
🍁🍁🍁
Srak srak srak! Suara Lukas menepis rimbunan tanaman dan menerobos beberapa tanaman yang menjulang hampir melampui tinggi tubuhnya. Ia mencari pintu dari dinding kawat yang membatasi ruang halaman.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya Salwa yang mencari pintu menembus dinding kawat yang membatasi keberadaan mereka.
Brakk! Suara Lukas mendobrak pintu besi membuat Salwa menoleh dengan mata melebar.
"Apa yang ter---" Ucap Salwa terjeda melihat jalan selebar 1 meter di antara pohon yang menjulang tinggi di balik pintu yang di hancurkan Lukas.
"---Ayo kita tak punya banyak waktu!" Sambung Lukas menarik Salwa melewati pintu yang kembali ditutup sebelum sekelompok pengawal mendengar dobrakan pintu.
Keduanya berlari di atas jalan yang tertutup oleh daun-daun kering dibawah pepohonan menjulang tinggi keatas. Di waktu bersamaan Salma mengikuti mobil Raden yang melaju di antara dua mobil dari keberadaannya.
"Eh?" Mengernyit alisnya melihat mobil Raden berbelok ke arah Hotel secret. "Mungkinkah ada seorang yang ingin Ayah temui." Sambung Salma masuk lewat jalur basemant Hotel.
Bam! Suara Salma menutup pintu mobilnya setelah beberapa menit sampai di basemant. Ia melangkah panjang sambil melihat sekitar saat menggapai pintu yang membawanya terhubung pada kasino Raden.
"Hai Salma!" Sapa pria kenalannya memberikan five menyambut kedatangannya . Salwa membalas dengan senyuman sambil diam-diam melirik keberadaan Raden yang datang dari pintu utama bersama pengawal dibelakangnya. "Mau kemana?" Tahan pria dan wanita yang ada disana pada Salma.
"Kalian main aja." Jawabnya. "Aku ada urusan sebentar." Sambungnya meninggalkan rekannya dan pergi menyusul Raden yang berjalan ke ruangan lain dengan membelakanginya. Pria itu menghubungi Salwa yang baru saja tiba di depan sebuah rumah kayu klasik sejauh 20 meter dari titik awal mereka berlari.
"Hah-hah-hah!" Nafas Salwa terengah-engah dengan tangan menopang ke dinding.
Kringgg kringggg! Suara ponselnya berdering membuatnya merongoh sakunya dan melihat panggilan masuk dari Raden.
"Siapa?" Tanya Lukas yang dibalas oleh Salwa dengan menunjukkan layar ponselnya. "Kamu mau jawab?" Sambungnya yang mendapat balasan gelengan kepala dari Salwa. "Oke." Ucap Lukas menyanggupi yang kemudian menendang pintu rumah kosong hingga terbuka membuat Wulan terjaga.
"Bunda!" Teriak Salwa berlari melihat Wulan yang perlahan membuka matanya dengan tubuh yang masih terikat di kursi. "Bunda apa yang terjadi?" Tanya Salwa melihat kondisi tubuh Wulan dengan belasan cambukan yang pernah di layangkan Raden padannya.
"Ke-kenapa ka-kamu ke-kesini?" Balas Wulan dengan terbata-bata.
__ADS_1
"Salwa kita tak punya banyak waktu." Sahut Lukas menyusul membantu Wulan melepaskan tali yang mengikat tubuhnya pada kursi. "Kita harus segera membawanya dari sini sebelum para pengawal menyadari keberadaan kita." Sambungnya.
"Bagaimana cara kita membawa Bunda tanpa harus melewati pengawal?" Tanya Salwa memeluk Wulan yang tak berdaya.
"Aku yakin pasti ada jalan pintas disekitar sini." Melepas lilitan tali sambil melihat sekitar ruang kosong. "Ayo!" Membantu Salwa memapah Wulan keluar dari rumah kosong.
Keduannya kemudian mendudukkan Wulan sebentar dan mencari jalan pintas di sekitar hutan selain jalan menuju rumah Prakas.
"Sini!" Ucap Lukas. "Biar aku yang gendong." Mengangkat Wulan. "Kamu yang bawa jalan." Perintah Lukas pada Salwa yang memandu perjalanan mereka menelusuri jalan kecil yang ditutupi daun-daun kering. Satu jam berlalu ketika hari mulai gelap ketiganya tiba di jalan besar dengan suara kendaraan lalu lalang.
Fyuhhh! Suara Salwa menghela nafas lega menoleh pada Wulan yang tertidur di atas punggung Lukas.
"Cepat panggilkan taksi!" Perintah Lukas pada Salwa yang kemudian berbalik sambil melambaikan tangannya menghentikan taksi.
Sementara di tempat lain Salma terjebak dalam sebuah ruangan saat membuntuti Raden dari belakang. Pria itu menyadari Salma sebelumnya yang hendak menguping pembicaraannya pada panggilan yang tak mendapat jawaban dari Salwa.
Brakk! Brakk! Brakk! Suara Salma menggedor-gedor pintu dari dalam ruangan sambil meminta seorang untuk membukakan pintu untuknya. Namun sudah satu jam berlalu tak ada orang yang mendengar dan datang menolongnya.
Brooom! Suara mobil Raden memasuki halaman disambut oleh semua pengawal yang masih stay berjaga didepan mengikuti perintah Lukas.
"Kenapa semua berjaga disini?" Tegur Raden keluar dari mobilnya. "Bukankah Aku mengatakan untuk mengawasi di dalam!" Sambungnya terus melangkah menuju pintu yang di bukakan untuknya.
"Maaf Bos, sore tadi kami mendapat laporan bahwasanya Bos meminta semuanya untuk berjaga di----"
---Plakkk! Tamparan Raden melayang memotong laporan pimpinan grup membuat semua pengawal membatu.
"Apa yang kalian lakukan?" Tegur Raden melihat semua pengawal disana. "Apa kalian belum juga mengerti?!!!" Teriak Raden dengan wajahn geram. "Cepat periksa keberadaan Wulan!!!" Teriak Raden kembali dengan menendang betis pimpinan pengawal di hadapannya.
Brukk! Suara pengawal jatuh berlutut di susul oleh seluruh pengawal bergerak menuju rumah kosong tempat Wulan disekap.
Tap tap tap tap! Suara lari kaki melewati jalan yang membawa Lukas dan Salwa sebelumnya menemui keberadaan Wulan di tengah hutan.
__ADS_1
"Darimana kamu mendapat laporan itu?" Tanya Raden mengahadang pistol pada kepala pengawal yang masih berlutut di hadapannya.
"Salah satu pengawal yang berjaga Bos." Jawab Pengawal tersebut membuat Raden menoleh ke halaman dan melihat sebuah mobil asing terparkir disana.
"CK!" Decak Raden. "Apa ada yang datang saat aku pergi?" Tanya Raden menekan bibir pistolnya.
"Ka-Kami ti----"
----Dor! Potong Raden dengan menembakkan kepala pengawal.
Brukk! Tubuh jatuh tersungkur di depan pintu dengan darah mengalir dari kepala. Raden menuruni anak tangga ke halaman menyusul keberadaan mobil yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Salwa, Heh!" Cibir Raden melayangkan sikunya memecah kaca mobil.
Pranggg!
"Hanya anak itu yang punya keberanian melawanku disini!" Ucapnya membuka dasboard berisi borgol dan alat setrum di dalam. "Aaarghh!" Teriak Raden bersamaan memecahkan kaca mobil lain dengan borgol yang kini berada di tangannya.
Prangg!
Pranggg!
"Salwa!" Ucapnya geram berbalik badan sambil merongoh ponsel di sakunya. "Aku akan membunuhmu dengan tangannya sendiri!" Membuat panggilan pada Bams yang baru saja turun dari kapal bersama anak buahnya.
"Aish!" Keluh Bams melihat ponselnya mati kehabisan daya saat akan menghubungi Ronal. "Hei,Kemari ponselmu!" Pintanya pada anak buahnya yang juga bernasib sama dengannya. "CK!" Decak Bams sambil melangkah diikuti oleh anak buahnya dari belakang menuju gedung kontruksi tempat Ia,Alex,Lukas dan anak gangster lainnya dulu.
"Ada apa Bos?" Tegur salah satu anak buahnya pada Bams yang mematung menatap gedung yang kini terbungkus oleh tumbuhan rambat.
"Gak ada apa----" Ucapnya terjeda melihat Ronal keluar dari gedung sambil menepis tumbuhan rambat. "---Apa yang sedang dia lakukan disana?" Sambungnya mengeryitkan keningnya mengamati Ronal yang tampak sedang mencari sesuatu dia sekitar gedung.
🍁🍁🍁
__ADS_1