Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 104


__ADS_3

Malam hari nya.


Setelah makan malam usai, keluarga kecil Arsen bersantai ria di ruang keluarga sambil menonton televisi. Dan tidak lupa secangkir kopi panas, di temani beberapa cemilan ringan melengkapi acara hangat nya keluarga kecil nya itu.


Sepenat apa pun dengan pekerjaan, jika sudah berkumpul seperti ini. Hal ini mampu membuat rasa lelah, capek seketika menghilang di pundak Arsen. Dan di gantikan dengan rasa bahagia yang selama ini menjadi impian nya sejak dulu.


Memiliki keluarga yang bahagia dan harmonis tentu jadi impian banyak orang. Pasalnya, keluarga bahagia bisa menjadi tempat ternyaman di dunia ini. Keluarga bahagia tak selalu muncul dari hal-hal mewah melainkan bisa dari hal sederhana.


Keluarga sendiri jadi satu bagian penting dalam kehidupan seseorang. Sebab dari keluarga itulah seseorang pertama kali mendapatkan cinta kasih. Kenyamanan dan kehangatan yang tercipta di kelurga, tentu tidak bisa diganti dengan apapun juga.


''Sayang, '' Bisik Arsen tepat di telinga sang sang istri. Pasal nya sekarang ini sang istri Eva sedang bersandar di bahu nya sedangkan untuk Baby El tengkurap di atas dada bidang nya.


Hmm.


''Jawab yang benar sayang.'' Protes Arsen.


Eva berdecak kesal, pasal nya lagi seru-seru nya nonton televisi kini justru di ganggu. ''Ck, iya Mas Arsen. Ada apa. ?''

__ADS_1


''Udah datang bulan belum, bulan ini.?'' Tanya Arsen dengan penuh hati-hati.


''Belum, memang nya kenapa. ?'' Jawab Eva, yang belum menyadari sesuatu.


''Biasa nya tanggal berapa. ?'' Membuat Eva menarik tubuh nya dan menatap lekat sang suami.


''Ini sudah tanggal berapa. ?'' Tanya Eva ragu-ragu, sambil menggigit bibir bagian bawah nya.


''Tanggal muda sayang, kan kemarin Mas baru gajian.''


''Astaga Mas Arsen, saya lupa membeli kasur nya.'' Pekik Eva menepuk jidat nya sendiri.


''Ya udah besok beli, jika masih Menstruasi sih.'' Ucap Arsen ambigu.


Bergerak mengecup lembut pucuk kepala sang anak tercinta, tidak lupa dengan kedua tangan Arsen bergerak. Ada yang mengusap punggung baby El. Dan tangan yang satu nya lagi menepuk-nepuk pelan bagian pantat sang anak tersebut.


''Maksud Mas Arsen apa. ?'' Eva menarik ujung alis nya ke atas.

__ADS_1


''Ya ampun Eva sayang, selama ini Mas tidak pernah mengeluarkan nya di luar ya, selalu di dalam.'' Kesal Arsen dengan suara tertahan. Pasal nya Baby El saat ini berada di atas dada nya. Dengan tak mungkin, dia menganggu tidur nyaman nya sang buah hati nya itu.


''Tunggu, tunggu, tunggu, maksud Mas_____''


''Iya, itu yang sejak tadi Mas maksud.''


''Mas sengaja ya.''


''Enggak enak di luar sayang, enak nya di dalam soal nya.'' Jawab Arsen enteng.


''Tapikan Baby El masih kecil Mas.'' Protes Eva, yang sedikit kurang setuju.


''Kamu gak mau punya anak lagi dengan ku gitu.'' Tuduh Arsen. Membuat Eva kesal di tuduh seperti itu.


''Bukan begitu maksud aku Mas, kasian baby El yang masih kecil sudah harus punya adik.'' Bela Eva.


''Gak sekarang, nanti juga baby El bakalan punya adik, Mumpung oma nya masih muda-muda Eva sayang.'' Celetuk Arsen, tanpa beban.

__ADS_1


''Terserah Mas ajalah.'' Pasrah Eva, jika sudah ada janin di dalam rahim nya harus bagaimana lagi, selain menerima nya dengan senang hati.


''Pantesan, akhir-akhir ini Mas sering bikin aku lelah. Ternyata oh ternyata, biar aku tidak sadar kalau keluar nya di dalam bukan di luar.'' Sindir Eva. Membuat Arsen tersenyum pepsodent.


__ADS_2