
Pagi hari nya.
Dengan Vio memiliki rutinitas untuk bangun pagi setiap hari nya, semenjak dia masuk ke dalam penjara kala itu. Rutinitas itu tidak pernah Vio lalaikan dalam melaksanakan sholat subuh sebelum menjalani rutinitas sehari-hari nya.
Seperti pagi ini, meskipun dia tidak berada di dalam kos-kosan nya melainkan di tempat orang yang begitu asing. Vio tetap melaksanakan tugas nya sebagai umat muslim yang taat pada agama nya.
Menghela nafas panjang dan berulang kali, sambil menatap bangunan yang bisa dia lihat dari balkon kamar tersebut. Menghirup udara segar di pagi hari, Udara juga membuat Vio lebih tenang. Itu sangat membantu meningkatkan tekanan darah dan membantu mengatur detak jantung.
Sebelum menghadapi drama di pagi hari nanti nya, setelah keluar dari kamar ini. Vio mencoba menenangkan terlebih dahulu dan bisa di bilang ke lebih tepat nya menyiapkan mental untuk selanjutnya.
Di rasa sudah siap, Vio mencoba membalikan badan dan ingin segera cepat keluar dari kamar pengantin tersebut. Hampir saja, jemari nya menyentuh gagang pintu, tiba-tiba terdengar ketokan dari balik pintu di depan nya itu.
''Nyonya muda.'' Terdengar sangat jelas, suara wanita yang sedang memanggil nya dari balik pintu tersebut.
Memutar kunci beberapa kali, akhir nya pintu itu terbuka, dan Vio bisa langsung melihat, wanita paruh baya yang berdiri dengan menenteng paper bag di sebelah tangan kanan nya.
''Ada apa Bi. ?" Tanya Vio, sambil sebelah tangan kanan nya bergerak menutup pintu kamar yang semalam dia tempati.
__ADS_1
"Ini Nyonya muda, dari Tuan muda." Ucap nya serayA menyodorkan paper bag dari tuan muda nya.
"Apa isi nya Bi.?" Tanya Vio tanpa ingin menerima paper bag tersebut.
Bibi yang merasa jika Nyonya muda nya itu seakan tidak ingin menerima nya.
Bibi langsung berkata, "Tolong di terima ya Nyonya, ! Bibi takut nanti Bibi kena teguran." Melas Bibi dengan muka sedih nya.
Vio yang sudah mengerti, apa yang di maksud oleh Bibi nya itu. ? Terpaksa Vio menerima nya dan langsung bertanya sambil berjalan menuju anak tangga yang berada di ujung.
"Terima kasih Nyonya, sudah mau bekerja sama dengan Bibi." Lega Bibi, dengan mengekori Nyonya muda nya itu dari belakang.
Sesampai di anak tangga yang paling terakhir, Vio di kejutkan oleh suara wanita paruh baya yang seperti nya sedang berjalan menuju meja makan. Di lingkaran meja makan itu, Vio bisa melihat bahwa di sana sudah ada keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia yang sedang sarapan pagi bersama.
"Pagi sayang, yuk kita sarapan pagi bersama.!" Ajak Mama Ayda dengan nada begitu lembut, dan iringi seulas senyuman.
Vio segera membungkuk dengan sopan, sebelum membalas sapaan dari pemilik rumah tersebut. "Pagi juga Nyonya, dan terima kasih atas tawaran nya. Tetapi maaf, saya gak bisa Nyonya." Tolak Vio dengan halus, mana mungkin, dia menerima tawaran itu. Sedangkan diri nya ingin sekali segera pergi jauh dari rumah ini.
__ADS_1
''Kenapa kamu masih memanggil ku dengan sebutan Nyonya. ? Sedang kan kamu sudah menjadi menantu keluarga Pratama.'' Tegur Mama Ayda tak suka.
''Mama sudah pernah bilang kan, kalau Mama tak butuh penolakan.'' Bergerak cepat menarik lengan sang menantu nya yang belum genap dua puluh empat jam itu.
''Tapi Nyo____''
''Shuttt, panggil aku Mama, jangan Nyonya.'' Titah Mama Ayda tegas, membuat Vio bungkam seketika.
Mau tak mau akhir nya Vio menurut, dari pada dia terus-menerus berdebat dengan sang pemilik rumah dan berakhir memakan waktu yang cukup lama. Lebih baik diri nya mengalah, dan segera keluar dari dalam rumah tersebut.
''Hari ini kamu antarkan istri kedua mu ke Florist Ola Jaya untuk mengambil cuti atau berhenti bekerja sekalian juga boleh.'' Tanpa beban, Mama Ayda berucap, tanpa memikirkan perasaan sang menantu baru nya itu.
Mendengar menuturkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda. Serentak Vio tidak bisa Terima, berniat pergi ke kota Surabaya ingin memperbaiki diri dan juga mandiri. Kini justru semakin kacau tanpa arah membuat Vio beristighfar berulang kali.
Galen mengangguk cepat, ''Baik Ma.''
''Hai perkenalkan, nama aku Ciara Salsabila istri dari mas Galen juga.'' Sambut Ciara ramah, seakan menerima madu nya dengan ikhlas.
__ADS_1