Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
26. Suamiku


__ADS_3

🍁🍁🍁


Tak! Suara David meletakkan gelas tehnya sambil melirik kecil pada Lukas yang datang bersama Salwa mengenakan setelan busana sekertaris.


"Pagi Mah!" Sapa Lukas menarik kursi untuk mempersilahkan Salwa duduk. "Pagi Pah!" Lanjutnya menyapa dengan menarik kursi untuknya yang berada diantara Rose dan Salwa.


"Pagi juga sayang." Sambut Rose melihat Salwa yang berdandan tidak seperti biasanya.


"Oh iya! Mulai hari ini Salwa akan ikut Luhan kerja dikantor ya Pah Mah."Ucap Lukas menangkap ekspresi wajah terkejut pada Rose dan David. "Dia akan jadi sekertaris Luhan." Sambungnya.


"Terus sekertaris kamu yang sebelumnya gimana?" Tanya David. " Dan Salwa juga gak punya basic sekertaris sama sekali loh." Sambungnya. "Ini akan menghambat pekerjaan kamu dan bisa-bisa ja---."


"---Untuk sekertaris sebelumnya kasih ke tempat lain aja gimana?" Potong Lukas. "Dan mengenai basic---" ucapnya terjeda sesaat melihat Salwa. "---Istriku lulusan intelijen." Sambung menoleh pada David. "Kemampuan yang dia miliki melebihi seorang sekretaris." Pujinya mengambil roti yang telah diolesi selai oleh Salwa. "Dia bahkan hebat dalam bela diri." Menikmati rotinya. "Benarkan Mah?" Melihat ke Rose sambil memperhatikan warna bola mata yang sama dengannya.


"Iya sayang." Sahut Rose menangkup wajah Lukas dengan senyum di kedua sudut bibirnya.


"Mama gak keberatan kan' kalau Salwa jadi sekertaris Luhan?" Meraih gelas susu di didepannya sambil membuka matanya lebar menunjukkannya sengaja pada Rose.


"Enggak sih sayang tap---" sahutnya terjeda melihat warna bola mata Lukas.


"---Tapi apa mah?" Tanya yang kemudian mengangkat gelas untuk meneguk susu didalamnya.


"Gak ada sayang." Jawab Rose yang kini menarik senyum dari bibirnya. "Salwa bisa jadi sekertaris kamu." Menoleh perlahan pada David. "Benarkan pah?"


"Tapi Mah bukannya ka---"


"---Pahhh." Potong Rose dengan nada lembut untuk tidak menolak keputusannya.


Heh!Dia benar-benar terganggu dengan bola mata ini. Batin Lukas meletakkan gelasnya sambil menyeringai tipis menarik perhatian Salwa hingga keduanya tiba di lobby perusahaan.


"Selamat datang Tuan Muda Kardinata dan Nona Praka---"


"---Salwa." Potong Salwa menerima bunga dari para kepala bagian dan karyawan yang menyambut kedatangan mereka. "Just Salwa." Sambungnya kembali mengingatkan semua untuk cukup memanggilnya dengan Salwa tanpa menggunakan nama belakang keluarga Raden.


"Maaf Nona." Ucap Kepala personalia mewakili semuanya yang kemudian membawa Lukas dan Salwa menaiki lift khusus CEO.


"Stop!" Pinta Lukas pada kepala personalia dan pengikut lainnya yang hendak masuk ke Lift dengannya dan Salwa. "Kalian tak perlu repot-repot mengantar kami keatas." Lanjutnya dengan menyeringai.


"Tapi Pak biasanya memang ki---"

__ADS_1


"---Apa akhir-akhir ini bisnis di Emperal grup tidak berjalan baik?" Potong Lukas mengangkat lengannya melihat jam ditangan. "Sampai membuat semua karyawan di Emperal mempunyai banyak waktu untuk mengurus sesuatu yang tak begitu penting." Menaikkan salah satu alisnya dengan sorotan mata tajam membuat mereka membeku.


"Ma-maaf Pak Lu-Luhan." Sahut kepala personalia.


"Okay." Balas Lukas menekan tombol menutup pintu lift. "Jangan lupa untuk meminta Bobi menghadap padaku." Sambungnya sebelum pintu lift tertutup. "Kenapa lihat aku seperti itu?" Tanya Lukas pada Salwa yang menatap padanya.


"Apa kamu sedang merencanakan sesuatu dibelakangku?" Tanya Salwa yang kemudian melirik kan matanya sebentar ke arah kamera cctv.


"Gak sama sekali." Jawab Lukas menoleh lurus kembali menatap ke depan sambil memikirkan satu persatu kejanggalan yang ia temukan di rumah Kardinata setelah tinggal satu hari disana.


Mulai dari memori dikepalanya yang dipaksa keluar oleh rumah Kardinata. Fakta bahwa Raden Prakas yang telah menjebaknya tak lain adalah Ayah mertua Luhan,Pria yang saat ini koma dalam pengawasan Raden. Hubungan Luhan dengan putri kandung Raden dan putri angkatnya.


Ting! Suara pintu Lift terbuka dilantai paling atas. Salwa melirik kecil pada kamera cctv sambil mengikuti Lukas dari belakang.


"Selamat pagi Pak." Sapa seorang wanita yang beranjak berdiri dari balik meja resepsionis.


"Pagi." Sahut Lukas meneruskan langkahnya tanpa menoleh pada wanita yang merupakan sekertaris Luhan selama ini. Ia hanya fokus pada ponsel sambil menuju ruangan CEO diiukut oleh Salwa dan sekertaris wanita itu.


Klekk! Suara pintu di buka sekertaris yang kemudian di teruskan dengan kedua tangan mempersilahkan Lukas masuk.


"Eits!" Tegur sekertaris dengan merentangkan satu tangannya menghalangi Salwa masuk mengikuti Lukas. "Kamu tunggu diluar." Ucap Jily 24 tahun,sekertaris Luhan.


"Sebagai junior kamu itu harus nurut sama senior." Ucap Jily menarik tangannya dan melipat keduanya di bawah dada.


"Masalahnya saya bukan junior kamu." Tepis Salwa menerobos Jily dengan sengaja menabrakkan bahunya pada Jily yang kemudian berbalik badan sambil berdecak.


"Dasar sekertaris ganjen!" Umpat Jily ikut masuk dan berdiri sejajar dengan Salwa didepan meja Lukas.


Tok tok tok! Suara ketukan pintu membuat Lukas terjaga dari duduk santainya. Ia meletakkan ponselnya di meja lalu mengangkat wajah menatap Salwa dan Jily bergantian.


"Kamu!" Menunjuk Jily dengan dagunya. "Bukakan pintu bawa masuk tamu penting yang ada diluar sana." Perintah Lukas.


"Bapak gak salah kasih perintah?" Tanya Jily yang tak terima akan sikap Lukas yang malah menyuruhnya.


"Kenapa?" Tanya Lukas balik. "Kamu udah gak mau kerja disini lagi?" Sambungnya dengan nada dingin dan sorotan mata yang tajam.


"Bu-bukan Pak." Sahut Jily gugup sambil berbalik badan melaksanakan perintah Lukas yang memberikan senyum pada Salwa.


"Apa kamu senang?" Tanya Lukas pada Salwa.

__ADS_1


"Senang untuk apa?" Tanya Salwa balik.


"Suami penggantimu ini baru saja memberi pelajaran pada karyawan yang meremehkan istrinya." Jawab Lukas meraih map file yang tergeletak di meja.


"Haruskah aku membalasnya dengan---" ucapnya terjeda dengan berjalan mendekat pada Lukas.


"---Apa yang ingin kamu lakukan?" Sambung Lukas menatap Salwa yang menjulurkan kedua tangannnya masuk kedalam jas yang ia kenakan.


"Melepas Jasmu." Bisik Salwa dengan mencondongkan tubuhnya mendekat pada telinga Lukas.


"Aku pikir kamu ingin memberikan sebuah ciuman untuk suamimu ini." Balas Lukas meraih pinggul Salwa dan menariknya duduk dipangkuannya.


"Hei!" Tegur Salwa terkejut dengan kedua tangan merangkul leher Lukas. "Ini kantor." Sambungnya. "Kamu gak boleh macam-macam di sini." Melihat Lukas yang menatap wajahnya.


"Kalau ini bukan kantor." Ucap Lukas. "Apakah boleh?" Tanya Lukas membuat jantung Salwa berdetak tak karuan. Diwaktu bersamaan Jily berbalik badan membawa masuk Bobi bersamanya kehadapan Lukas yang sedang menggoda istri Luhan di pangkuannya.


"Kamu---"


"---Dasar ******!" Potong Jily mengumpat mengagetkan Salwa dan Lukas yang kompak melihat kearah datangnya suara. "Berani kamu ya menggoda Pak Luhan di hari pertama kerja!" Sambungnya memarahi Salwa.


"Apa kamu ingin di pecat?" Tegur Bobipada Jily dari belakangnya.


"Tanyakan itu pada dirimu yang tak berguna itu." Jawab Jily. "Apa kamu merasa dirimu sangat penting karna Pak Luhan memanggilmu kemari?" Cibirnya. "Kamu juga!" kembali melototi Salwa yang begitu menikmati kedua paha Lukas menjadi tempat duduknya. "Kenapa masih belum turun dari sana?" Bentaknya berdiri di depan meja Lukas.


"Kenapa aku harus mendengarkanmu?" Tanya Salwa balik.


"Apa kamu sadar sedang duduk dimana?" Tanya Jily.


"Sadar." Mengeratkan lingkaran tangannya sambil meletakkan kepalanya pada pundak Lukas membuat jantung pria itu berdegup tak karuan.


"Heh! Benar-benar nih sekertaris ganjen." Cibir Jily. "Turun enggak?!" Bentak Jily.


"Suamiku." Panggil Salwa dengan nada lembut dan wajah menengadah keatas pada Lukas. "Apa aku tidak boleh duduk di pangkuanmu?" Tanyanya membuat Lukas tidak dapat mengendalikan perasaan yang mendorong dirinya ingin melahap Salwa.


"Apa kamu bilang?" Tanya Jily membuat Salwa spontan menoleh hingga membatalkan niat Lukas.


"Suamiku." Jawab Bobi mengulangi di telinga Jily yang kini memerah. "Apa masih kurang jelas?" Tanya Bobi. "S-U-A-M-I-K-U." Bobi mengeja panggilan Salwa pada Jily yang kini menundukkan wajahnya yang memerah.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2