
Memiliki kehidupan yang sukses merupakan tujuan mayoritas orang. Hampir semua orang ingin hidupnya sukses. Namun, untuk mencapainya tidaklah mudah. Perlu semangat juang, sifat pantang menyerah, serta konsistensi.
Perlu ditekankan, sukses sejati tak bisa didapatkan dengan cara instan. Ada hal yang ada hal yang harus diperjuangkan dan dikorbankan untuk mencapai kesuksesan.
Semakin sulit perjalanan hidupmu, maka kamu akan menjadi semakin kuat.
Setiap fase yang kamu jalani harus bisa mendatangkan pelajaran untuk naik ke fase berikutnya.
Sepulang bekerja, Vio sengaja tidak pulang kerumah meskipun sudah di wanti-wanti untuk pulang ke rumah megah itu. Bahkan laki-laki yang berstatus suami nya itu sudah berpesan jika pulang nanti ia memberi kabar ke pada nya.
Sikap Vio yang acuh dan masa bodoh, ketika mengingat pesan yang ia dapatkan dari orang-orang yang baru ia kenal. Dengan sengaja, Vio pulang ke kontrakan yang dia sewa bersama Lisa selama tinggal di kota pahlawan itu.
''Mungkin kita berdua seumuran Vi, tetapi kamu harus ingat. Sejak kecil diri ku ini hidup di sebuah panti asuhan, menjadi dewasa sebelum waktu nya sudah aku jalani dari sejak dulu sampai aku di lamar seseorang dan berakhir menikah dan langsung di bawa pergi dari panti Asuhan, di mana tempat aku di besarkan.''
__ADS_1
''Apa kamu menikah karena cinta. ?'' Pertanyaan yang sedari dulu ingin Vio tanyakan akhir nya kini lolos juga dari bibir nya, meskipun ada rasa tak enak terhadap Lisa yang menyinggung masa lalu.
''Maaf jika aku______''
''Tidak apa-apa Vi, santai aja kali. Aku menikah bukan karena cinta. Namun, hati ku sangat yakin, kebersamaan yang di ciptakan sebuah pasangan suami istri akan menimbulkan benih-benih cinta sejalannya waktu. Dan itu sudah terbukti, walau pun, ending nya tidak terduga.'' Lirih Lisa di akhir kalimat lalu di iringi hembusan nafas yang cukup panjang.
Vio sudah mengerti apa yang di rasakan oleh Lisa di masa lalu. Memang, masa lalu setiap orang berbeda-beda termasuk diri nya. ''Huff, apa kamu baik-baik saja Lis. ?'' Tanya Vio, menarik tubuh nya dari sandaran sofa lalu menatap Lisa. Sedangkan Lisa, berada di atas ranjang menatap langit-langit di kamar nya.
''Sangat baik, dari sebelum nya.'' Menarik tubuh nya dari kasur empuk nya. ''Mencoba tidak ada salah nya Vi, meskipun kamu tidak menginginkan pernikahan itu terjadi, status kamu tetap lah seorang istri. Dan, tugas seorang istri harus berada di sisi sang suami.''
Melihat Vio terbawa emosi, Lisa segera menghampiri nya. Mengusap sejenak lengan Vio, Lisa mencoba untuk menangkan sahabat nya itu.
''I am so sorry, tadi aku tak bermaksud _____''
__ADS_1
Vio menggeleng cepat. ''Kamu tidak salah Lis, mungkin aku aja yang belum bisa menerima yang sudah terjadi hiks, hiks. ''
Lisa membawa Vio ke dalam pelukan nya, tidak lupa memberi usapan lembut di punggung sahabat nya itu sambil membisikan sesuatu sebagai bentuk support.
Keheningan menghilang berganti deringan ponsel milik Vio yang berbunyi nyaring.
''Udah, jangan menangis terus. ! Lebih baik angkat dulu ponsel mu.'' Ucap Lisa, bergerak mencoba melepaskan pelukan nya bersama Vio.
Vio mengangguk lemah tanpa bersuara, seraya melihat layar ponsel milik nya.
''Tidak ada nama nya, mungkin saja orang salah memasukan nomer.'' Gumam Vio.
''Aku ke kamar ku dulu.'' Pamit Vio, setelah mendapatkan anggukan dari Lisa.
__ADS_1
''Gak kamu angkat dulu, siapa tau penting. ?'' Ucap Lisa, mendengar deringan ponsel milik Vio kembali terdengar.
''Gak ah. '' Jawab nya berlalu hilang di balik pintu.