Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
8. Kematian yang lainnya


__ADS_3

🍁🍁🍁


Bams dan anak buahnya pergi meninggalkan tempat disusul oleh Ronal yang sesekali melihat kebelakang. Ia merasa seperti ada orang yang memperhatikan gerak gerik mereka sejak tiba disana.


"Ada apa? " Tanya Bams membuka pintu mobil Ronal.


"Gak ada!" Sahut Ronal masuk ke mobilnya diikuti oleh anak buah Bams yang naik keatas jetsky meninggalkan runtuhan gedung.


Sementara mereka pergi Lukas keluar dari persembunyiannya. Ia menatap Fero penuh amarah setelah mengecek riwayat panggilan diponsel Asistennya itu.


Setelah berhasil meloloskan diri 12 tahun lalu,Lukas terjebak dalam kelompok orang yang menyeludupkan bahan baku pembuatan obat. Kapal yang ia naiki malam itu adalah kapal pengangkut bahan baku menuju Myanmar.


"Myanmar!" Ucap Lukas terkejut membaca tulisan besar yang ada di pelabuhan.


"Kenapa?" Tanya seorang dari belakang mendengarnya.


Mampus! Batin Lukas dengan terpaksa berbalik badan dan memulai aktingnya.


"Hai!" Sapa Lukas dengan pakaian robek penuh noda darah.


"Apa mereka tak memberitahumu?" Tanya Pria itu yang berpikir Lukas adalah salah satu dari kelompok mereka. "Kita akan mengantar barangnya kesini." Jelasnya.


"Barang?"


"Yaa." Melihat pakaian yang dikenakan Lukas lalu berbalik turun ke dalam kapal. Selang beberapa menit kemudian Pria itu kembali menghampiri Lukas.


"Wajah baru!" Panggilnya pada Lukas ketika kapal tiba di dermaga.


Aish! Apa aku ketahuan?! Batin Lukas berbalik badan.


"Ada apa dengan pakaianmu?" Tegur Pria itu melemparkan pakaian sama dengan yang ia kenakan pada Lukas. "Sebentar lagi mereka akan datang." Ucapnya. "Jangan sampai ada kesalahan,Mengerti?" Tegasnya yang kemudian meminta yang lain untuk melangsir satu persatuan box ke atas perahu kecil menghindari pemeriksaan.


Lukas naik keatas dump truk yang mengangkut pupuk yang dibawahnya telah di tanamkan bahan baku pembuatan obat. Dump Truk membawa mereka ke sebuah kawasan sawah yang membentang luas dengan udara segar berhembus masuk ke paru-paru.


Klekk! Suara pintu bak truk dibuka oleh seorang laki-laki yang seumuran dengan Lukas setiba mereka di depan gudang besar yang berdiri di tengah sawah.


"Aaaw!" Ringis Lukas usai mengangkut pupuk ke dalam gudang lalu diteruskan dengan melangsir bahan baku obat kedalam gudang.


Tak! Suara Pria lain menginjak sesuatu dilantai membuat lantai otomatis terbuka dan berubah menjadi tangga menuju ruang bawah.


Wow! Batin Lukas.


"Wajah baru!" Panggil Pria yang sebelumnya saat turun kebawah diikuti oleh Lukas dari belakang.

__ADS_1


Wow! Batin Lukas lagi setelah sampai dibawah. Ia melihat sebuah laboratorium dengan perlengkapan sterilnya.


"Letakkan disana!" Menunjuk meja dari beton yang ada dibelakang Lukas. "Tolong kamu angkut semua sisanya ya?" Pinta pria itu pada Lukas yang berbalik naik kembali keatas.


"Hei hei hei!" Seru Pria yang membuka pintu bak truk sebelumnya pada Lukas. "Apa kau anggota baru?" Tanya Fero mengagetkan Lukas dipertemuan pertama mereka. Ia pikir Fero adalah seorang bule karna wajahnya yang kebarat-baratan. "Aku belum pernah melihat orang dengan wajah setampan ini." Sambungnya mendekati Lukas. "Kau sangat tampan!" Pujinya pada Lukas yang langsung menarik dirinya menjauh dari Fero.


"Apa kau penyuka sesama jenis?" Tanya Lukas yang balik mengagetkan Fero.


"Wah,ternyata kita dari asal yang sama!" Sambutnya pada Lukas yang menarik box keluar dari truk.


Selama 6 bulan Lukas bekerja dilaboratorium mengubah bahan mentah menjadi sebuah obat dalam bentuk padat maupun cair. Ia menghabiskan waktunya di ruang bawah dan persawahan yang membentang di pelupuk matanya. Berbeda dengan Fero yang selalu keluar masuk menghantar barang dari pelabuhan ke gudang dan sebaliknya.


"Tos!" Ucap Fero bersulang dengan bir kaleng yang diteguk Lukas sambil menatap hamparan padi yang menguning.


"Fer!" Panggil Lukas. "Bolehkah Aku ikut denganmu keluar?" Tanya Lukas.


"Kau bosan ya?" Balas Fero melempar kaleng bekas minumannya.


"Bukan." Sahut Lukas. "Aku hanya ingin tahu apa yang kalian kerjakan." Sambungnya. "Aku ingin tahu bagaimana cara memperoleh bahan mentah." Menganguk-angguk. "Juga bagaimana memasarkannya pada orang kelas atas." Jelasnya.


"Oke!" Sahut Fero menyanggupi. "Aku akan membawamu melihatnya."


"Serius?!" Tanya Lukas.


"Tapi gak gratis!" Balasnya.


"Dasar!" Umpat Lukas menyetujui permintaan Fero untuk memberikan beberapa obat untuknya.


Sehari setelah itu Fero membawa Lukas mengirimkan barang yang telah jadi dan membawa balik bahan mentah dari berbagai negara tetangga. Lukas pun diam-diam belajar dan menandai satu persatu wajah klien Bosnya. Lambat laun timbul keinginan Lukas untuk membuka bisnis gelap sendiri dengan segala proses yang telah ia lihat. Lukas pun memulai dengan membuat obat dari sisa bahan yang ada di laboratorium.


"Mau coba gak?" Tawar Lukas pada Fero.


"Kau yang buat?" Tanyanya balik menerima pemberian Lukas. "Kalau aku kenapa-napa kau harus tanggung jawab." Tuntut Fero yang kemudian menghirupnya.


"Gimana?" Tanya Lukas meminta pendapat Fero yang menundukkan kepalanya meresapi obat yang baru ia hirup.


"Good!" Jawabnya yang kemudian merebahkan tubuhnya sambil menatap langit malam bertabur bintang.


Perlahan Lukas berhasil menguasai apa saja yang ia perlukan untuk menjalankan bisnis ilegal itu. Namun tak mudah baginya untuk bisa melepaskan diri dari cengkraman Bos yang telah mempekerjakannya selama ini. Terlebih Fero sangat menentang niat Lukas untuk menjalankan bisnis yang mungkin akan membuat Bos mereka membunuhnya.


"Akan lebih bagus lagi kalau kau ikut bersamaku!" Ucap Lukas pada Fero yang menolak ajakannya.


"Kau benar-benar cari mati!" Cibir Fero meninggalkan temannya itu.

__ADS_1


Lukas pun mengikuti pelatihan pertahanan diri. Karna satu-satunya cara yang bisa dlakukan adalah melarikan diri dari negara itu tanpa meninggalkan jejak.


"Kau ingin melarikan diri!" Ucap Fero kaget melihat Lukas yang menyusup ke dalam truknya.


"Aku merindukan keluargaku." Jawab Lukas berbohong.


"Berhenti menipuku!" Sahut Fero menyetir disampingnya. "Aku tahu kau seorang yatim piatu!" Sambungnya.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Lukas.


"Aku memiliki seorang adik perempuan." Jawabnya.


"Ah,Itu kenapa kau harus bertahan disini untuknya." Ucap Lukas. "Dia pasti sangat bangga denganmu."


"Aku rasa tidak." Sangkal Fero.


"Adikmu benar-benar jahat." Cibir Lukas.


"Aku meninggalkannya di panti asuhan." Ucap Fero membuat suasana menjadi hening. "Kita sudah sampai." Sambung Fero kemudian membawa truk masuk ke pelabuhan.


"Pikirkan untuk kabur dari sini mulai dari sekarang." Ucap Lukas turun dari mobil disusul oleh Fero.


"Untuk apa?" Tanya Fero.


"Kau harus bertemu dengan adikmu untuk mengurangi kebenciannya padamu." Jawab Lukas melihat kapal yang bisa ia naiki. "Dan ingat sebelum bertemu dengannya jangan sampai terbunuh oleh mereka!" lanjutnya pergi menyelinap dari balik truk trailer.


"Dasar!" Umpat Fero menatap Lukas yang berpindah dari balik truk lain ke truk lainnya. "Khawatirkan saja dirimu!" Menoleh ke arah lain dan mendapati anak buah Bos mereka menyusul Lukas dari belakang.


Bug! Suara tinjuan mendarat di perut dan wajah Lukas. Dua pria berotot menyeret tubuh Lukas ke balik truk trailer. Lukas mencoba menangkis pukulan dengan meninju balik keduanya.


Brukkk! Suara Lukas mendorong salah satu mereka ke balik truk dan menendang pria yang lain dengan kakinya dari belakang. Dengan kemampuan bela diri yang didapat selama bekerja disana Lukas mampu melumpuhkan keduanya.


"Hah-Hah-Hah!" Suara nafas Lukas menginjak-injak tubuh dua pria itu dan menendang wajahnya hingga babak belur. Ia tak lupa merongoh saku dua pria yang telah terkapar tak sadarkan diri.


"Ponsel!" Ucap Lukas beranjak berdiri sambil menendang sekali lagi memberi pelajaran terakhir. "Fero!" Teriaknya melempar satu ponsel pria itu pada Fero.


"Dasar gila!" Umpat Fero menangkap ponsel dan melihat Lukas dengan tangan berlumuran darah.


"Aku akan memberi pelajaran padamu jika kita bertemu lagi!" Teriak Lukas di susul oleh tawa.


"Sialan!" Umpat Fero yang kemudian melihat Lukas melompat ke kapal kecil menuju Thailand. Dan dua tahun setelah itu Lukas menemukan Fero terkapar dipelabuhan. Fero kehilangan kesadarannya dan bahkan tak mengingat Lukas sama sekali.


"Bahkan diakhir hidupmu kau tetap menghianatiku." Ucap Lukas yang berhasil menguburkan Fero menghadap ke danau. "Kau yang terlalu jahat apa Aku yang terlalu baik untukmu." Sambungnya meletakkan satu botol kemasan obat yang pernah dicoba Fero untuknya diatas makam.

__ADS_1


Fyuhh! Suara Lukas menghela nafas panjang duduk disamping makam Fero sambil memandang danau.


🍁🍁🍁


__ADS_2