nada berat.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanyanya dengan wajah panik.


"Apa?" Sahut Jily beranjak dari kursi sambil membanting meja membuat semua orang di cafetaria melihat ke arahnya termasuk Salwa. "Ma-maaf." Sambung Jily dengan membungkukkan tubuhnya pada orang-orang di sana.


"Dia kenapa?" Tanya Salwa mengambil pesanannya dari atas pantri.


"Lalu bagaimana sekarang?" Sambung Jily kembali duduk dengan tenang di kursinya mendengarkan Bams.


"Ronal baru selesai merekayasa kematiannya. Dan saat ini kami masih menunggu waktu yang tepat kembali kesana tanpa meninggalkan jejak." Jelasnya.


"Kenapa bisa begi---" Ucap Jily terputus oleh kedatangan Salwa di mejanya. "---Nanti Aku telpon lagi." Sambungnya mengakhiri pembicaraannya dengan Bams.


"Hai!" Sapa Salwa. "Apa Aku boleh bergabung?" Pinta Salwa meletakkan piringnya di atas meja Jily.


"Silahkan Bu." Sambut Jily meletakkan ponselnya dengan senyum kecut di wajahnya.


"Thanks." Sahut Salwa yang kemudian menikmati makan siangnya sambil memperhatikan Jily yang tampak gelisah. Sesekali ia melirik ke ponselnya seolah sedang menunggu telpon penting.

__ADS_1


Kringgg kringgg! Suara ponsel Jily berdering setelah keduanya beranjak pergi dari meja bersama piringnya.


"Saya duluan Bu." Ucap Jily mendahului Salwa yang berjalan didepannya menuju pantri.


"Apa itu dari vendor yang akan meeting siang ini?" Tanya Salwa meletakkan piringnya lalu menahan Jily yang masih belum mengangkat panggilan masuk yang terus berdering.


"I-Iya." Jawab Jily gagap. "Saya siapin ruangannya bentar ya Bu." Sambungnya menarik tangannya dari genggaman Salwa.


"Oke." Sahut Salwa membiarkan Jily pergi. Namun dari belakang Salwa diam-diam mengikutinya diantar orang-orang yang keluar dari cafetaria. Ia melihat Jily masuk lewat pintu tangga darurat sambil menerima panggilan di telpon.


"Maaf Bos." Sambut Jily dari ujung telpon. "Saya gak bisa angkat cepat karna tadi ada Salwa." Jelasnya.


"Salwa?" Tanya Raden yang duduk di dalam mobil memantau keberadaan Lukas dan Salma dari kejauhan.


"Iya Bos."


"Ulur waktu untuk dia tidak punya waktu masuk ke ruangan Luhan." Perintah Raden. "Jangan biarkan dia melihat orang kita sedang menggeledah brankas yang ada disana." Sambungnya mengalihkan panggilan ke nomor lain.


Kringgg kringg! Suara dering ponsel di tangan Salwa berdering membuat dirinya mengurungkan niat membuka pintu darui menyusul Jily.


"Halo." Sambut Salwa berbalik badan menuju pintu lift yang di kerubuni orang-orang untuk masuk ke dalam. "Haloo!" Sambut Salwa menyelinap masuk diantara orang-orang membuat Jily kehilangan dirinya.


"Kemana perginya?" Tanya Jily mencari keberadaan Salwa yang mematikan panggilan tak jelas di balik tubuh orang yang berhasil menutup dirinya dari Jily yang memperhatikan orang-orang dari luar lift.


"Jily!" Panggil Bobi ketika pintu lift hendak merapat bersamaan dengan munculnya Salwa dari balik orang yang menutupinya sejak tadi di depan mata Jily.


"Gawat!" Ucap Jily menyusul masuk namun tertahan oleh Bobi yang menarik bajunya dari belakang.


Brukkk! Suara Jily jatuh tersungkur di lantai oleh Bobi membuat wanita itu meringis dan menengadah wajahnya ke atas pada Bobi.


"Aaaaaahhh!!" Teriak Jily pada Bobi yang memasang tampang tak bersalah menekan tombol lift di depannya.


Game over! Batin Bobi menyeringai tipis.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Berikan Hadiah,Vote,Like dan Komen untuk terus dukung Author yaa๐Ÿค—

__ADS_1


Jangan lupa untuk masukkan ke daftar favoritmu๐Ÿค—


Thankyou๐Ÿ˜˜


__ADS_2