Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
11. Pencarian


__ADS_3

🍁🍁🍁


Brukk! Suara Lukas terjatuh sesaat mendengar rantai yang dililit bersama gembok besar bergetar. Bams berhasil menemukan pintunya dan berusaha mendobrak dari dalam.


"Aku tak punya banyak waktu lagi." Ucap Lukas beranjak dari tanah menaiki tangga besi lalu membuka plat besi yang menutup lubang gorong-gorong di depan gerbang.


Klang! Suara Lukas meletakkan plat besi disampingnya lalu beranjak keluar sambil mengawasi pergerakan anak buah Bams.


"Hah-hah-hah!" Suara nafas Lukas kembali menutup lubang gorong-gorong. Ia kemudian mendorong mobil Ronal tepat di bawah gorong. "Sekarang aku harus kemana?" Melihat jalan keluar arah kota. Mustahil baginya bida lolos jika ia berlari kearah kota. "Lebih baik aku sembunyi di hutan." Ucapnya berlari masuk ke hutan dengan nafas terengah-engah.


Sementara itu Bams dan Ronal berhasil memutuskan rantai hingga pintu roboh kedepan. Namun keduanya terjebak di bawah mobil yang menghalangi mereka keluar dari lubang gorong.


"Sial!" Umpat Bams. "Cepat temukan orangnya dan seret jasadanya kedepanku segera!" Perintah Bams yang kemudian memukul dinding gorong.


"Ckckck!" Decak Ronal berbalik badan. "Kau begitu hanya akan melukai diri sendiri saja." Sambung Ronal yang melangkah kembali keruang rahasia Lukas mengikuti yang lain.


"Kau tak ikut mencari?" Tanya Bams selang beberapa detik kemudian mendapati Ronal memeriksa lemari diruang bawah.


"Apa perlu aku ikut untuk mencarinya?" Balas Ronal yang kemudian mencabut kabel yang terhubung dengan alat penyadap. "Saat kau memiliki begitu banyak anak buah?" Melempar kabel pada Bams.


"Kalau kau tak ingin ikut terkubur disini." Ucap Bams dengan mendekat pada Ronal yang menaikan salah satu alisnya. "Enyalah dari hadapanku!" Ancam Bams.


"Nyalimu memang sungguh luar biasa." Sahut Ronal beranjak dari tempatnya dan mendapati anak buah Bams membawa bom yang telah di rakit. "Heh!" Cibir Ronal menoleh pada Bams yang meminta anak buahnya segera memasangkan bomnya untuk meledakkan ruang bawah.


"Berdiri di radius 25 meter jika kau tak ingin terkena panasnya." Ucap Bams mengingatkan Ronal yang pergi meninggalkannya dengan menggelengkan kepala.


Dalam hitungan lima puluh bom meledakkan ruang bawah dan menghancurkan beberapa runtuhan yang sebelumnya telah hancur lebih awal. Ditengah kejaran Lukas menghentikan langkahnya sesaat. Ia berbalik badan melihat gumpalan asap keluar dari arah gedung.

__ADS_1


Dorr! Suara tembakan menggores pinggir lengan Lukas membuatnya terjaga.


"Berhenti!" Teriak suara pada Lukas yang berbalik badan sambil menangkup lengan bajunya yang robek dan mengeluarkan darah.


Dor Dor Dor! Tembakan anak buah Bams pada Lukas yang berlari. Ia menyelinap bersembunyi diantara pohon-pohon besar yang dilalui untuk menghindari tembakan. Bams yang samar-samar mendengar teriakan anak buahnya bersamaan dengan tembakan berbalik badan melihat ke arah hutan.


"Apa mereka menemukannya?" Tanya Ronal pada Bams yang menarik senapan panjang mengabaikan Ronal. "Apa kau akan menangkap dan membunuhnya juga?" Tanya Ronal menurunkan senapan dari pandangan Bams yang sedang membidik.


"Lebih baik kau pergi jika hanya ingin menggangu." Jawab Bams.


"Hei, jangan tegang begitu!" Canda Ronal meraih senapan dari tangan Bams. "Kau begitu berubah drastis setelah kepergian Alex." Sambungnya membidik kearah anak buah Bams.


"Berikan?" Pinta Bams pada senapan yang di pegang Ronal.


"Kita harus membuatnya hidup!" Jawab Ronal menurunkan senapan dari pandangannya. "Apa kau tak ingin kembali ke pekerjaanmu dulu?" Tanya Ronal mengingatkan Bams yang dulu bekerja sebagai kurir barang ilegal bersama Alex dan juga Lukas. "Kau tahu?" Tanya Ronal membuat Bams terjaga dari lamunannya. "Pekerjaan itu jauh lebih baik dari pada mengotori tanganmu ini dengan darah orang-orang yang tak memiliki masalah denganmu." Meraih tangan Bams dan meletakkan senapan diatasnya.


"Maksudku mari memelihara seseorang yang bisa menghasilkan banyak uang dari---" Ucapnya terputus mengeluarkan sesuatu dari sarung senja di badannya. "---Ini!" Menunjukkan botol kemasan berisi obat yang dibuat oleh Lukas. "Gimana?" Tawar Ronal pada Bams.


"Berhenti menghasutku untuk kepentingan pribadimu." Tepis Bams melangkah masuk ke hutan menyusul anak buahnya


"CK!" Decak Ronal yang gagal melakukan tipuannya untuk memperoleh obat-obat terlarang itu dengan mudah. Di waktu bersamaan pesawat Salwa baru saja mendarat di bandara internasional shurvanabhumi.


Tap tap tap! Suara langkah Salwa selang beberapa menit kemudian keluar dari pesawat. Ia berjalan sambil mengaktifkan ponselnya dan melacak lokasi keberadaan Lukas. Sebelumnya Salwa telah menanamkan sistem pelacak di ponsel Lukas untuk mengetahui keberadaannya jika sesuatu terjadi pada Luhan.


"Apa ini Villa?" Tanya Salwa mendeteksi lokasi Lukas berada di bangunan tengah hutan dengan sebuah danau panjang didepannya. "Benar-benar kriminal yang memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang." Sambungnya menganggap Lukas sedang menikmati liburan.


"Nona mau pakai mobilnya untuk berapa hari?" Tanya petugas rental mobil pada Salwa.

__ADS_1


"Dua hari!" Jawab Salwa yang kemudian melakukan pembayaran dan menerima kunci mobil.


Brooom! Suara Salwa membawa mobil mengikuti gps yang mengarah ke tempat Lukas berada.


"Apa perlu aku membawakan sesuatu yang bisa dimakan?" Tanya Salwa dalam perjalanan melihat restoran dan cafe disepanjang jalan. Selang beberapa jam Salwa melaju di jalanan hingga dirinya tak menemukan gedung-gedung dan lainnya. Bahkan ia tak melihat pom bensin di sepanjang jalan untuk berhenti sekedar menumpang toilet.


"Kenapa jalanan ini terlihat seperti kuburan?" Tanya Salwa menilik sebentar keatas dari kaca depan mobilnya. "Padahal masih terang begini." Melihat langit biru yang bersih tanpa secuil awan lalu kembali melihat jalan sambil menilik jam ditangannya menunjukkan pukul empat sore. Dari jarak 1 km dari posisi mobilnya yang melaju Salwa melihat sebuah mini market di depannya.


"Akhirnya ada juga!" Menghentikan mobilnya. "Sepertinya aku harus membawakan sesuatu untuk membujuknya." Ucap Salwa masuk ke dalam mini market.


"Turis ya?" Tanya kasir yang menjaga menggunakan bahasa asing pada Salwa yang akan membayar belanjaannya.


"Ya." Jawab Salwa memberikan uang kes setelah melihat total belanjaannya. "Saya mau ke Villa ini." Tunjuk Salwa pada lokasi Villa yang ada di ponselnya.


"Tapi tak ada Villa apapun disana kecuali sebuah Villa terbengkalai di depan danau." Jelas Kasir itu memberikan kembalian uang Salwa.


"Saya hanya ingin mengeceknya." Sahut Salwa agar tidak memberikan kecurigaan pada Kasir. Lalu pergi melanjutkan pencariannya terhadap Lukas yang jatuh terguling kejurang dalam kejaran dan tembakan bertubi-tubi.


"Aaaaaahhh!" Jeritan Lukas saat tubuhnya menghantam sesuatu yang tajam membuat perutnya tertusuk.


"Dia terjatuh kebawah Bos!" Teriak salah satu anak buah pada Bams yang tiba ditempat bersama dengan Ronal.


"Semua turun!" Perintah Bams. "Tak peduli hidup atau mati kalian harus tangkap dia!" Sambung Bams membuat semuanya turun kebawah kecuali Ronal. Ia menatap langit yang kini berwarna jingga bersamaan dengan Lukas yang bangkit berdiri mencari persembunyian. Namun darah yang menetes dari tubuhnya membantu anak buah Bams menyusulnya dari belakang. Dengan rasa pedih dari perut yang berdarah dan nafas terengah-engah Lukas terus berlari di antara hutan belantara.


Tembakan kembali terdengar dari dalam hutan membuat Salwa yang baru saja tiba di depan gerbang terkejut.


"Apa yang terjadi disini?" Tanya Salwa memarkirkan mobilnya di antara mobil yang terparkir depan gedung. Ia keluar dari mobil sambil memakai ranselnya. "Lukas!" Panggilnya masuk kedalam runtuhan gedung dan melihat beberapa mayat tergeletak didalam. "Dia tidak ada disini." Melihat posisi Lukas terdeteksi 200 meter dari tempat dia berdiri. "Apa seseorang sedang mencarinya juga?" Melihat pergerakan posisi Lukas di layar ponselnya yang semakin menjauh dari gedung. "Gawat!" Berbalik badan. "Aku harus menemukannya lebih dulu dari mereka!" Berlari keluar gedung mencari Lukas ke dalam hutan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2