Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
28. Saling mengenal


__ADS_3

🍁🍁🍁


Alunan musik klasik di sebuah restoran yang berada di lantai empat gedung. Meja di sudut ruangan dengan kursi sofa tinggi menghalangi keberadaan Lukas dan Salwa yang memantau rumah sakit di seberang jalan.


"Nasi chicken katsu kejunya satu lemon tes hangatnya satu." Ucap Salwa pada pelayan yang berdiri disampingnya.


"Nasi chicken katsu teriyakinya satu dan lemon tes dinginnya satu." Sambung Lukas yang kemudian mengembalikan buku menu pada pelayan.


"Tidak ada menu tambahan lainnya?" Tanya Pelayan. "Kita ada cumi tepung goreng dan kentang goreng dan sebagainya lagi." Tawar Pelayan.


"Cumi tepung goreng." Sahut Salwa menutup buku menu dan mengembalikannya pada pelayan. "Sama air mineralnya dua ya Kak." Tambahnya yang dibalas anggukan oleh pelayan.


"Bagiamana dengan kondisinya sekarang?" Tanya Lukas meneropong pergerakan di rumah sakit. "Apa ada masalah yang serius?" Tanya lagi mencari keberadaan Ronal,Bams dan Raden disekitar gedung. "Kamu terlihat sangat gelisah sebelumnya." Sambungnya menurunkan teropong dari pandangannya yang tak menemukan satu pun orang yang ia cari.


"Luhan masih sama seperti sebelumnya." Jawab Salwa meneropong ke luar mencari tempat yang cocok untuk di tempati kedua perawat. "Aku berencana untuk memindahkannya dari sana." Sambung Salwa. "Tapi dalam hal itu aku memerlukan seorang yang ahli untuk merawatnya agar kondisi Luhan cepat membaik." Jelasnya melihat mobil yang begitu familiar berhenti di depan rumah sakit.


"Dengan kekayaan Emperal grup itu bukan lah sesuatu yang su---"


"---Ayah!" Potong Salwa membuat Lukas dengan cepat mengangkat teropong miliknya melihat keberadaan Raden. "Siapa yang sakit?" Tanya Salwa yang kemudian menurunkan teropongnya dan meraih ponselnya.


Kringgg kringgg! Suara ponsel Raden berdering saat baru saja menutup pintu mobilnya.


"CK!" Decak Raden melihat panggilan masuk dari Salwa tertangkap oleh Lukas yang terus mengamatinya dari lobang teropong.


"Halo Ayah." Sapa Salwa dari ujung telpon sambil melihat Raden melalui teropongnya.


"Iya." Sambut Raden. "Ada apa?" Tanya Raden. "Kenapa tiba-tiba menelpon Ayah?" Sambungnya.


"Salwa hanya mau mengingatkan Ayah untuk tidak lupa dengan makan malam nanti." Jawab Salwa.


"Oh mengenai itu." Sahutnya. "Iya, Ayah gak akan lupa." Sambungnya.


"Baguslah yah." Ucap Salwa. "Ayah lagi dimana sekarang?" Tanya Salwa.


"Ayah lagi nemanin bunda kamu belanja untuk persiapan menghadiri undangan makan malam dari mertuamu." Jawab Raden berbohong.


"Oh begitu." Ucap Salwa membuat Lukas menurunkan teropong dari pandangannya dan melihat ke Salwa. "Sampai ketemu nanti malam yah!" Tutup Salwa mengakhiri telponnya dengan Raden yang kini memasukkan ponselnya ke kantong sambil berjalan masuk kedalam rumah sakit.


"Ini pesanan Tuan dan Nyonya." Ucap Pelayan mengagetkan keduanya yang sigap menyembunyikan teropong dari atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih." Balas Salwa.


"Apa ayahmu sering berbohong?" Tanya Lukas kemudian setelah pelayan pergi dari meja mereka.


"Ya." Jawab Salwa memakan chickennya. "Semenjak Luhan memilih untuk menikahiku dia selalu berbohong padaku." Jelasnya.


"Bagiamana dengan Salma?" Tanya Lukas. "Apa dia juga sering berbohong padanya?" Menikmati teriyakinya sambil menatap Salwa.


"Mereka adalah Ayah dan Putri kandung." Mengangkat wajahnya. "Mana mungkin Ayah membohonginya." Melihat Lukas.


"Lalu bagaimana sekarang?" Tanya Lukas melihat keluar. "Apa kita masih mau ke rumah sakit mengunjungi suamimu?" Menoleh kembali pada Salwa.


"Menurutmu bagaimana?"


"Kita tunggu sampai Ayahmu pergi. Setelah itu baru kita masuk." Jawab Lukas sambil melanjutkan makannya.


Satu jam kemudian Lukas dan Salwa duduk di dalam mobil menunggu Raden keluar dari Rumah sakit tempat Luhan di rawat.


Tring! Suara notifikasi berdenting membuat keduanya kompak melihat ponsel masing-masing yang berada dalam genggaman.


Sebuah pesan baru masuk ke email Ferozkan yang telah di setting Lukas pada ponsel pemberian Salwa. Ia melihat pengirim pesan dari nama email bobbob membuat Lukas menyeringai tipis. Sementara Salwa menutup layar ponselnya dan kembali melihat keberadaan Raden dari balik kaca mobil.


"Pesan apa yang membuatmu sampai tercengan begitu?" Tanya Salwa beberapa menit kemudian menoleh pada Lukas yang mengerutkan keningnya menatap informasi mengenai Raden.


"Oh." Sahut Salwa kembali meneropong mobil Raden yang belum bergerak dan masih diawasi oleh dua pengawalnya.


Raden Prakas anak sambung dari pemilik hotel secret sebelumnya, Raja Prakas. Raja Prakas menikah dengan Valen Grey, Ibu biologis Prakas. Sebelum Raja dan Valen menikah Raden Prakas di kenal dengan nama Dafa Grey. Ia berganti nama setelah satu hari kematian Raja yang disebabkan oleh kecelakaan tunggal usai pemberkatan. Semua harta milik Raja jatuh ke tangan Dafa Grey. Dafa menggunakan nama Raden Prakas yang merupakan nama putra Raja yang sedang melakukan perjalanan bisnis keluarga negeri. Dafa menyabotase semua identitas milik Raden padannya. Ia bahkan melakukan operasi plastik untuk mendapatkan wajah yang mirip dengan Raden Prakas. Dengan status dan wajah baru Dafa menggantikan posisi Raden asli untuk menikahkan tunangan Raden bernama Wulandari Ningsih.


Tring! Suara notifikasi berdenting kembali membuat Lukas melihat sebuah pesan baru masuk ke emailnya.


"Raden Prakas." Ucap Lukas membaca nama email membuat Salwa yang duduk disampingnya menoleh.


"Apa ayahku mengirimkanmu pesan?" Tanya Salwa mengagetkan Lukas hingga ponsel di tangannya terjatuh.


"Bagaimana mungkin?" Sangkal Lukas. "Lihat sepertinya Ayahmu sudah selesai dengan urusannya." Menunjuk Raden yang keluar di kawal oleh dua pengawal. "Coba telpon orang kamu yang mengawasi Luhan." Saran Lukas sambil meraih ponselnya yang terjatuh dibawah kursi.


"Halo Indri." Ucap Salwa yang selang detik kemudian melakukan panggilan pada Indr sesuai saran Lukas.


"Iya Bu Salwa." Sambut Indri berbisik menerima panggilan di bawah kolong ranjang.

__ADS_1


"Ada apa dengan suaramu?" Tanya Salwa.


"Saya lagi bersembunyi Bu di bawah kolong ranjang sebelah ranjang suami Ibu." Jawab Indri.


"Bagaimana dengan Zack?" Tanya Salwa melihat mobil Raden pergi diikuti oleh mobil pengawalnya dari belakang. "Apa dia bersamamu?" Tanyanya lagi.


"Dok-Eh bukan maksud saya kak Zack berjaga di luar pintu Bu." Jawabnya keluar dari bawah kolong. "Rencananya kami ingin melakukannya pemeriksaan terhadap suami Bu Salwa diam-diam." Melangkah ke dekat pintu. "Tapi saat Aku baru melangkah masuk ada Pria dengan pakaian rapi menuju ke arah kami." Menilik sedikit dari pintu yang terbuka sedikit. "Kak Zack mendorongku masuk sementara dia tetap diluar untuk berjaga." Mencari-cari keberadaan Zack diluar. "Dan sepertinya Kak Zack mengikuti Pria yang masuk sebelumnya ke ruang perawatan Suami IBu." Ucap Indri membuat Salwa melihat seorang pria mengenakan jas dokter dan pakaian dalam untuk operasi.


"Aku tutup dulu." Ucap Salwa pada Indri membuka pintu mobilnya. "Lukas ayo." Ajaknya keluar dari mobil.


"Bu Salwa." Panggil pria itu sambil membuka masker diwajahnya.


"Zack?" Sahut Salwa.


"Siapa Zack?" Tanya Lukas yang berjalan dibelakangnya sambil memakai kacamata menutupi wajahnya.


"Dia salah satu perawat yang merawatmu sebelumnya di Villa." Jawab Salwa.


"Oh." Sahut Lukas.


"Apa yang sedang kamu lakukan dengan terang-terangan menyamar jadi dokter disini?" Tanya Salwa pada Zack.


"Saya tidak sedang menyamar Bu Salwa." Jawab Zack melepaskan name tag yang di kalungkannya.


"Eh?"


"Saya memang dokter di sini." Menunjukkan name tag miliknya pada Salwa. "Maaf sebelumnya telah menipu Bu Salwa." Menundukkan kepala meminta maaf pada Salwa.


"Lalu apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Lukas.


"Seorang Pria baru saja datang mengunjungi suami Bu Salwa." Jawabnya. "Saya mengikutinya diam-diam dari belakang." Sambungnya.


"Apa pria itu memiliki lencana seperti ini?" Tanya Salwa mengeluarkan sebuah lencana yang di miliki seorang Intel untuk mengakses apapun terkait kasus yang sedang dalam penyelidikan.


Heh!ternyata membawa benda itu ia bawa kemana pun. Pantesan aja Aku tak menemukannya di dalam kamar. Batin Lukas melihat benda multifungsi itu di tunjukkan pada Zack.


"Ya." Jawab Zack. "Ini plat mobil Pria itu." Menunjukkan foto yang diambil sebelum mobil Raden meninggalkan tempat.


"Ini plat mobil Ayah." Sahut Salwa. "Kamu yakin tidak salah mengambil gambar?" Tanya Salwa yang dibalas gelengan kepala dari Zack. "Ada urusan apa Ayah dengan---" Ucapnya terjeda melihat ke Lukas yang mengendikkan bahu padanya.

__ADS_1


Lukas,dia mengenal Ayah! Batin Salwa.


🍁🍁🍁


__ADS_2