
Di sini lah Juan berada, di dalam ruang penunggu jika ingin bertemu dengan salah satu penghuni di dalam penjara tersebut.
Dua kursi satu meja sebagai pembatas di antara dua insan yang akan bertemu beberapa menit ke depan nya.
''Apa tujuan mu datang kesini.?'' Cetus Vio, yang baru saja keluar dari dalam dan di dampingi salah satu polisi wanita.
Sedangkan Juan masih menelisik seluruh tubuh Vio dari atas sampai ke bawah. Dan berakhir jatuh pada perut istri nya yang masih terlihat rata.
Vio yang seakan tau, ke mana arah kedua mata suami nya itu, kini dia geram sendiri.
''Jangan menatap nya seperti itu. ! Karena kamu tidak berhak memiliki nya.'' Mengepalkan kedua tangan nya tanpa sadar. Vio memilik trauma sendiri dengan kejadian malam itu.
Bayangan masa lalu, ketika dia di paksa masuk ke dalam ruangan untuk melakukan aborsi, kini hati nya masih merasa kan sakit luar biasa. Jika dia mengingat hal itu kembali.
''Berapa minggu. ?''
''Itu bukan urusan kamu.'' Bentak Vio marah.
''Aku Papa nya, jadi aku berhak tau. ''
''Hanya status, Papa dari anak ku.''
Juan menghembuskan nafas berat di udara. Percuma perdebatan ini terus di lanjutkan, karena dia sudah tau, watak asli dari istri nya itu yang tak mau mengalah.
''Apa tujuan mu yang ingin hamil anak ku.? Setelah kita sepakat untuk bercerai.''
__ADS_1
Vio menarik ujung alis nya ke atas, di susul senyuman tipis di sudut bibir nya. ''Karena aku menginginkan seorang anak, meskipun aku sangat benci dengan kamu.''
Juan mengerutkan kening nya beberapa waktu, dia masih bingung dengan alasan Vio berikan. ''Kenapa harus aku yang menghamili kamu. ? Kenapa tidak dengan lelaki lain, saja?''
''Karena kamu, yang saat ini masih berstatus suami sah aku.''
''Dan aku juga ingin, perceraian kita tetap berlanjut. Meskipun saat ini aku sedang hamil anak kamu.'' Ucap Vio yang terdengar memohon.
''Perceraian kita tidak bisa di lanjutkan, karena kamu sedang hamil anak ku.''
''Pengadilan agama juga tidak bisa mengabulkan permohonan aku, meskipun aku memaksa nya.'' Jujur Juan.
''Satu-satu nya jalan, ya menunggu anak kita lahir. Dan perceraian kita bisa di lanjutkan kembali.'' Jelas Juan enteng.
''Menunggu anak ku lahir bukan.?'' Dan di angguki cepat oleh Juan.
''Udah selesaikan urusan kita.? Kalau begitu, pulang lah. Jangan pernah datang kesini lagi.'' Usir Vio, seraya balik badan ingin masuk ke dalam lagi.
''Tunggu. '' Cegah Juan.
''Ada apa lagi. ?''
''Aku akan membebaskan kamu dari dalam penjara.''
''Benar kah, oh, aku sangat terkejut loh. Kalau kamu ingin membebaskan aku dari penjara setelah perbuatan aku lakukan.'' Vio tersenyum meremehkan.
__ADS_1
''Apa yang kamu inginkan dari ku. ?Karena aku tak yakin, kalau kamu membebaskan aku tanpa ada mau nya.''
''Ya kamu benar.''
Mendengar jawaban dari Juan suami nya itu, hati Vio tiba-tiba berdenyut nyeri.
Bukan jawaban ini yang dia inginkan.
''Katakan,! Apa yang kamu inginkan.?''
''Jangan pernah mengganggu Eva lagi. ! Apa lagi ingin mencelakai nya dia lagi.?''
Ha aha ha Vio tertawa miris. Ada kekecewaan yang begitu dalam saat nama Eva di sebut kembali.
''Secinta itukah kamu ke pada nya.?'' Tanya Vio dengan sorot mata yang terluka.
''Aku tau, Eva lebih segala nya dari aku. Dan aku juga tau, apa yang aku lakukan beberapa hari yang lalu itu memang salah aku.''
''Bisa tidak, kamu datang kesini menjaga perasan aku.'' Kedua mata Vio mulai berkaca-kaca.
''Aku sudah siap menanggung akibat yang telah aku lakukan, meskipun kondisi aku sedang hamil. Aku sudah siap untuk masuk ke dalam penjara dengan kehamilan ku ini.'' Ungkap Vio.
''Dan aku mohon, kalau kamu datang kemari berikan aku support bukan menjatuhkan aku sedalam-dalam nya, Mas Juan.'' Jatuh juga air mata yang sejak tadi Vio tahan.
''Apa aku tidak pantas untuk di cintai.?'' Ucap Vio di sela-sela dia menangis.
__ADS_1
Tanpa sadar, Juan menarik Vio ke dalam pelukan nya.