
''Jujur, setelah kepergian kedua orang tua mu, Papa sama Mama sudah menganggap kamu seperti putri ku. Ya, seperti putri ku Eva, semua kasih sayang yang aku berikan ke pada Eva putri ku, hal itu juga aku berikan kepada mu.''
''Sebagai orang tua, kita berdua tidak ingin membeda-bedakan kasih sayang kita ke pada kalian berdua.'' Jelas Papa Shidiq, membayangkan sikap dan perhatian nya terhadap dua putri nya di masa lalu.
''Maaf. ''Lirih Vio, menundukkan kepala nya ke bawah karena dia malu dengan sikap nya selama ini. Kedua Pipi Vio yang sudah banjir Air mata yang terus mengalir sejak tadi.
Papa Shidiq menghembuskan nafas berat nya ke udara. ''Aku sudah memaafkan sebelum kamu meminta maaf, meskipun dengan sedikit sulit. Karena Papa sama Mama sangat kecewa atas perbuatan kamu dan juga sikap mu ke pada putri ku Eva.''
''Iya, Papa benar. Mama sangat kecewa dengan kamu Vio. Tetapi semua itu sudah berlalu, dan sekarang kamu sudah datang kesini dengan meminta maaf sama kita berdua. Dan, Mama berharap, kamu bisa berubah lebih baik lagi dari sebelum nya.'' Harap Mama Rosa sebagai seorang ibu. Menginginkan putri nya di jalan yang benar.
''Terima kasih Ma, Pa. Vio akan merubah sikap buruk ku di masa lalu. Dan lebih baik lagi di masa sekarang ini, seperti Mama sama Papa harapkan.'' Ungkap Vio bersungguh-sungguh.
''Semoga, apa yang kamu ucapkan itu benar-benar tulus dari dalam hati mu Nak Vio.? Jangan sampai membuat kedua orang tua kandung mu di alam sana sedih dan kecewa melihat kamu seperti ini.'' Tutur Papa Shidiq.
''Aku janji Pa, Ma. Vio tidak akan melakukan kesalahan seperti kemarin lagi.''
''Apa kamu sudah meminta maaf dengan putri ku, Eva. ?'' Membuat Vio menggeleng lemah.
__ADS_1
''Belum Ma, Vio belum bertemu dengan Eva secara langsung. Dan baru tadi aku bertemu Eva keluar dari rumah ini.'' Ungkap Vio jujur, terakhir kali dia bertemu dengan Eva saat berada di taman kota beberapa bulan yang lalu. Itu pun tidak secara langsung.
''Meminta maaf lah ke pada nya, Vio. Karena hati yang paling tersakiti di sini, iya lah putri ku Eva.''
''Iya, apa yang di katakan oleh Mama Rosa benar.? '' Timpal Papa Shidiq setuju.
''Aku tau Pa, Ma. Tujuan aku datang kesini malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin meminta maaf ke pada Eva, dan juga sama Papa dan Mama.'' Jelas Vio menjelaskan niat awal datang kesini.
...****************...
Di meja makan.
''Iya, ya sayang sabar kenapa.? Nih, minum dulu.''
Eva langsung meneguk segelas kecil susu hamil sampai tandas tak tersisa. ''Udah, sekarang cepat jelaskan.!'' Pinta Eva tak sabaran, dengan mengusap perut nya yang kekenyangan.
''Cium dulu, baru aku jelaskan, sayang.''
__ADS_1
''Aku sudah bersabar ya, sejak tadi menunggu Mas untuk menjelaskan. Apa yang aku dengar di depan rumah tadi. .?'' Gerutu Eva kesal. Eva mencebikkan bibir lalu tangannya terulur mencubit pinggang Arsen, membuat suami tampan nya itu mengaduh kesakitan.
''Iya, ya aku ngalah deh pokok nya kalau sudah main tangan begini.'' Pasrah Arsen.
''Bagus, sekarang jelaskan. !''
''Ok, aku akan menjelaskan nya tetapi, cubitan di pinggang ku di lepas kan dulu, ya.'' Mohon Arsen.
Hmm, ''Sudah, ayo cepat. !''
Ehem, Arsen berdehem beberapa waktu, menetralkan pita suara nya yang terasa sulit untuk mengeluarkan suaranya.
''Maksud aku, tadi aku mengusir Vio karena aku takut dia akan mencelakai kamu lagi sayang, itu saja gak ada yang lain. '' Ucap Arsen dengan menahan kegugupan nya.
''Kapan dia ingin mencelakai aku Mas. ? Aku kok kurang tau ya, yang aku tau dia hanya merebut Mas Juan dari aku, tak lebih.'' Pikir Eva, mencoba mengingat-ingat kembali masa lalu.
''Yah, salah ngomong lagi.'' Batin Arsen was-was.
__ADS_1
''Tunggu, jangan bilang! Waktu di taman kota pelaku nya dia Mas, apa benar dia Mas. ?'' Tebak Eva dengan sorot mata mengintimidasi Sang suami nya, Arsen.
Glek