
🍁🍁🍁
Brakk! Suara Salwa mendorong Lukas ke di dinding ruangan dimana Luhan sedang terbaring. Sementara Zack dan Indri berjaga diluar untuk mengawasi keadaan saat keduanya berada di dalam.
"Ayahmu hanya salah satu dari klien yang di miliki bosku." Ucap Lukas menangkup tangan Salwa yang mencengkram leher kemejanya.
Dia berbohong. Tapi Aku harus menahan amarahku karna kalau tidak! Pria ini bisa saja pergi dan semua kebohongan akan kondisi Luhan akan di ketahui publik. Batin Salwa dengan tangan yang perlahan melepas cengkraman dari kerah Lukas.
"Kamu yakin Ayahku hanya seorang klien?" Tanya Salwa berbalik badan membelakangi Lukas.
"Ya." Sahut Lukas merapikan bajunya. "Aku mengalami kecelakaan saat akan mengantar pesanan untuknya." Sambungnya membohongi Salwa. "Mungkin dia datang kesini karna mendengar berita di televisi." Tambahnya.
"Lalu bagaimana kamu menjelaskan padaku mengenai kartu aksen yang dimiliki Ayahku?" Tanya Salwa berbalik badan kembali menatap Lukas.
"Heh!" Cibir Lukas. "Bukankah kamu yang memberikannya?" Tuduh Lukas balik menyudutkan Salwa. "Kamu putrinya." Menunjuk-nunjuk bahu Salwa dengan telunjuknya. "Sangat mudah bagi Ayahmu mendapatkan kartu akses seperti yang kamu punya." Memojokkan Salwa yang kian mundur ke belakang. "Atau Jangan-jangan sejak awal kamu bekerja sama dengan Ayahmu untuk menangkapku." Jelasnya membuat Salwa terjebak diantara Lukas dan Luhan yang terbaring di ranjang.
Tok tok tok! Suara ketukan pintu dari luar membuat keduanya terjaga.
Klekk! Suara Lukas yang kemudian membukakan pintu.
"Ada apa?" Tanya Salwa pada Zack yang masuk kedalam sementara Indri pergi mengulur waktu dengan menyusul dokter yang akan melakukan pemeriksaan pada Luhan.
"Dokter yang bertanggung jawab pada suami ibu sebentar lagi akan kesini." Menunjukkan jadwal pemeriksaan Luhan pada Salwa. "Kita tak punya banyak waktu lagi." Sambungnya melihat ke Luhan yang terbaring dengan ventilator membantunya bernafas. "Untuk saat ini kondisi masih dalam keadaan stabil." Melihat monitor yang menampilkan grafis kinerja organ tubuh dari detak jantung, kadar oksigen di dalam darah dan tekanan darah. "Bu Salwa dan---" Ucapnya terjeda melihat ke arah Lukas yang sangat mirip dengan Luhan menatap padanya. "---Tuan Lukas." Sambungnya kemudian. "Untuk sementara waktu saya harap tidak muncul di sekitar rumah sakit ini." Pintanya.
"Gak bisa begitu." Tolak Salwa. "Bagaimana jika sesuatu terjadi pada suamiku?" Tanya Salwa tak menerima permintaan Zack untuk melarangnya datang mengunjungi Luhan.
"Percaya padaku Bu!" Bujuk Zack menangkup bahu Salwa. "Saya dan Indri akan mengawasi perkembangan Tuan Luhan. Ini hanya butuh sementara waktu. Saya tak mau karna kemunculan ibu disini membuat publik curiga. Terlebih lagi Ayah---." Ucapnya terjeda. Ia tak ingin menyinggung hubungan Lukas dan Ayah Salwa yang di ketahuinya hari ini.
"---Salwa yang dikatakan dokter ini benar adanya." Sambung Lukas. "Bagaiman jika sewaktu-waktu Raden memergokimu mengunjungi Luhan?" Menatap Zack dan Indri bergantian. "Keberadaanku yang menyamar sebagai Luhan akan terbongkar sebelum Luhan bangun."
"Baiklah." Sahut Salwa menyanggupi. "Tapi kalian harus terus mengabarimu perkembangan Luhan." Pintanya menangkup tangan Zack memohon pada dokter itu.
"Ibu Salwa tak perlu khawatir mengenai itu." Balasnya. "Mulai hari ini aku telah menkonfirmasi akan mulai bekerja kembali disini untuk mempermudah memantau Tuan Luhan." Menenangkan Salwa.
__ADS_1
Klekk! Suara pintu terbuka oleh Indri yang memberi kode agar Lukas dan Salwa segera keluar meninggalkan ruangan.
"Lewat sini Bu." Ucap Indri membawa jalan agar tidak berpapasan dengan dokter yang bertugas. Sementara Zack masuk kebawah kolong ranjang lain untuk mengawasi pemeriksaan.
Tap tap tap! Suara langkah kaki menyusuri koridor yang terhubung ke halaman lain gedung rumah sakit.
"Dari sini Ibu dan Tuan lurus kemudian belok ke kanan. Di depan nanti ada jalan setapak menuju gerbang utama." Jelas Indri pada Salwa dan Lukas.
"Tolong rawat suami saya dengan baik ya?!" Pinta Salwa.
"Pasti Bu!" Balas Indri yang melirik kecil pada Lukas lalu melihat kembali pada Salwa. "
"Apa ada sesuatu yang terjadi saat Pria itu ada di dalam?" Tanya Lukas yang menangkap lirikan aneh dari Indri padanya.
"Eh?!" Sahut Indri kaget.
"Kamu seperti menyembunyikan sesuatu." Ucap Lukas. "Katakan apa yang pria itu lakukan?" Tanya Lukas.
Jadi, email tadi isiinya foto Luhan. Aku bahkan masih kaget dari mana Pria itu memiliki email Fero. Batinnya.
"Apa namanya?" Tanya Salwa membuat Lukas terjaga dari pikirannya.
"Fe-Feroo---" Jawab Indri terjeda untuk mencoba mengingat kembali apa yang ia dengar sebelumnya.
"---Fero?" Sahut Salwa.
"Ferozkan!" Sambung Indri. "Ya! Ferozkan. Aku mendengar pria itu menyebut nama Ferozkan." Jelasnya membuat Salwa terjaga sepanjang jalan. Ia mengulang-ulangi menyebut nama Ferozkan sambil memutar roda kemudi di tangannya.
"Apa kamu mengenalnya?" Tanya Lukas.
"Eh?!" Sahut Salwa terjaga dari pikirannya.
"Kamu cukup terganggu dengan nama itu sejak perawat itu mengatakannya padamu." Ucap Lukas melihat pada Salwa. "Apa kamu mengenal pemilik nama itu?" Tanyanya kembali.
__ADS_1
"Enggak." Jawabnya mencengkram kuat roda kemudi. "Aku tidak mengenalnya." Menaikkan kecepatan dengan menginjak pedal gas dibawah kakinya.
"Apa dia mantan kekasihmu?" Tanya Lukas terus menatap kemarahan dan kebencian di mata Salwa. Ekspresi wajah Salwa yang memiliki pesona tersendiri bagi Lukas untuk terus memandangnya. "Salwa turunkan kecepatanmu." Menatap Salwa penuh perasaan. "Kamu hanya akan membuatku berakhir seperti Luhan." Menyadarkan tubuhnya menatap Salwa yang tak mempedulikan peringatan darinya. "Salwa, apa Ferozkan mencampakkanmu?" Tanya Lukas yang kini berbalik menoleh ke jendela membelakangi Salwa. "Kenapa kamu begitu sen---" Ucapnya terjeda. Lukas berbalik menoleh Salwa yang menyalip mobil-mobil didepannya dengan kecepatan tinggi.
Gak mungkin! Batin Lukas menatap Salwa sambil mengingat bahwa wanita itu berasal dari panti asuhan.
Mereka juga tidak terlihat mirip satu sama lain. Batin Lukas yang kemudian menggelengkan kepalanya menghilangkan prasangka di otaknya mengenai hubungan Salwa dan Fero.
Brakkk! Suara Salwa menabrakkan mobilnya membuka gerbang kediaman Kardinata yang berhasil mengagetkan pengawal disana. Ia kemudian memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil tanpa perasaan bersalah.
"Lagi PMS." Ucap Lukas pada pengawal saat akan menyusul Salwa kedalam rumah.
"Luhan!" Panggil Rose sesaat dirinya tiba di dalam.
"Ya Mah." Sahut Lukas.
"Apa kalian habis berantam?" Tanya Rose yang tampak tak mempermasalahkan ledakan amarah Salwa. "Kamu seharusnya menikahi Salma bukan wanita yang tak jelas asal usulnya itu." Melihat ke pintu kamar Luhan yang sebelumnya dibanting Salwa saat menutupnya.
"Mama kan juga tahu sendiri kalau Salma menolak putramu tampan ini." Sahut Lukas.
"Andai kamu lebih sabar sedikit waktu itu mungkin Salma akan menjadi istrimu." Ucap Rose mengingatkan.
"Dahlah mah yang lalu biarlah berlalu." Balasnya. "Luhan ke dalam ya." Meneruskan langkahnya menyusul Salwa ke kamar.
Fyuhh! Suara Lukas menghela nafas mendapati Salwa telungkup diatas ranjang dengan suara tangisan dari balik bantal yang menyembunyikan wajahnya.
"Kenapa wanita cengeng sepertimu menjadi seorang Intel?" Tegur Lukas melangkah ke ranjang sambil melepas jasnya. "Jika terus menangis kedua matamu akan bengkak." Naik keranjang dengan tubuh bersandar di kepala ranjang. "Kamu hanya akan membuat Salma bersukacita melihat kondisi itu nanti malam." Melipat kedua tangannya ke balik kepala. "Aku tak ingin mengatakannya tapi semua pria memang brengsek!" Umpatnya.
"Apa kamu juga termasuk?" Tanya Salwa mengangkat Wajahnya yang berlinang air mata dari atas bantal.
"Ya." Jawab Lukas memiringkan tubuhnya ke arah Salwa. "Jadi, berhati-hatilah mulai dari sekarang." Menyikap air mata di wajah Salwa dengan jarinya. "Aku gak selalu ada untuk menyikap air mata yang jatuh di pipi ini."
🍁🍁🍁
__ADS_1