Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
50. Valen Grey


__ADS_3

Bam! Suara Pintu tertutup dengan kencang saat keduanya tiba di kediaman Kardinata. Salwa menatap punggung Lukas yang berjalan mendahuluinya menuju kamar. Ia masih memikirkan pertanyaan Lukas terkait insiden penculikan terhadap Luhan 20 tahun lalu. Langkah Salwa terhenti saat dirinya melewati ruang tengah tempat foto-foto kecil Luhan dan Yohan terpajang.


"Ada apa?" Tegur Lukas yang menoleh kebelakang dan mendapati Salwa berdiri di depan foto-foto.


Ctakk! Lampu menyala disusul oleh Lukas yang datang menghampiri Salwa.


"Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya Lukas berdiri di samping Salwa. Sebelumnya di mobil Lukas mengatakan pada Salwa bahwa Yohan yang mereka sebut-sebut berada di Prancis hanyalah omong kosong belaka. Lukas menceritakan mengenai sebuah foto Yohan yang pernah ia temukan di lemari pakaian bersamaan dengan sebuah soft lens.


"Ya." Jawabnya melihat Lukas. "Om dan Tante berbohong."


"Mengenai?"


"Mereka mengatakan sejak bayi Yohan sudah tinggal di Prancis." Ucapnya menoleh ke semua foto Yohan dan Luhan. "Nyatanya semua foto ini jelas-jelas diambil di pekarangan yang ada di kediaman ini." Menunjuk satu foto. "Lihat, Yohan dan Luhan duduk di kursi teras yang menghadap lapangan golf. "Ini adalah paviliun yang ada di halaman belakang." Menunjuk yang lain. "Lihat itu adalah piano yang terpajang di paviliun." Menujuk lagi dan lagi sambil memberitahu lokasi background foto yang membuat Lukas mengingat setiap momen saat-saat foto-foto itu diambil.


"Aaaw!" Ringis Lukas meletakkan foto ditangannya.


"Ada apa?" Tanya Salwa menangkup lengan Lukas.


"Gak ada apa-apa." Jawab Lukas. "Mungkin karna kelelahan saja." Berbalik badan melangkah menuju kamar menahan kepalanya yang seperti di tusuk-tusuk.


"Kamu yakin?" Tanya Salwa menyusul Lukas ke dalam kamar tanpa menyadari keberadaan Rose dan David yang memperhatikan keduanya sejak tadi dari lantai atas.


"Pah," panggil Rose dengan kedua tangan yang terlipat dibawah dada.


"Ya."


"Apa sudah ada kabar terbaru dari Yohan?" Tanya Rose melihat ke David yang menggelengkan kepala. "Tapi dia baik-baik ajakan,Pah?" Meraih lengan David.


"Dia baik-baik aja." Jawab David. "Ayo mah kita masuk." Ajak David pada Rose untuk kembali ke kamar. "Besok kita harus menempuh perjalanan jauh." Merangkul Rose sambil berbalik badan bersamaan dengan lampu yang kembali padam seperti ruangan dimana Salma terkunci.


Brakk Brakk Brakk! Suara Salma memukul-mukul pintu berharap petugas cleaning yang sedang menjalankan tugas mendengarnya. Namun usahanya tak memberi hasil hingga malam berganti oleh pagi.


Bug! Suara Salma terjatuh terkulai di lantai saat seorang petugas cleaning membuka pintu ruangan.


"Non Salma?" Tegur petugas yang kemudian berteriak meminta tolong pada rekan lain untuk membawa Salma keluar dari ruangan. "Cepat-cepat!" Pinta petugas pada salah satu karyawan hotel untuk segera membawa Salma ke rumah sakit dengan mobilnya.


Fyuhh! Suara helaan napas petugas lainnya melihat kepergian mobil.


"Kok bisa sih Non Salma terkunci di ruangan VIP gitu." Ucap petugas. "Mana sendiri lagi terkurungnya." Sambung petugas berbalik badan dengan rekan lain.


"Kalau berdua sama cogan kan masih enak ya?" Canda yang lain kembali ke ruang lantai bawah gedung sambil terkekeh.

__ADS_1


Di waktu bersamaan Lukas tak melihat David dan Rose di meja makan seperti biasanya. Ia beranjak memeriksa keluar rumah dan menemukan sebuah mobil baru saja keluar melewati gerbang.


"Hei," panggil Lukas pada pelayan yang sedang menyiram tanaman.


"Ya Tuan." Sahut Pelayan menghampiri Lukas yang masih melihat kepergian mobil.


"Mobil yang barusan keluar siapa?" Tanya Lukas.


"Oh itu Tuan dan Nyonya besar, Tuan." Sahut Pelayan. "Kayaknua sih mau perjalanan ke luar kota. Soalnya bawa koper gitu Tuan." Jelas pelayan yang dibalas anggukan kecil oleh Lukas.


Sial! Baru aja aku mau cari tahu tentang Yohan. Batin Lukas yang mempersilahkan pelayan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu ngapain berdiri disini?" Tegur Salwa yang datang dari belakang menghampirinya dengan berbalik badan.


"Mama dan Papa dah keburu pergi." Jawab Lukas. "Hari ini kita coba cari kebenaran tentang keberadaan Yohan di rumah ini." Menengadah ke dalam rumah. "Aku yakin pasti ada sesuatu yang bisa membantu kita di sini." Masuk ke dalam diikuti oleh Salwa dari belakang.


Usai sarapan Lukas dan Salwa mencari semua yang berkaitan dengan Yohan di segala lemari yang ada di ruangan termasuk kamar David dan Rose. Ditengah pencarian Salwa tiba-tiba teringat akan asumsi Ronal mengenai identitas Lukas yang ia dengar dari Lukas.


"Apa kamu ada menemukan sesuatu?" Tanya Lukas membuka laci-laci kecil yang ada di kamar Rose.


"Tak ada apapun." Sahut Salwa mencari rambut Lukas yang terjatuh di punggungnya. "Bagaimana denganmu?" Menjinjit meraih satu helai rambut yang menempel tepat di atas pundaknya.


"Selain perhiasan aku tak menemukan apapun di---"


"Aaaw!" Ringis Salwa tersungkur di lantai tanpa rambut di jarinya.


"Hei!" Tegur Lukas membungkukkan tubuhnya meraih Salwa yang menundukkan wajahnya. "Sorry aku gak sengaja." Ucap Lukas. "Kamu gak pa-pa?" Tanya Lukas menggendong Salwa dari lantai.


"A-Apa yang kamu la---" Ucapnya terjeda sesaat dirinya dalam dekapan gendongan Lukas. "---kamu tak perlu menggendongku seperti ini." Sambungnya melingkarkan tangannya di leher Lukas.


"Ini salahku." Sahutnya. "Aku tak seharusnya memaksa untuk terus mencari jarum dalam jerami." Melihat sekitar kamar Rose dan David.


"Aku gak keberatan kok, lagian aku juga penasaran tentang keberadaan Yohan." Melihat Lukas yang tak melihat padanya.


"Hari ini cukup sampai di sini aja." Ucap Lukas menoleh ke Salwa membuat kedua mata mereka saling bertemu. "Kita harus memeriksa keadaan Tante Wulan dan Indri." Membawa Salwa keluar dari kamar yang membuat pipinya memerah.


Andai saja kamu benaran Luhan suamiku.Batin Salwa menatap dalam Lukas yang kini menuruni satu persatu anak tangga dengan mendekap tubuhnya dalam gendongan.


Aku tak perlu menahan diri seperti ini bukan. Batin Salwa yang kini di dudukkan Lukas di sofa. Lukas meraih kotak obat dibawah meja dan mengangkat sedikit rok Salwa ke atas. Ia kemudian membubuhkan obat merah pada lutut Salwa yang sedikit tergores.


"Aaaw!" Ringis Salwa.

__ADS_1


"Berikan tanganmu?" Pinta Lukas meraih pinggiran telapak tangan Salwa yang memerah.


"Lukas." Panggil Salwa.


"Hm." Sahut Lukas melihat tepat pada kedua mata Salwa.


"Berapa usiamu saat itu?" Tanya Salwa.


"Saat apa?"


"Saat kamu terbangun di tengah kerumunan para gangster."


"Ah itu," Menarik pandangannya ke kotak obat. "Aku tak tahu pasti." Mengembalikan kotak obat kebawah meja. "Tapi jika dilihat dari anak-anak yang aku temui di tempat baru," lanjutnya. "Aku terlihat seperti anak berusia 10 tahun." Jelasnya dengan wajah menengadah melihat Salwa.


"Mungkinkah kamu Yo---"


---Kringgg!Potong dering ponsel Salwa membuat keduanya terjaga.


"Siapa?" Tanya Lukas melihat Salwa meraih ponselnya.


"Nomor baru." Sahut Salwa menerima panggilan.


"Halo, apa benar ini dengan Ibu Salwa?" Sambut suara dari ujung telpon.


"Ya, benar." Sahut Salwa. "Anda Si---"


"---Ini saya dari pihak rumah sakit Permatasari mau memberitahu saudara ibu bernama Salma Prakas sedang dirawat dan butuh pihak keluarga un---"


"---Sebentar!" Potong Salwa. "Salma ada dirumah sakit!" Sambungnya dengan wajah shock.


"Iya ibu," sahut suara dari ujung telpon.


"Dia baik-baik ajakan?"


"Untuk saat ini Ibu Salma masih belum sadarkan diri,"


"Baik sus saya akan segera kesana." Ucap Salwa mengakhiri telponnya dengan pihak rumah sakit. "Sesuatu terjadi pada Salma." Melihat ke Lukas. "Ini pasti ulah Ayah juga." Mencengkram ponselnya diwaktu bersamaan Madam Vero melirik dari jauh sambil melakukan panggilan pada seorang.


Kringggg! Suara panggilan masuk di layar ponsel membuat Raden berdecak menerim panggilan.


"Apa sebenarnya yang telah terjadi?" Suara dari ujung telpon. "Kenapa kamu sampai membuat Salma dalam bahaya?" Tanya Madam Vero berbalik badan membelakangi keberadaan Lukas dan Salwa. "Aku tak mau hal seperti ini terjadi lagi,apa kamu mengerti?" Tegas Madam Vero yang kemudian mematikan ponselnya sembari berbalik badan.

__ADS_1


"Hal seperti apa itu Madam Vero?" Tegur Lukas mengagetkan Madam Vero. "Ah,bukan Vero tapi Valen, benar?" Tanya Lukas membuat wajah Madam Vero berubah pucat pasi. "Valen Grey!" Cibir Lukas dengan menyeringai miring.


__ADS_2