
Perasaan campur aduk dan jantung berdebar cepat kini yang di rasakan oleh Arsen. Berulang kali dia mengeluarkan nafas panjang nya dari dalam paru-paru nya.
Saat merasakan emosi, marah, seseorang bisa melampiaskan ke berbagai hal, yang kini telah di lakukan oleh Arsen salah satunya.
Yang berulang kali mengeluarkan nafas kasar nya untuk mereda kan amarah di dalam dada nya, sebelum bertemu dengan sang pelaku yang ingin membunuh istri nya itu.
Selama ini, Arsen jarang sekali merasakan rasa amarah nya hingga seperti ini.
Mungkin saja, hal ini bisa terjadi, karena menyangkut seseorang yang sangat berarti di dalam hidup nya. Seseorang yang akan menjadi ibu dari anak nya yang tak lama lagi.
Rasa sakit, kecewa dan tak percaya apa yang barusan dia lihat di depan mata nya.? Yang di mana? Kedua mata nya menangkap sosok wanita yang dulu pernah bersemayam di dalam hati nya. Yang sedang di introgasi oleh pihak berwajib.
''Kamu tidak boleh di kuasai oleh amarah dan emosi mu Arsen.'' Ucap Arsen mencoba menenangkan pikiran nya.
''Ingat, istri mu sedang mengandung calon anak mu.''
''Tarik nafas dalam-dalam, keluarkan dengan perlahan. '' Lanjut Arsen lagi.
__ADS_1
''Sial. '' Umpat Arsen kasar, dan baru kali ini dia mengumpat dengan kasar.
Mulai dari berbicara dengan lawan menggunakan nada tinggi dan teriak, menangis, hingga melakukan tindakan yang bersifat merusak. Bahkan kondisi dan situasi bisa semakin memuncak, jika terus menerus menuruti emosi marah kamu Arsen.
''Sabar Arsen, sabar, istri mu sedang mengandung anak kamu, ok.'' Memejamkan kedua mata nya sesaat sebelum langkah kaki nya membawa masuk ke dalam kantor polisi.
''Vio.''
Di depan kedua mata Arsen, sang sepupu dari istri nya dan juga mantan kekasih nya itu. Yang sedang menundukkan kepala nya ke bawah, di depan polisi yang barusan pergi meninggalkan kan kita berdua.
''Aku pikir, kedua mata ku yang salah melihat mu Vi. Dan ternyata,____''
''Kenapa. ? Kenapa kamu harus terkejut apa yang telah aku lakukan dengan istri mu itu, Ars.?''
''Seharus nya kamu sudah tau, kalau aku sangat benci dengan Eve istri mu, dia yang selalu mendapatkan apa yang aku mau.?'' Mengepalkan kedua tangan nya, mengingat Eva sepupu nya yang bahagia dengan suami nya. Sedangkan aku, dalam masa perceraian dengan suami nya Juan.
''Kamu banyak berubah Vi, aku maklumi, jika kemarin kamu berselingkuh dari aku karena hubungan kita jarak jauh. Aku bisa maklumi itu, namun hari ini, kamu telah menunjukan sifat asli mu yang sebelum nya aku tak tau.''
__ADS_1
Vio beranjak dari duduk nya, mendekat ke arah mantan kekasih nya berdiri.
''Apa itu arti nya kamu masih cinta sama aku Ars.?''
Arsen menggeleng kuat, apa yang barusan dia dengar dari mulut Vio.
''Aku sangat kecewa, apa yang kamu lakuin sekarang ini.? Sangat kecewa Vio.''
''Kecewa karena dulu aku pernah menganggap mu sebagai adik ku.''
''Adik.'' Gumam Vio.
''Iya adik, maaf. Aku dulu hanya menganggap kamu sebagai adik ku bukan kekasih ku.''
''Apa arti selama kita bersama Arsen. ? Apa arti nya.?'' Bentak Vio marah, yang masih tak percaya apa yang barusan dia dengar.?
''Aku yang salah, memaksa hati ku untuk menganggap kamu sebagai kekasih ku. Dan, kata kekasih itu hanya keluar dari mulut ku, bukan dari dalam hati ku.''
__ADS_1
''Tega kamu Arsen, membohongi selama ini.''