
''Dan aku juga meminta maaf, tindakan yang kamu perbuat ke pada istri ku. Aku tidak bisa biarin kamu bebas begitu saja.'' Tegas Arsen.
Arsen berusaha mati-matian menahan emosi nya di dalam hati nya. Untuk tidak menghina atau mengatai kasar pada seorang wanita. Meskipun di dalam hati Arsen yang paling dalam, dia ingin sekali melakukan hal itu.
''Aku menyerahkan kasus ini ke pihak yang berwajib. Semoga kamu di beri hukuman setara dengan perbuatan yang telah kamu lakukan ke pada istri ku.''
Vio bukan nya takut, melain dia tertawa sinis. '' Emang nya aku takut, kalau aku masuk ke dalam penjara.''
''Tidak Arsen, jelas tidak. Aku yakin, Mas Juan yang masih berstatus suami aku yang akan datang membebaskan aku karena aku sedang mengandung calon anak nya.'' Ucap Vio tersenyum lebar. Mengusap perut nya yang masih rata beberapa waktu.
''Hamil.'' Gumam Arsen.
''Bukan nya kalian sudah berpisah rumah beberapa bulan, kenapa kamu bisa hamil anak Kak Juan?'' Bingung Arsen mengerutkan kening nya.
''Karena aku_______''
Ucapan Vio terhenti, ketika mendapatkan isyarat tangan dari Arsen untuk berhenti berbicara.
Dret
Dret
''Iya, hallo''
''Juan ingin bertemu dengan mu. '' Ucap Papa Burhan.
__ADS_1
''Aku masih berada di kantor polisi Pa.'' Sahut Arsen.
''Apa kamu sudah bertemu dengan pelaku nya. ?''
''Sudah. '' Jawab Arsen, menoleh ke arah Vio membuat mereka saling pandang beberapa waktu.
''Siapa pelaku nya. ? Apa keluarga kita sudah mengenal nya atau pelaku nya musuh dari perusahaan Papa.?'' Ucap Papa Burhan yang terdengar menahan amarah dari nada suara nya.
''Kalau sampai pelaku nya dari musuh Papa, Papa tidak akan biar kan dia bebas begitu saja.'' Ucap Papa Burhan seperti sebuah ancaman.
''Karena dia sudah membahayakan tiga nyawa sekaligus.'' Lanjut Papa Burhan, dengan rahang mengetat keras.
''Jawab Arsen. '' Bentak Papa Burhan, karena putra nya hanya diam membisu.
''Pa, tahan emosi Papa. Jangan sampai Papa yang jatuh sakit karena darah tinggi Papa kambuh lagi.'' Tegur Arsen dengan nada lembut.
''Bukan nya kak Juan ingin bertemu dengan ku, bukan. ?''
''Iya.'' Jawab Papa Burhan pelan.
''Baiklah, Arsen akan datang ke rumah sakit sekarang juga. Soal pelaku nya, kita bahas kalau aku sudah tiba di rumah sakit.''
Papa Burhan mengangguk lemah, dengan mematikan panggilan telefon dengan putra nya.
''Kenapa kamu tidak langsung menjawab nya Arsen.? Apa kamu berniat ingin melindungi ku sebagai adik kamu. ?'' Sindir Vio.
__ADS_1
''Itu bukan urusan kamu. ''
''Dan untuk kasus ini, aku serahkan semua nya ke pihak yang berwajib. ''
Berlalu pergi meninggalkan Vio, yang akan di introgasi kembali.
''Titip salam untuk suami ku, kalau istri nya sedang mengandung calon anak nya.'' Ucap Vio sedikit keras. Membuat Arsen menghentikan gerakan kaki nya menuju pintu keluar kantor polisi.
Tanpa menoleh ke arah belakang, Arsen kembali melanjutkan langkah kaki nya menuju pintu keluar. Bergerak sedikit terburu-buru menuju mobil nya yang terparkir.
...****************...
Meninggalkan area kantor polisi, kini berganti mobil Arsen memasuki area rumah sakit. Yang di mana,? Di dalam Rumah sakit ada Sang kakak dan sang istri serta calon anak nya sedang di rawat.
''Apa kak Juan akan membebaskan istri nya begitu saja ? Setelah tau kalau istri nya sedang mengandung calon anak nya.'' Gumam Arsen yang tak fokus dengan jalan nya.
Brak
Seorang wanita jatuh tersungkur tepat di hadapan Arsen.
''Maaf, maaf, aku tak sengaja.!'' Ucap Arsen mengulurkan satu tangan nya di depan wanita yang barusan dia tabrak.
''Kalau berjalan pakai mata.'' Gerutu Nadin yang masih sibuk membersih kan pakaian nya.
Melihat sebuah tangan yang terulur di depan mata nya, membuat Nadin menerima uluran tangan tersebut untuk dia bangkit berdiri.
__ADS_1