Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P, 74


__ADS_3

Secara perlahan, Arsen mendekati sang istri nya yang sedang memperhatikan sang Dokter menjelaskan tentang kondisi Vio di dalam sana.


Jemari Arsen menelusup di sela-sela jemari sang istri, membuat Eva istri nya menoleh ke arah samping kiri, di mana diri nya berada.


''Aku ingin berbicara dengan mu.'' Bisik Arsen, menggenggam jemari sang istri lalu membawa nya pergi menjauh dari keluarga nya.


Eva mengikuti langkah kaki suaminya pergi, tanpa ingin memberontak sama sekali.


Jujur, dia sangat membutuhkan penjelasan dari sang suami, Ayah dari calon anak di dalam perut nya.


Taman Rumah Sakit.


Arsen membawa sang istri ke taman Rumah sakit, sebab hanya tempat ini yang sangat cocok untuk membicarakan ke salah pahaman di antara mereka berdua.


''Melihat langit selepas hujan, hawa segar yang kurasakan. Seketika hati menjadi cerah, terlintas kenangan-kenangan yang indah. Terbesit senyum menawan mu, melintas di pelupuk mataku. Seketika bibir ini ikut tersenyum, mengingatmu sebagai orang yang sangat spesial dalam hidup ku."


''Aku bisa jelaskan semua nya, tanpa terlewatkan. Kalau aku tidak pernah atau berniat untuk melindungi Vio, sama sekali tidak pernah, apa lagi terlintas di benak ku sayang,? itu sama sekali tidak pernah.'' Ucap Arsen menatap intens wajah istri nya.

__ADS_1


Jemari mereka berdua masih saling bertautan, Namun, sorot mata istri nya menatap lurus jauh di depan sana. Tanpa ingin menatap ke arah diri nya berada.


''Ini semua atas kemauan nya Kak Juan, bukan aku.'' Imbuh Arsen, meskipun tak di respon oleh sang istri.


''Saat itu, Vio sedang mengandung beberapa minggu, dan kak Juan tak tega kalau istri nya itu menjalani kehamilan nya di dalam penjara. Kamu tau kan, bagaimana keadaan di dalam penjara. ? Kak Juan tidak tega dan tidak mau perkembangan calon anak nya terhambat dan juga menjadi taruhan nya.'' Jelas Arsen, meskipun sang istri nya masih engan mengeluarkan suara nya. Dia tidak masalah sama sekali, asalkan istri nya itu mendengar penjelasan dari nya.


"Please, maafin aku.'' Mohon Arsen.


''Kenapa kamu tidak berbicara jujur dengan ku saja. ? Kenapa kamu justru membohongi aku, mas hiks hiks. ?'' Tangis Eva pecah, dia yang sangat kecewa dengan keputusan yang di ambil oleh suami nya itu.


Arsen tidak sanggup jika melihat istri nya menangis sesenggukan di depan nya saat ini. Bergerak lembut menarik sang istri ke dalam pelukan nya. Menghujami sebuah ciuman kasih sayang di kening sang istri.


''Please, maafkan aku, aku benar-benar tak berniat untuk membohongi kamu.'' Mohon Arsen lagi dari dalam hati nya yang paling dalam.


''Apa kamu tidak lagi berbohong ke pada ku kan. ?'' Ucap Eva dengan suara serak nya setelah menangis, menghirup dalam-dalam aroma tubuh suami nya yang selalu dia rindukan.


''Sama sekali tidak, kalau kamu masih tak percaya apa yang aku ucapkan.? kamu boleh bertanya langsung dengan kak Juan, jika kamu ingin.''

__ADS_1


''Apa di sini masih ada cinta untuk Sepupu ku itu. ?'' Rajuk Eva, menunjuk dada suami nya tepat bagian hati nya.


''Setelah menikahi mu di depan Allah, hati mas hanya untuk mu, hanya satu nama yaitu nama kamu saja, tidak ada yang lain.''


''Karena aku ingin menjadi seorang lelaki yang paling jatuh cinta kepadamu, meski bukan yang pertama. ''


Bibir Eva melengkung ke atas, dengan wajah merah merona, Eva menenggelamkan wajah nya di dada bidang suami nya yang sangat nyaman di jadikan sandaran, dan lebih tepat nya sandaran hati nya.


''Iiih gombal, aku tak yakin.''


''Kalau kamu masih tak yakin, kamu boleh membedah dada ku dan lebih tepat nya hati ku ini.'' Imbuh Arsen, sedikit menggoda.


''Mas. ''


''Iyah. ''


''Ck, sekarang Mas jago menggombal ya ternyata.''

__ADS_1


''Baru tahu.''


''Iya, ya ya terserah Mas aja lah.'' Memeluk erat suami nya, yang seakan takut kehilangan sosok suami yang menjadi impian nya itu. Begitu pula dengan Arsen, dia tak kalah erat nya memeluk istri nya dan tak lupa dia memberi jarak di bagian perut istri nya yang ada calon anak buah cinta mereka berdua.


__ADS_2