
Ruang inap yang mendominasi warna putih tersebut, kini terdengar begitu ramai. Ada nya keluarga yang sangat bergembira menyambut cucu pertama mereka.
Satu jam yang lalu, setelah proses melahirkan sudah selesai dengan kondisi selamat sekaligus sehat. Eva serta bayi nya di pindahkan ke ruang inap yang sudah di rekomendasikan oleh sang suami nya, Arsen.
''Aduuh tampan nya cucu Oma.'' Gemas Mama Rosa, melihat bayi mungil yang terlelap di dalam baby box rumah sakit.
''Betul sekali, cucu kita sangat tampan.'' Timpal Mama Bunga yang ikut memuji cucu nya yang benar-benar sangat tampan.
''Ngomong-ngomong nih ya, kira-kira nama yang bagus untuk cucu kita apa. ?'' Ucap Mama Bunga, seraya menampilkan wajah yang sedang berpikir.
''Kalau aku sih, terserah orang tua nya saja. Yang berhak mengasih nama buah hati mereka berdua.'' Ucap Mama Rosa.
''Iya, aku juga ikut. Asalkan nama belakang nya ikut dengan nama keluarga ku, Nendra.'' Harap Papa Burhan, menatap ke arah putra nya, Arsen.
''Bukan begitu nak Arsen. ?'' Menaikan ujung alis nya ke atas.
Arsen yang sudah mengerti maksud dari sang Papa, bola mata Arsen bergulir ke arah istri nya yang sedang menatap nya juga.
Eva yang tak keberatan sama sekali, dia menganggukkan kepala nya pelan.
''Terima kasih, sayang. Hmm bagaimana dengan Elvano Nendra.?''
''Itu terlalu singkat kak, seperti nama kita. Bagaimana dengan Elvano Yolan Nendra. ?'' Usul Juan, yang ikut memberi nama sang ponakan nya itu.
''itu tidak terlalu buruk, dan aku setuju.'' Timpal Papa Shidiq yang ikut setuju.
''Bagaimana sayang, ?Apa kamu setuju nama yang di berikan oleh kak Juan. ?'' Membuat Eva mengangguk, mengiyakan nama yang di berikan oleh kakak ipar nya itu.
__ADS_1
''Bagus sekali, aku juga setuju. Iiishh gemas deh dengan pipi El yang tembem, pingin ku cubit.'' Gemas Nadin, menoel-noel pipi El yang tembem nan lembut itu.
''Berat badan nya tadi berapa mbak. ?'' Kepo Nadin, yang melihat tembem pipi nya El.
''Hampir empat kilo, Nad.''
''Wooow, pantes tembem kayak bak paw.'' Kelakar Nadin.
''Kepingin.'' Goda Juan, memainkan ujung alis nya.
Nadin berdecak. ''Ck, jangan mulai deh. ''
''Aku serius bab, yuk bikin. !''
''Nikahin dulu, baru bikin.'' Sahut Mama Bunga cepat.
Puk
''Sembarangan, emang nya jam segini masih buka. Tuh lihat jam dinding, sudah pukul empat sore.'' Seloroh Papa Burhan.
''Iyah, gagal lagi.'' Cemberut Juan.
Nadin menggeleng-geleng gemas melihat wajah cemberut tunangan nya itu. ''Sabar sayang, bukan nya tanggal pernikahan kita tinggal beberapa minggu lagi.'' Hibur Nadin ke pada tunangan nya, Juan.
Nadin bersama Juan telah resmi bertunangan satu bulan yang lalu. Tanggal pertunangan dengan tanggal pernikahan hanya berjarak satu bulan saja.
Kedekatan mereka berawal dari Nadin yang membutuhkan bantuan dari Juan soal biaya rumah sakit ibu nya. Sedangkan Juan yang membutuhkan sosok Nadin, sebagai teman curhat dalam perjalanan cinta nya, sekaligus merangkap sebagai asisten pribadi nya. Membuat mereka yang bertemu setiap saat, mampu menimbulkan rasa cinta di antara mereka berdua.
__ADS_1
''Apa undangan pernikahan kamu sudah kamu sebar ke teman-teman kamu, keluarga sekaligus rekan-rekan kerja kalian berdua?'' Tanya Papa Burhan.
''Persiapkan sudah selesai semua Pa, tinggal beberapa undangan saja yang belum Aku kirim, itu juga termasuk undangan untuk Vio.'' Ungkap Juan, tentang persiapan pernikahan nya yang sudah 99% beres.
''Bagus, kita tinggal menunggu hari H nya saja.'' Sela Mama Bunga.
''Iya, semoga aja lancar.''
''Amin. '' Ucap Juan.
''Ngomong-ngomong ini kapan cucu Papa di perbolehkan untuk pulang, sayang. ?'' Tanya Papa Burhan, yang di tunjukan oleh menantu nya, Eva.
''Mungkin besok pagi Pa, Eva kan melahirkan secara normal. Di tambah bayi ku sehat dan aku juga sehat, jadi tidak ada keluhan sama kita berdua.''
''Syukur lah, jika begitu, Papa ikut senang mendengar nya.''
''Iya Pa, Eva juga sudah mulai jenuh di rumah sakit.'' Keluh Eva.
''Sabar sayang, ini demi kesehatan kamu dan juga putra kita. Kamu yang masih lemah sehabis melahirkan dan juga membutuhkan cairan serta vitamin melalui infus.''
Eva tersenyum senang, mendapatkan suami yang sangat perhatian terhadap diri nya. Dia tak salah, dahulu dia memilih mempertahankan pernikahan nya dengan Mas Arsen dan berakhir sangat bahagia seperti ini. ''Iya Mas Arsen. ''
''I really love you. '' Ucap Eva.
''I love you so much, too. '' Balas Arsen.
Cup
__ADS_1