Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
48. Batsyeba


__ADS_3

25 Tahun lalu setelah dua bulan pernikahannya, Wulan dikejutkan oleh keberadaan Raden yang tiba-tiba ada di dalam kamarnya.


"Siapa kamu?" Tanya Wulan sambil melihat Raden yang masih berbicara dengan seorang pengawal di bawah tangga. "Ke-kenapa wajah kamu---" ucapnya terjeda sesaat Raden yang ada di dalam kamar mendekat padanya dan melirik keluar pintu. "---Aku bakal teriak ka---" sambung Wulan terputus oleh tangan pria di depannya yang membungkam mulutnya.


Bam! Suara pintu tertutup oleh Pria yang kini menarik Wulan ke dalam walk in closet.


"Wulan." Ucap pria dengan wajah yang mirip Raden menarik tangannya dari mulut Wulan. "Ini Aku Raden tunangan kamu yang asli." Sambung Raden menunjukkan bekas luka di bawah rambut belakang daun telinganya pada Wulan.


Bug! Wulan terjatuh duduk di lantai setelah melihat bekas luka.


"Lalu siapa pria yang menikah dan---" ucapnya terjeda mengingat dirinya yang telah mengandung satu bulan. "---Aku benar-benar bodoh." Sambungnya memukul perutnya didepan Raden yang segera memeluknya.


"Ini bukan salahmu sayang." Ucap Raden berusaha menenangkan Wulan yang terus-menerus menyalahkan dirinya akan apa yang telah terjadi. "Berhenti memukulnya." Menangkup tangan Wulan untuk menghalangi dirinya yang terus memukul janin dalam kandungannya. "Dia tidak bersalah sayang." Menangkup wajah Wulan yang dibanjiri oleh air mata yang terus mengalir.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Wulan dengan terisak. "Dia memiliki wajah yang sama denganmu." Ucapnya. "Aku saja tak cukup untuk membuktikan kamu adalah Raden Prakas yang sebenarnya." Sambungnya yang kemudian menghamburkan diri memeluk Raden Prakas. "Maafkan Aku." Mengeratkan pelukannya.


"Kamu tak perlu minta maaf." Mendorong pelan pelukan untuk melihat wajah Wulan. "Ini semua diluar dugaan kita semua. Daddy menikahi wanita yang salah dan membuat kamu harus terjebak dalam pernikahan dengan Pria---"


"---Ssst!" Potong Wulan. Ia tak ingin pria yang di cintainya itu melanjutkan kenyataan menyakitkan untuknya. "Aku akan gugurkan kandungan ini untuk kamu." Sambungnya.


"Kamu gak boleh melakukan itu sayang." Tolak Raden. "Janin di kandungan kamu gak tahu apa-apa mengenai apapun yang telah terjadi hingga saat ini." Menangkup kedua bahu Wulan. "Aku gak masalah selama itu anak kamu, aku akan terima. Kamu harus jaga dan rawat dia." Ucap Raden yang membuat Wulan malah melakukan sebaliknya. Setiap ada kesempatan Ia berusaha menggugurkan kandungannya dengan berbagai cara. Namun janin yang ada dalam kandungannya berhasil meloloskan diri membuat Wulan menyerah di tengah jalan. Ia kemudian meminta Raden untuk tinggal di rumah itu bersamanya hingga bayi dalam kandungannya lahir. Raden pun tinggal di salah satu kamar yang memiliki pintu penghubung ke kamar Wulan dan Dafa. Dafa yang sibuk mengurus kamp pelatihan dan kasinonya tak menyadari keberadaan Raden yang selalu menghabiskan waktu dengan Wulan.


"Huaaaa!" Suara tangisan bayi menyeruak dari ruangan bersalin membuat Dafa Grey menyambut kelahiran Salma. Demikian juga dengan Wulan yang telah bersiap-siap melarikan diri bersama Raden untuk mencari keberadaan Valen. Hanya Valen satu-satunya yang dapat membuktikan putra James Prakas asli adalah Raden Prakas yang berdiri di sampingnya. Namun,


"Sayang tak bisakah kita membawanya?" Tanya Raden sebulan setelah Wulan benar-benar pulih.


"Buat apa?" Tanya Wulan balik menoleh pada Salma yang tertidur di keranjang. "Dia hanya akan menyusahkan kita." Sambungnya mengalihkan pandangannya pada Salma. "Pria itu akan mencari keberadaan kita dan---"


---Tok tok tok! Potong ketukan pintu dari luar mengagetkan keduanya.

__ADS_1


Klekk! Pintu terbuka oleh Wulan dan mendapati Dafa berdiri diluar pintu dengan kening mengerut.


"Kamu dah pulang," sapa Wulan. "bukannya tadi pagi bilangnya mau keluar kota." Sambungnya mengikuti Dafa yang masuk kedalam kamar.


"Aku sudah suruh orang lain kesana." Sahut Dafa melepaskan jasnya lalu mendorong Wulan jatuh ke ranjang. "Apa kamu baru selesai mandi?" Tanya Dafa mencumbui leher Wulan dengan tangan yang menjulur masuk dari bawah gaun.


"Ya." Jawab Wulan yang melihat Raden memalingkan pandangannya dari dia dan Dafa. "Sayang ini baru sebulan a----"


"---Tapi aku menginginkanmu." Potong Dafa yang mengangkat salah satu kaki Wulan keatas memperlihatkan pusat tubuh tertutup kain tipis.


"Ra---"


---Kringgg! Potong dering ponsel yang kemudian disusul oleh suara tangisan Salma. Bayi perempuan itu terkejut oleh dering ponsel yang membuat Dada melepas cumbuannya dari Wulan.


"CK!" Decaknya sambil menerima panggilan yang membuatnya keluar meninggalkan Wulan,Salma dan Raden yang keluar dari persembunyian.


"Sayang maafkan aku." Ucap Wulan menutup pintu dan menguncinya dari dalam. "A-Aku---"


"Kenapa?" Tanya Wulan. "Apa kamu masih ingin melihatku melayani pria jahat itu?"


"Aku hanya tak ingin kamu kenapa-napa sayang." Jawabnya yang kemudian meraup bibir Wulan di saat Dafa bergegas meninggalkan kediaman Prakas diikuti oleh pengawal dari belakang.


Satu tahun berlalu Dafa sibuk mengurus hotel secret peninggalan James Prakas. Sementara Raden telah mengambil alih menjadi teman ranjang Wulan setiap malamnya.


"Sayang aku hamil." Ucap Wulan di pagi hari membangunkan Raden dari tidurnya. "Sayang aku hamil anak kita." Tambahnya lagi penuh haru dan senyum bahagia di wajahnya membuat Raden memeluknya dan memikirkan cara agar Dafa tak mencurigai kehamilan Wulan yang selama satu tahun ini tak pernah tidur dengannya.


Bug! Suara Dafa terjatuh di ranjang setelah meneguk alkohol yang dicampur oleh obat tidur. Raden kemudian melucuti seluruh pakaian Dafa dan membuat dirinya seolah telah melakukan hubungan intim dengan Wulan.


"Kamu hamil?" Tanya Dafa satu bulan setelah dirinya terbangun di ranjang bersama Wulan.

__ADS_1


"Iya sayang." Sahut Wulan mengelus perutnya.


"Gugurkan!" Pinta Dafa membuat Wulan terkejut begitu juga dengan Raden yang mendengarnya dari balik pintu. "Aku hanya membutuhkan satu pewaris." Sambungnya. "Memiliki dua anak akan membuat mereka saling membunuh satu sama lain di masa depan." Tekannya membuat Raden mengernyitkan keningnya lalu bergerak mencari tahu latar belakang Valen Grey dan Dafa Grey sebelum menjadi bagian keluarga Prakas.


Diwaktu bersamaan Wulan sangat berhati-hati akan semua makanan-minuman dan orang-orang di kediaman Prakas yang mendapat perintah untuk menggugurkan kandungannya. Sikap Wulan yang transparan begitu sangat melindungi kandungannya berbanding terbalik saat mengandung Salma menarik perhatian Dafa.


"Apa sebenarnya yang telah aku lewatkan di rumah ini?" Tanya Dafa yang kemudian meminta semua orang di kediaman menghentikan rencana mencelakai kehamilan Wulan.


Hingga hari persalinan untuk Wulan pun tiba,


"Aku tak akan menemanimu kali ini." Ucap Dafa bangkit dari kursinya. "Sejak awal aku sudah memintamu untuk menggugurkannya bukan?" Sambungnya pergi meninggalkan Wulan yang sedang menikmati buburnya.


Prangg! Suara mangkok berisi bubur jatuh ke lantai bersamaan dengan Wulan yang merasa ketubanya pecah. Raden yang melihat itu tanpa pikir panjang langsung keluar dari kamar dan membawa Wulan ke rumah sakit diikuti oleh Dafa dari belakang.


"Heh!" Cibirnya menangkap basah keberadaan Raden Prakas yang selama ini telah tinggal bersama dengan Wulan. "Wulan, kamu benar-benar luar biasa melahirkan dua anak dengan Ayah yang berbeda." Ucapnya yang kemudian menghubungi pengawalnya untuk membereskan Raden.


Bug Bug Bug! Suara pukulan bergantian menghajar Raden yang belum sempat melihat wajah putrinya dan Wulan. Ia di tangkap oleh sekelompok orang yang menyamar sebagai perawat dan dokter saat membawa Wulan masuk ke ruang UGD.


"Huaaaaa!" Suara tangisan bayi yang masih memerah dalam balutan kain di letakkan di depan pintu rumah.


"Pah,Mah!" Teriak anak laki-laki yang membuka pintu rumah mendapati bayi yang semakin mengencangkan tangisannya.


"Fero ada apa teriak-teriak begitu." Sahut seorang wanita keluar diikuti suaminya dari belakang. "Ya Ampun!" Melihat bayi. "Siapa yang melakukan ini?" Menggendong bayi dan melihat ke sekitar.


"Mah coba lihat di kertas." Tunjuk Suaminya. "Mana tahu ada petunjuk disana." Sambungnya.


"Gak ada Pah." Sahut Wanita itu melihat hanya ada sebuah tulisan Batsyeba.


"Batsyeba?"

__ADS_1


"Aku rasa mereka ingin kita memberikan nama bayinya dengan Batsyeba."


__ADS_2