Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
52. Amarah dan Kecemasan


__ADS_3

Langkah kaki Bams terus mendekat dengan perlahan menuju kolom dimana Lukas dan Salwa berada. Salwa yang bersandar pada dinding kolom menatap Lukas yang berusaha melirik kecil pada Bams dari pinggir sudut kolom.


"Bams!" Panggil Jily saat Bams hampir menggapai keberadaan Lukas dan Salwa yang kini menghela napas dengan pelan. "Kamu ngapain disana kayak orang mau maling?" Tanya Jily menghampiri Bams yang memutar badan menghadap ke arahnya.


"Siapa yang maling?" Bantah Bams.


"Lalu?"


"Bukan apa-apa." Jawab Bams mengalihkan. "Salma gimana?" Tanya Bams mengajak Jily kembali dengan meninggalkan Lukas dan Salwa yang menoleh dari balik kolom.


"Apa mereka sepasang kekasih?" Tanya Salwa melihat Jily merangkul pinggang Bams sambil melangkah beriringan.


"Bisa jadi." Jawab Lukas membuat Salwa menengadah wajahnya keatas melihat Lukas yang mengernyitkan alisnya. Ia menatap lama Bams yang kini meletakkan tangannya di bahu sambil melemparkan senyum pada Jily yang melihatnya. "Berhenti melihatku seperti itu." Tegur Lukas menurunkan pandangannya pada Salwa.


"Kenapa?" Tanya Salwa. "Kamu gak suka?" Sambungnya membuat Lukas menarik diri dengan keluar dari balik kolom.


"Aku harus pergi menemui Ronal hari ini." Jawab Lukas mengabaikan pertanyaan Salwa dengan meneruskan langkahnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku." Protes Salwa menyusul Lukas. "Kenapa?" Menghadang jalan membuat Lukas menghentikan langkahnya. "Apa kamu lebih suka jika Salma yang melihatmu seperti itu?" Menengadah wajahnya ke atas pada Lukas yang terdiam di hadapannya.


"Kamu bisa pergi ke tempat Tante sendiri kan'?" Tanya Lukas yang kemudian menyelonong pergi mengabaikan pertanyaan Salwa. "Aku dengar Indri sudah di sana." Meneruskan langkahnya begitu saja.


"Luhan!" Teriak Salwa membuat Lukas menghentikan langkahnya bersamaan dengan semua orang yang ada disana melihat pada mereka.


Fyuhhh! Hela napas panjang Lukas dengan wajah menengadah ke atas dan turun menunduk.


"Ada apa denganmu?" Tanya Lukas memutar tubuhnya melihat ke Salwa yang berjarak 3 meter dari posisinya berdiri. "Ini rumah sakit," tegurnya. "Lihat, semua orang terganggu karnamu." Melihat orang disekitar mereka yang berbisik menyalahkan Salwa dan dirinya yang mengganggu ketentraman area rawat.


"Apa kamu merasa malu karnaku?" Tanya Salwa yang tak tahu apa yang terjadi padanya. Hatinya merasa sesak mengingat kepedulian Lukas pada Salma ditambah lagi dengan sikap pria itu yang tampak risih akan keberadaannya.


"Bukan." Jawab Lukas melangkahkan kakinya menghampiri Salwa. "Ada apa denganmu?" Menangkup wajah Salwa. "Apa aku ada melakukan kesalahan?" Tanyanya. "Katakan padaku,Hm!" Pintanya. "Jangan marah-marah begini."


"Aku membencimu." Jawab Salwa menepis tangan Lukas dan pergi meninggalkannya begitu saja.

__ADS_1


Harus! Itu harus Salwa! Membenciku akan menghalangi dirimu memiliki perasaan untukku. Batin Lukas menyusul Salwa dari belakang.


Kamu tak boleh menciptakan ruang untukku dihatimu karna itu akan melukai Luhan dimasa depan saat ia kembali ke sisimu. Batin Lukas memutar mobilnya dari depan Salwa yang memilih memalingkan wajah darinya. Wanita itu tampak masih kesal membuat Lukas tak tega meninggalkannya dalam suasana hati yang buruk karna dirinya. Terlebih lagi Salwa adalah wanita yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Ayo naik!" Pinta Lukas membukakan pintu mobil untuk Salwa. "Aku akan mengantarmu ke kantor." Ucapnya. "Akan lebih aman untukmu pergi menemui Tante bersama Bobi." Sambungnya yang tak mendapat respon apapun dari Salwa. "Keras kepalamu itu hanya akan membuat Bams menangkapmu lebih a----"


---Bam! Potong suara pintu mobil yang dibanting keras oleh Salwa saat masuk ke dalam mobil.


"Aku bukan tak mau mengajakmu melihat Luhan." Ucap Lukas menjalankan mobilnya. "Ronal yang meminta untuk aku datang ke sana sendiri menemuinya." Sambungnya. "Aku harap kamu tak salah paham dan berpikir aku sedang merencanakan sesuatu yang lain di belakangmu." Jelasnya yang tak mendapat respon apapun dari Salwa selain keheningan yang menciptakan kecanggungan diantara keduanya.


Di waktu bersamaan Salma terbangun dari tidurnya. Ia melihat Jily dan Bams berdiri di antara ranjangnya.


"Dimana Ayah?" Tanya Salma yang dibantu Jily untuk duduk. "Apa dia tidak datang bersama kalian?" Tanyanya lagi sambil mengusap keningnya sambil mengingat kejadian yang menimpa dirinya tadi malam.


"Bos sedang ada urusan." Sahut Jily. "Jadi beliau tidak bisa datang menjengukmu kesini." Sambungnya yang kemudian meraih meja makan dan menempatkannya di depan Salma.


"Berikan ponselmu!" Pinta Salma pada Jily. "Aku ingin bicara pada Ay---"


"---Makan dulu!" Potong Jily membuka termos berisi bubur yang ia bawa sebelumnya.


"Salma Prakas, bukan?" Tanya Jily memastikan sambil menuangkan bubur ke dalam mangkok.


"Berikan ponselmu sekarang!" Teriak Salma melayangkan mangkok berisi bubur yang baru saja diletakkan Jily.


Pranggg!


Plakk! Tangan Jily melayang ke pipi Salma membuatnya semakin mengamuk dengan menghentakkan tangannya yang terhubung dengan selang infus.


"Salma tenangkan dirimu!" Bentak Jily menangkup bahu wanita itu untuk mencoba menenangkan emosi yang meluap dari relung hati Salma.


"Jily kenapa Ayah memperlakukanku seperti ini? Kenapa?!" Keluhnya yang diteruskan oleh tangisan. "Katakan padaku dimana Ayah sekarang?" Pintanya pada Jily yang menarik diri sambil menghela napas.


"Kamu makan dulu," mengambil kembali mangkok yang baru. "Setelah energimu kembali aku akan memberikan ponsel untuk menghubungi Bos." Menuangkan bubur dari termos. "Kamu bisa menanyakan langsung dimana Bos berada." Memberikan sendok ke tangan Salma. "Bams," panggil Jily melihat darah yang naik pada selang infus.

__ADS_1


"Ya." Sahut Bams.


"Panggilkan suster kesini." Pintanya yang membuat Bams keluar memanggilkan suster meninggalkan keduanya. "Salma apa rencanamu setelah ini?" Tanya Jily menghentikan darah naik ke selang infus.


"Apa maksudmu?" Balas Salma balik bertanya.


"Pria yang datang bersamaku hari ini adalah anak buah Bos." Jawab Jily. "Tadi malam ia baru saja membereskan jasad pengawal Bos yang selama ini berjaga di kediaman kalian." Jelasnya.


Prangg! Suara sendok ditangan terjatuh. Salma terkejut mendengar apa yang barusan di katakan Jily.


"Kamu gak pa-pa?" Tegur Jily.


"A-Aku gak pa-pa." Jawab Salma dengan ingatan tentang jeritan sebelumnya yang datang dari halaman belakang.


"Sesuatu yang besar sepertinya terjadi membuat Bos marah besar pada semua pengawal yang ditugaskan di sana." Lanjut Jily. "Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Jily menatap Salma yang terdiam dengan mengerutkan keningnya sedangkan Bams berdiri dari balik ruangan menyimak pembicaraan.


Sepertinya Salwa dan Luhan berhasil membawa kabur Bunda dari rumah terkutuk itu. Batin Salma dengan tatapan kosong.


"Salma?" Tegur Jily membuat Salma terjaga dari pikirannya.


"Ya." Sahut Salma meneruskan menyuap bubur ke mulutnya mengalihkan pertanyaan Jily sebelumnya yang masih menantikannya.


"Apa ada seorang yang datang?" Tanya Jily yang berusaha mengulik informasi dari Salma atas apa yang telah membuat Raden Prakas murka.


"Aku tak tahu." Jawab Salma menutup rapat bibirnya.


"Apakah itu Salwa?" Tanya Jily membuat Salma tetap terlihat tenang. "Aku melihat dia disini sebelum kami datang." Lanjutnya membuat Bams mengernyit. "Dia terlihat begitu mencemaskanmu." Tambahnya berusaha meruntuhkan kepura-puraan Salma akan ketidaktahuannya pada kejadian yang berakhir dengan pertumpahan darah.


"Oh iya." Sahut Salma tetap mempertahankan kepura-puraannya untuk menghilangkan kecurigaan dari Jily yang sewaktu-waktu akan melaporkannya pada Raden.


"Bams!" Panggilnya. "Bungkam mulutnya." Perintah Jily yang bergerak mengunci tangan Salma kebelakang.


"Apa yang kamu lakukan?" Keluh Salma. "Lepaskan aku!" Teriaknya. "Too---"

__ADS_1


---Plakk! Suara Jily kembali melayangkan tamparan membuat Salma terdiam dengan kedua mata penuh amarah dan kecemasan.


__ADS_2