
Tidak ada yang abadi di hidup ku, baik itu bahagia maupun luka. Tinggal menunggu hari itu tiba, dan kebetulan sekali tepat pada hari ini. Hari yang akan tiba di mana titik menertawakan rasa yang dulu sakit, atau menangisi rasa yang dulu pernah indah. Vio diam-diam tersenyum getir dengan jalan hidup nya sendiri.
''Apa saat nya aku menyerah. ?'' Batin Vio.
''Melepaskan apa yang selama ini aku perjuangkan.?'' Lanjut Vio, menikmati usapan lembut di pundak nya.
''Sesuatu yang di paksakan akan tidak berjalan mulus seperti yang kamu inginkan.'' Tutur Juan sok bijak.
''Dengan memahami itu, kamu akan menjadi pribadi yang bijak. Saat masa sulit melanda, kamu harus tetap diliputi rasa optimistis serta energi positif. Kamu harus senantiasa berpikir positif. Yakinlah bahwa segala hal yang menyulitkan mu akan berlalu.''
''Begitu pula sebaliknya, saat kamu diliputi kebahagiaan, kamu harus mensyukurinya dengan kerendahan hati, menikmatinya dengan tidak berlebihan.'' Nasihat Juan.
Juan yang meresapi kalimat nya sendiri membuat dia tertegun.
''Malaikat mana yang telah merasuk di dalam tubuh nya. ?'' Batin Juan, merutuki mulut nya sendiri.
''Kenapa dia bisa sebijak ini. ? Sedangkan dia tak mampu melakukan nya sendiri.'' Pikir Juan yang masih tak percaya dengan ucapan nya sendiri.
Kedua tangan Juan membelokan stang bunder nya ke salah satu bangunan rumah.
Tit
Bunyi klakson mobil di dengar oleh sang penjaga gerbang, meskipun bangunan rumah nya tidak terlalu mewah. Rumah tersebut memiliki pintu gerbang yang cukup tinggi. Juan Akui, bangunan rumah di depan nya ini cukup nyaman untuk di jadikan tempat tinggal.
__ADS_1
Diam-diam Juan tersenyum tipis, mengingat masa lalu nya yang dulu giat menabung, giat bekerja, demi mempersunting Eva Saputri.
Wanita yang selalu ada untuk nya selama dua tahun, wanita yang sudah dia klaim menjadi ibu dari anak-anak nya kelak, sebelum pertunangan bersama Eva di selenggarakan.
Kini nasi sudah menjadi bubur, hubungan nya bersama Eva sudah kandas beberapa bulan yang lalu.
Rasa sesak masih saja Juan rasakan ketika mengingat hal masa lalu nya kembali.
Berulang kali Juan menghembuskan nafas berat nya, mengurangi rasa sesak nyeri di rongga dada nya.
Gerakan yang di lakukan Juan tak luput dari ekor mata Vio. Yang masih betah duduk di samping suami nya itu.
Mobil yang berstatus milik adik ipar nya itu, sudah berhenti di bangunan rumah milik nya dua puluh menit yang lalu.
Sedangkan Arsen, jangan di tanyakan keberadaannya sekarang ini.
Yang kini berada di dalam sebuah mobil taksi menuju pulang kerumah nya. Tak henti-henti nya dia mengumpat seluruh nama hewan di kebon binatang.
''Sabar Arsen sabar, dia kakak mu sendiri meskipun beda ibu.'' Pikir Arsen.
''Sudah sampai Mas.!'' Beritahu sang supir taksi. Melirik kaca spion yang mengarah ke arah Jok belakang. Yang di mana sang penumpang nya terlihat sedang ngalamun.
''Mas.'' Panggil ulang sang supir taksi.
__ADS_1
''Eh, gimana Pak.?'' Tanya Arsen dengan menaikan ujung alis nya ke atas, di susul ekor mata nya melirik ke kanan-ke kiri.
Dmn sudah sampai.
Sejenak Arsen terdiam, sebelum berdehem beberapa waktu mengurangi rasa malu nya.
Ekhem, ''Sudah sampai ya Pak. ?''
''Iya, Mas. ''
''Baiklah kalau begitu, bapak tunggu di sini sebentar biar aku ambilkan uang nya.'' Ucap Arsen.
Arsen segera turun dari mobil taksi tersebut, dan bergegas cepat masuk kedalam rumah nya di samping rumah mertua nya itu.
Tak selang lama, Arsen keluar dari dalam rumah dengan nafas sedikit ngos-ngosan. Menghampiri mobil taksi yang masih setia menunggu nya.
''Ini Pak uang nya, kembalian nya ambil saja.''
Dengan senang hati sang supir taksi itu menerima uang tersebut. ''Terima kasih banyak Mas, kalau begitu saya permisi dulu.'' Pamit sang supir taksi, dan di angguki cepat oleh Arsen.
Melihat punggung mobil taksi tersebut sudah menjauh. Arsen baru bernafas lega.
''Hah, memalukan.'' Gumam Arsen, mengusap wajah nya kasar.
__ADS_1