Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
Bonus 124


__ADS_3

Wanita cantik yang memakai dress tanpa lengan dengan gaya rambut kriting gantung berbentuk S tersebut. Sedikit membuat keributan di salah satu ruangan Dr yang mengkhususkan diri dalam kesehatan reproduksi wanita.


Iya, wanita yang berpakaian serba mewah itu iyalah istri dari laki-laki yang cukup kaya Di Kota pahlawan yang tak lain iyalah, Alister Galen Pratama. Putra tunggal dari pasangan Ayda Ayunda dengan Dario Davidde Pratama.


Check up kesehatan reproduksi wanita, setiap bulan telah di lakukan Ciara Salsabila di salah satu rumah sakit terbesar di kota Surabaya. Tanpa lelah, Ciara melakukan segala upaya supaya memiliki keturunan dari keluarga besar Pratama.


Tidak cukup hanya sekali, bahkan sudah ke sekian kali. Ciara di buat Down dengan hasil jerih payah nya selama ini. Dalam hal pola makan, vitamin gaya hidup sehat dan masih ada beberapa cara dari pengobatan herbal Ciara tempuh demi sebuah keturunan.


Lagi dan lagi, semua itu mustahil untuk Ciara dapatkan.


Tidak cukup setahun dua tahun usia pernikahan Ciara dan Galen. Lima tahun lama nya, ia terus-menerus selalu berusaha dengan maksimal mungkin.


''Maaf Nyonya, mungkin Nyonya harus banyak-banyak bersabar. Jalan hidup seseorang memang sudah di garis kan oleh maha yang di atas. Ada yang beruntung dan ada yang belum mendapat anak. Tapi nyonya dan pasangan nyonya tak boleh patah semangat. Ini hanya seperti menunggu giliran saja." Ucap sang Dokter sedikit memberi motivasi ke pada para pasien nya.

__ADS_1


''Pasrahkan semua pada Tuhan. Dia akan memberimu keturunan saat Nyonya sudah sepenuhnya siap."


''Sampai kapan Dok, ? Dengan cara mengadopsi seorang bayi sudah saya lakukan beberapa tahun yang lalu. Lalu, lalu usaha apa lagi yang harus saya tempuh Dok. ? Kasih tau saya Dok, kasih tau saya. '' Lirih Ciara dengan nada putus asa, menahan air mata yang sudah mengembun di pelupuk mata. Yang pada akhirnya nya luruh juga tanpa ingin berhenti.


Sang Dokter hanya bisa menatap nanar ke arah pasien nya tanpa bisa berbuat apa-apa. Membiarkan pasien nya meluapkan segala rasa, mengurangi beban yang di rasa. Mungkin, hanya cara itu yang bisa di lakukan para dokter. Membuat para pasien nya merasa lega dan lebih tenang setelah beban di keluarkan dengan cara menangis.


Di pikir sudah cukup, Ciara segera berpamitan. ''Terima kasih dengan waktu nya Dok.!'' Ucap Ciara serak sehabis menangis.


''Àaaarkhh, brengsek.'' Memukul kemudian mencengkram stang mobil nya kuat-kuat.


Menandakan, bahwa Ciara sudah berada di titik paling rendah.


''Hah, hah ha ha aha aa.'' Tiba-tiba Ciara tertawa miris sendiri di dalam mobil, dengan tingkah laku nya sendiri.

__ADS_1


''Bodoh kamu Ciara bodoh, kemarahan mu tiada guna nya. Ayo Ciara tarik nafas mu, lalu keluarkan.''


Krucuk, tiba-tiba bunyi lapar berasal dari perut Ciara berbunyi. Mendengar hal itu, Ciara teringat dengan suami tercinta. Dengan segera Ciara mengirim pesan pada suami nya itu.


''Sayang, apa kamu sudah makan siang. ?'' Isi pesan Ciara.


Menunggu beberapa waktu, masih tercentang dua belum berubah warna biru. Ciara tak sabaran, dan langsung menghubungi sang suami.


''Hmm.'' Sahut Galen.


''Kamu tidak melupakan makan siang mu kan. ?''


''Sayang.'' Panggil Ciara kembali, ketika tidak ada sautan dari seberang.

__ADS_1


''... .. ''


''Ok sayang, sampai jumpa di rumah, emmuaah. '' Ucap Ciara sebelum panggilan di matikan.


__ADS_2