
''Jadikanlah sore ini sebagai momen penuh syukur menyambut magrib. Bersyukur atas nikmat cahaya yang tak pernah pudar, menghampiri kita setiap hari.''
Secara terang-terangan Papa Shidiq menyindir atau menegur langsung Arsen menantu satu-satu nya itu. Demi kebaikan keluarga kecil putri nya, Papa Shidiq sebagai orang tua selalu menjaga hati serta kebahagiaan putri nya dari pihak ketiga.
Contoh nya, saat tadi Arsen baru memasuki rumah mertua nya itu. Tanpa menunggu lama, Arsen sudah mendapatkan sebuah sindiran pedas.
''Perempuan luar memang cantik-cantik, tetapi tidak secantik hati putri ku.'' Sindir nya saat mereka berpapasan.
Bukan nya Papa Shidiq tidak bisa percaya dengan Arsen, melainkan mencegah lebih baik dari pada mengobati. Sebab, di dalam medis belum ada obat untuk mengobati rasa sakit.
Sesi makan malam akan segera di mulai, anggota keluarga Papa Shidiq satu persatu mulai berkumpul di meja makan.
Penuh bersyukur, Papa Shidiq tidak lupa mengajak keluarga kecil putri nya ikut makan malam bersama di rumah.
Makan bersama adalah waktu keluarga yang penting, itu memvalidasi pentingnya dalam keluarga dan menawarkan sosialisasi yang baik, dan hal itu sangat penting.
__ADS_1
Sesi makan malam pun berlangsung dengan nyaman, tiada percakapan sebelum selesai. Hanya terdengar dentingan sendok yang beradu. Meskipun menu sederhana, tetapi begitu terasa nikmat jika bisa berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi.
''Vi, kamu tidak terburu-buru kan untuk kembali kesana. ?'' Melirik sekilas ke arah Vio yang sedang meletakan gelas.
Vio menaikan kedua alis nya. ''Memang nya kenapa Pa. ?'' Tanya Vio kembali.
Seulas senyuman terbit di bibir laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu,,dengan kepala menggeleng pelan sambil berucap. ''Hmm, kita bisa pergi liburan bersama, mumpung kamu pulang.'' Usul nya, sedikit tak yakin kalau putri nya Vio setuju dengan rencana nya.
Di usia tidak muda lagi, Papa Shidiq hanya mau menghabiskan waktu nya bersama dengan anak beserta cucu nya.
''Maaf Pa, tapi Vio tidak bisa. Ada sesuatu yang perlu aku urus setelah dari sini. Hmmm, bagaimana jika nanti saat Vio balik lagi.? Sekalian Vio bisa meminta cuti satu minggu full sama bos aku.'' Saran Vio.
''Sayang, aku juga sependapat dengan Vio. Apa lagi kamu sedang hamil muda. ? Kepergian itu sangat bahaya untuk kamu dan calon anak kita.'' Menyuarakan pendapat nya, dan mendukung Vio. Mengingat akhir-akhir ini jadwal Arsen cukup sibuk dengan pekerjaan.
Jika sampai pergi berlibur, nanti bisa terbengkalai pekerjaan nya terutama pesanan baju pengantin.
__ADS_1
Bukan tidak mau Arsen ya, berlibur bersama dengan keluarga kecil nya. Melainkan waktu nya sekarang ini yang tidak pas untuk pergi berlibur.
''Arsen, itu hanya liburan. Bukan lari maraton.'' Sungut Papa Shidiq tak suka.
''Aku tau Pa, Papa tau sendiri kan bagaimana kondisi istri ku akhir-akhir ini.?'' Bela nya.
''Kalau kamu tahu kondisi istri mu akhir-akhir ini. Lalu, bagaimana dengan kamu. ? Yang sibuk sendiri dengan pekerjaan kamu.'' Ejek nya, membuat Arsen menghela nafas kesal.
''Ck, ayolah Pa. ! Kalau sama aku jangan terlalu yang enggak-enggak kamu pikirkan. Papa mau, memiliki menantu yang pengangguran di rumah. Yang tidak bisa memberi nafkah ke pada anak dan istri nya. Lagian ya, Arsen selalu memberi kabar ke pada putri papa dari detik ke menit, menit ke satu jam. Tidak pernah absen, setiap jam nya.'' Protes Arsen, meskipun mertua nya itu selalu pedas mulut nya. Tetapi hati nya selalu sayang ke pada anak, menantu dan juga cucu nya.
''Ya, ya ya, Papa tidak akan menang jika harus berdebat dengan kamu. Ujung-unung nya kamu yang akan menang.''
''Nah, itu papa tau, maka nya ja______
''Stop Mas, Pa, kalian berdua jika berkumpul selalu berdebat.'' Heran Eva, meskipun Eva tau, perdebatan mereka berdua itu tidaklah di anggap serius.
__ADS_1
''Ekhem.'' Deheman Vio membuat atensi semua yang berada di meja makan mengarah ke pada nya.
Vio tersenyum kaku, semua pasang mata menatap ke arah nya. ''Ada sesuatu yang harus ku bahas dengan Lisa, kalau begitu aku masuk ke dalam dulu.'' Pamit nya beranjak pergi.