Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P 80


__ADS_3

''Ini dia yang di tunggu-tunggu.'' Sinis Mama Rosa menatap tak suka dengan ponakan suami nya itu yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Mama Rosa bahkan sangat menyesal, dahulu telah menyayangi Vio selayak nya seperti putri kandung nya sendiri, bahkan Mama Rosa tidak pernah membeda-bedakan antara putri kandung nya sendiri mau pun tidak.


Bahkan Mama Rosa sudah memaafkan atas kesalahan Vio yang sudah merebut kebahagiaan putri kandung nya itu. Sekaligus dia masih bisa menahan kata-kata kasar dan hinaan untuk ponakan nya yang tidak tau terima kasih itu.


Dan sekarang perbuatan ponakan nya itu sudah keterlaluan membuat Mama Rosa tidak bisa menahan lagi amarah nya serta hinaan untuk ponakan yang tak tau di untung itu.


Berbeda lagi dengan Eva, Eva menghela nafas panjang, melihat tingkah Mama nya itu. Bahkan dia masih tak percaya dengan kelakuan Mama nya itu yang mendadak berubah drastis seperti ini. Dahulu sifat Mama nya sosok seorang Mama yang lembut dan juga penyayang ke pada diri nya maupun dengan Vio.


Usapan lembut di punggung tangan kiri nya, membuat Eva menoleh ke arah suami nya itu.


''Maklumi aja, seorang ibu yang sangat kecewa terhadap anak didikan nya.'' Ucap Arsen, mencoba memberi pengertian sekaligus menenangkan sang istri tercinta.


Arsen yang masih belum mendapatkan respon dari sang istri. Membuat dia mencari cara lain, supaya sang istri tidak ikut-ikutan seperti Mama mertua nya itu.

__ADS_1


''Ingat, calon anak kita.!'' Mengusap lembut perut sang istri.


''Tidak boleh marah-marah yang berlebihan, ingat, saran dari sang Dokter kemarin.'' Imbuh Arsen lagi.


Eva membuang nafas panjang nya ke udara bebas, yang seakan mengurangi rasa sesak, marah di dalam dada nya. ''Aku mengerti.''


Setelah mengucapkan dua kata itu, Eva langsung mengembangkan senyuman manis nya


''Bagus, jangan memikirkan sesuatu yang tak penting. Itu bukan urusan kita, cukup menyimak nya saja, dan itu lebih baik.'' Pesan Arsen yang tak ingin terjadi sesuatu dengan mereka berdua.


Arsen mengembangkan senyuman di sudut bibirnya. ''Sudah menjadi tugas nya seorang suami sayang, yang selalu mengingatkan sang istri soal kesehatan kalian berdua.''


Dari sisi tempat yang berbeda, Mama Bunga beranjak dari tempat nya duduk. Lalu berjalan menghampiri sang menantu nya yang sebentar lagi sudah menjadi mantan menantu dari keluarga Nendra.


Plak, tamparan kuat dari Mama Bunga. Mampu membuat pipi Vio berwarna kemerahan dan tak lupa meninggalkan bekas telapak tangan di pipi Vio.

__ADS_1


Dan untuk Vio, sekuat apa pun untuk tidak menangis, pada akhir nya, air mata nya itu tetap luruh juga kedua pipi nya.


''Ma. '' Tegur Juan.


''Apa. ? '' Kedua mata tajam Mama Bunga bergulir ke arah putra nya berada, yaitu berdiri di belakang Vio dengan kedua tangan nya menahan pundak Vio, yang kini masih berstatus istri nya itu.


''Apa aku harus menampar kamu juga?'' Sungut Mama Bunga marah.


''Berani-berani nya kamu melindungi orang yang jelas-jelas sudah bersalah.'' Geram Mama Bunga, hingga urat leher nya menonjol.


''Apa kamu lupa. ? Gara-gara perempuan penggoda ini hidup mu hancur, masa depan mu yang kamu rancang bersama Eva dulu kini hanya tinggal kenangan, hah.''


''Stop Ma. jangan mengungkit masa lalu.''


''Ok, baiklah, kita bahas yang sekarang ini. Sekarang aku bertanya sama kamu, kenapa kamu melindungi orang yang jelas-jelas sudah bersalah ini.?'' Tunjuk jari Mama Bunga di depan wajah Vio.

__ADS_1


''Soal itu, Juan memang salah Ma. enggak seharusnya aku melakukan hal itu. Namun, aku melakukan hal itu hanya semata-mata melindungi calon anak Juan di dalam rahim Vio, cucu Mama.'' Jelas Juan berkata jujur.


__ADS_2