Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P 84


__ADS_3

Sudut bibir Vio tersenyum lebar, ketika tau siapa yang yang sedang menjenguk nya kini.? ''Papa.'' Sebut Vio pelan, berlalu cepat ingin memeluk om nya yang sudah seperti Papa kandung nya sendiri itu.


Namun, melihat Papa Shidiq melangkah mundur. Membuat Hati Vio sakit, kini dia baru tau kalau kesalahannya kemarin-kemarin masih juga belum dimaafkan.


''Saya ingat kan Pak, Bu. waktu kalian berdua tidak banyak.''


Seketika Papa Shidiq mengangguk cepat. ''Ya, terima kasih Pak. ''


''Kalau begitu, saya tinggal dulu. '' Imbuh nya lagi.


Dan diangguki cepat oleh Papa Shidiq lagi ''Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Pak. '' Ucap Papa Shidiq.


Setelah kepergian bapak polisi yang mengantar Vio, kini kedua nya saling tatap satu sama lain. Hampir beberapa menit, suara Vio baru memecahkan keheningan, kecanggungan di antara mereka berdua.


''Terima kasih, Papa masih mau menjenguk Vio.''


''Kita duduk dulu.!'' Ajak Papa Shidiq, yang terlebih dulu menjatuhkan pantat nya di kursi kayu yang sudah di sedia kan oleh kantor polisi. Kemudian di susul oleh Vio, duduk di depan Papa Shidiq.


Papa Shidiq menghela nafas panjang sesaat, sebelum lanjut berbicara dengan ponakan nya itu. ''Aku datang ke sini sebagai Om kamu, bukan panggilan Papa seperti sebelum nya.'' Membuat Vio mendongak, menatap bola mata Papa Shidiq dalam-dalam, di dalam sana Vio masih bisa melihat, rasa kecewa yang teramat besar untuk diri nya.


Vio menelan pil pahit, kesalahan kemarin masih belum bisa di maafkan, meskipun diri nya sudah berada di dalam penjara. ''Baiklah, aku mengerti. Terima kasih Om, masih mau menjenguk Vio.'' Ucap Vio dengan suara tercekat di tenggorokan menyebut nama panggilan Om.

__ADS_1


''Aku tau Pa, eh Om. Kesalahan Vio memang cukup fatal, meski pun diri ku sudah berada di dalam penjara. Namun peristiwa yang sudah terjadi tidak mudah untuk di lupakan.'' Ucap Vio sendu, dengan bola mata berkaca-kaca mengingat kekejaman diri nya untuk menyingkirkan saudara sepupu nya itu.


''Aku memang pantas mendapatkan balasan seperti ini, Om. Jadi, Om tak perlu repot-repot menjenguk Vio di dalam sini.''


''Aku menjenguk mu sebagai Om kamu, bukan Papa nya Eva.''


Mengusap lembut tangan Vio yang berada di atas meja beberapa waktu. ''Bagaimana keadaan mu selama tinggal di sini. ?''


''Keadaan Vio baik Pa eh Om. Maaf Vio belum terbiasa.''


''Iya, nanti juga terbiasa. Dan ini, tadi Aku mampir membeli martabak manis untuk mu.'' Menyodorkan satu bungkus martabak manis di atas meja tepat di depan Vio duduk.


''Terima kasih Om, Om masih mengingat makanan kesukaan nya Vio.''


''Pasti nya Om. ''


''Hmm Om.'' Panggil Vio, dengan sedikit keraguan untuk bertanya.


''Iya. ''


''Apa Om pergi ke sini, tante Rosa tau ?''

__ADS_1


Papa Shidiq menggeleng cepat. ''Tidak, dan alasan nya kamu pasti nya sudah tau. ''


Vio mengangguk lembah. ''Iya, Vio sudah tau Om. ''


''Seorang ibu yang telah melahirkan putri nya susah payah, belum juga perjuangan mendapatkan Eva dulu sangat lah sulit. Tiba-tiba ada orang yang ingin membunuh sang putri tercinta. Kamu pasti nya sudah tau bukan, bagaimana perasaaan nya sekarang ini. ?'' Ucap Papa Shidiq sedikit menyindir.


Tes, tanpa di minta Vio menitikkan air mata nya dengan cepat. Dia kembali terisak pelan mengingat dua kali calon anak nya telah pergi.


''Maafin Vio Om hiks, hiks. Maafin Vio.'' Vio menundukkan kepala nya ke bawah dengan punggung bergetar.


Satu tangan Papa Shidiq bergerak mengusap pucuk kepala ponakan nya itu yang bergetar karena menangis.


''Rasa sakit hati dan kecewa, membutuhkan waktu Vio. Jadi Om berharap, selama kamu tinggal di sini kamu bisa berubah lebih baik lagi.''


Vio mengangguk cepat, ''Apa Vio berubah? Keluarga Om masih mau menerima kehadiran Vio kembali Om.'' Lirih Vio di sela-sela dia menangis.


''Biarlah waktu yang menjawab nya nanti, yang terpenting kamu sudah berusaha lebih baik dari sebelum nya.''


''Aku janji Om, Vio akan berubah lebih baik dari sebelum nya.''


''Papa nya Eva tidak membutuhkan janji, dia membutuhkan bukti Vio.'' Membuat Vio mengangguk yakin.

__ADS_1


''Akan ku lakukan itu Om.''


__ADS_2