
''Sayang.'' Cegah Arsen, menggenggam erat tangan sang istri yang sudah setengah berdiri dari tempat duduk nya.
''Mas, aku hanya ingin bertanya dengan bapak polisi nya saja. '' Ucap Eva.
Arsen mengerutkan kening beberapa waktu, sebelum dia ikut berdiri dari duduk nya. ''Emang nya kamu mau bertanya apa dengan bapak polisi itu, sayang.?'' Tanya Arsen yang semakin penasaran, sesekali melirik ke arah dua polisi itu berada.
Arsen yang gak mau menerka-nerka, yang belum tentu benar. Membuat Dia langsung bertanya dengan sang istri tercinta itu.
Bukan nya menjawab pertanyaan dari sang suami. Melainkan Eva bergerak melepaskan jemari sang suami nya yang menggenggam erat tangan nya. ''Mas Arsen, tunggu di sini sebentar, ya. !''
''Tapi____''
Cup, Eva mengecup bibir Arsen di depan semua orang yang berada di ruang tamu, Membuat Arsen diam membeku sekaligus malu tak lupa di kedua pipi nya terasa panas. Dengan cepat Arsen berdehem untuk mengurangi rasa malu nya sesaat.
Ehkem, Arsen melirik sebentar di sekitar dia berdiri, dan, benar saja tebakan nya Arsen. Kalau semua orang sedang berpura-pura memalingkan wajah nya ke arah lain.
Hah, Arsen menghela nafas panjang dengan menatap sang istri dalam-dalam.
Semenjak istri nya di nyatakan hamil, istri nya itu lebih agresif terhadap diri nya, tanpa memandang tempat sekalipun. Contoh nya barusan, tak segan-segan istri nya itu mengecup bibir nya di depan semua orang. Untung hari ini hanya sebuah kecupan, biasanya sebuah ciuman sampai beberapa detik.
''Hanya sebentar Mas.'' Ulang Eva menyakinkan suami nya itu, tak memperdulikan sang suami nya itu sedang menahan malu karena ulah nya barusan. Toh, dia melakukan hal itu dengan suami nya sendiri tidak dengan laki-laki lain, pikir Eva santai.
Semua orang yang berada di ruang tamu di buat tertegun sekaligus terkejut. Apa yang di lakukan oleh Eva,? Yang sebelum nya belum pernah mereka melihat Eva melakukan hal itu selama dia menikah, apa lagi di depan orang banyak seperti ini. ?
__ADS_1
Dan baru kali ini, mereka semua melihat interaksi pasangan suami istri itu langsung di depan mata nya.
Arsen mengangguk pasrah, dari pada sang istri nya itu bikin ulah lagi.
''Terima kasih, mas. ''
Cup
''Astaga. '' Batin Arsen memijat pelipis nya sesaat.
Gerakan langkah kaki Eva di perhatikan oleh semua anggota keluarga nya. Sampai akhir pergerakan kaki Eva berhenti di depan Vio berdiri sekaligus dua polisi yang masih setia di tempat nya.
''Ada apa lagi. ?'' Tanya Vio lelah, yang sejak dari tadi dia belum sama sekali duduk. Dan kini ke dua kaki nya sudah terasa pegal-pegal.
''Lalu. '' Vio mengerutkan kening nya beberapa waktu seraya menunggu jawaban dari Eva selanjut nya. Sambil menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut sepupu nya itu, kedua mata Vio jatuh pada perut Eva yang sudah terlihat membuncit.
''Sudah berapa bulan.?''
Eva mengikuti arah pandang Vio yang ternyata jatuh pada perut nya. Bergerak dengan lembut, tangan Eva mengusap-usap bagian atas perut nya. ''Oh ini, hampir Lima bulan. '' Jawab Eva senang.
''Jika calon anak ku masih ada, mungkin hanya berjarak sekitar satu bulan dari usia calon anak mu.'' Ucap Vio sendu.
''Maaf, aku sudah berbuat jahat kepada mu Eva. Dan sekarang aku sadar, sesuatu yang di paksakan tidak akan berbuah baik, hiks, hiks.''
__ADS_1
''Sudah lah, aku sudah memaafkan kamu, meski masih membekas di dalam sini. '' Tunjuk Eva di bagian dada nya tepat di hati.
''Iya, aku tau. ''
''Oh iya aku lupa, aku tadi mau bertanya dengan bapak polisi nya. ''
''Mau Tanya apa. ?'' Mengusap lembut pipi nya.
''Kalau di dalam penjara, ada gak sih perawatan khusus tahanan yang sedang sakit.?''
Semua orang mendengar pertanyaan Eva, menghela nafas panjang bersamaan.
''Eva sayang, di dalam penjara pun pasti nya ada perawatan bagi yang sedang sakit. Jadi, kamu tidak perlu khawatir soal itu. '' Jawab Mama Rosa, sambil mendekati sang putri nya berdiri.
''Begitu nya Ma.? ''
Mama Rosa mengangguk cepat. ''Iya dong sayang.''
''Sekarang aku lega, Eva tadi hanya takut Ma, kesehatan Vio kan masih lemah belum sehat betul, Eva takut nanti kesehatan Vio semakin parah di dalam penjara nanti nya.'' Jujur Eva.
''Kalau begitu kami permisi dulu, '' Ucap Bapak polisi yang berpamitan lagi.
''Tunggu sebentar Pak, biar surat ini di tanda tangani dulu.'' Ucap Juan, sambil menyodorkan surat perceraian dari pengadilan agama beberapa hari yang lalu.
__ADS_1