Bukan Suami Pengganti

Bukan Suami Pengganti
B, S, P 79


__ADS_3

Jam dinding terus berputar, tak terasa kini sudah pukul tiga sore hari.


Dokter kandungan baru saja keluar dari ruang inap Vio, memastikan lagi kesehatan pasien nya paska menjalani tindakan kuret semalam.


Sang dokter juga sudah bilang, barusan, kalau dia sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Dengan syarat, jika ada keluhan di bagian perut yang paling bawah harus segera di periksa ulang kembali ke rumah sakit. Hal itu langsung di setujui oleh Vio dan juga Juan.


''Apa sudah semua nya. ?'' Tanya Juan, saat melihat sang istri nya Vio sudah bersiap keluar dari kamar inap nya.


''Sudah, aku kemarin tidak membawa apa-apa.?'' Sahut Vio cepat, melangkah kan kaki nya keluar dari kamar inap nya.


Juan hanya oh ria sambil mengikuti istri nya melangkah keluar.


''Apa kamu membutuhkan bantuan. ?'' Tawar Juan lagi.


''Gak perlu, aku masih bisa berjalan sendiri. ''


Dengan sedikit tertatih-tertatih, kini Vio sudah sampai ke tempat mobil Juan terparkir.


''Huuuf.'' Mengusap keringat di kening nya sesaat.

__ADS_1


''Capek.'' Tegur Juan, berlalu masuk ke dalam mobil tanpa ingin membantu Vio.


Hati Vio mencelos, melihat sikap dari sang suami nya itu. Ini lah sifat asli dari Juan, saat pertama kali bertemu. Berbeda balik ketika bersama dengan Eva, saat masih berstatus tunangan nya waktu itu.


Klik, pintu mobil terbuka dari dalam.


''Sampai kapan kamu terus berdiri di situ. ?'' Ucap Juan. ''Keluarga kita sudah menunggu kamu di rumah, jika kamu lupa.'' Imbuh Juan.


''Hah, aku tidak lupa.'' Bergerak masuk ke dalam mobil.


''Apa yang sebenar nya terjadi kemarin sehingga membuat kamu keguguran. ?''


''Kenapa kamu bisa seyakin itu. ?''


''Ya, karena aku kemarin melihat keluarga Eva tidak terima. Kalau aku, selaku pelaku dari kecelakaan waktu itu, bisa bebas dari jeratan jeruji besi.'' Ucap Vio tercekat di akhir kalimat nya.


''Walau pun iya, aku tidak akan mengelak. Dan aku akan terima keputusan apa pun dari kantor polisi nanti. Toh, sudah tidak ada yang ku perjuangkan lagi, calon anak ku mau pun kamu, sama-sama sudah pergi dari kehidupan aku.'' Ucap Vio memalingkan wajah nya ke arah luar jendela.


''Jangan lupa, berikan surat perceraian itu kepada ku. Biar aku bisa langsung mendatangani nya sebelum aku masuk ke dalam penjara.''

__ADS_1


''Aku yakin, surat yang kamu urus beberapa bulan yang lalu kini sudah keluar dari pengadilan agama.''


''Tolak juga, saran untuk melakukan mediasi dari pengadilan agama, biar cepat kelar urusan nya.''


''Pasti, semua itu sudah di urus oleh pengacara ku. Dan kebetulan sekali surat itu sudah ada di meja kerja ku di rumah. ''


DEG


Jantung Vio berdenyut nyeri, ''Ini kah akhir dari perjuangan nya selama ini.'' Batin Vio ingin menjerit, meluapkan rasa sakit yang teramat dalam di hati nya.


Kini, mobil yang di kendarai oleh suami nya Juan, sudah berbelok ke arah rumah selama ini mereka tinggal.


Masih dari dalam mobil, Vio sudah melihat ada nya tiga mobil sekaligus di depan rumah nya saat ini.


Jemari Vio meremas ujung dress yang dia kenakan, keringat dingin di sela-sela jemari nya sudah di rasakan oleh Vio. Meskipun dia sudah mengetahui apa yang bakal terjadi selanjutnya ya. ? Tetapi, tidak bisa di pungkiri, kalau dia sangat takut tinggal di balik jeruji besi.


Dahulu dia pernah tinggal di dalam sana beberapa hari, sudah membuat dia frustasi. apa lagi sampai satu tahun. ? Bahkan bisa lebih.


Hembusan nafas berat nan panjang, sudah di lakukan oleh Vio sebelum turun dari dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2